143. Kemana?

102 2 0
                                        

Detak diiringi langkah setiap detik. Kala itu pun berdesir sudah jantung ini tak biasanya. Aku menerka bahwa ia hanya terlampau letih.

Nyatanya, sirna raga.
Petang kala itu senyumku terenggut.
Lututku terkulai lemah seraya isak terus meningkat.
Lantas menitikkan kristal bening dalam tangkupan kedua tangan.

Kemana mereka yang meninggalkan janjinya? Menghilang terbawa kabut? Atau tertanam di tanah karena terbidik anak panah? Atau nyawanya melayang tertarik layang-layang?

My Life NotesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang