Part 2: Saya Rama (Rama POV)

87 10 1
                                        

Nama gua Rama Neyorka. Gak suka banyak omong karena lebih baik belajar daripada apapun. Dari kecil kerjaan gua cuma belajar, les privat, les biola, les piano, dan sederetan les lainnya yang absolutely membosankan. Karena itu gua jarang menikmati hidup dari dulu sampai sekarang.

SD, SMP, sampai SMA ini kehidupan sekolah gua ya gitu-gitu aja. Belajar, ranking, beasiswa, dan begitu seterusnya. Kalau boleh sombong, sebenarnya gua ini ganteng, tubuh ideal dengan abs kotak-kotak yang kalo aja cewek-cewek tau bisa jerit-jerit histeris. Tapi, gua malah dibilang homo sama dua sahabat gua sendiri. Sial!

"Ndra, gimana sih caranya biar banyak yang suka? Pengen rasanya punya fans banyak terus–" belum sempat Andri menyelesaikan ucapannya, Andra langsung menyela.

"Udah gua bilang, Ndri, ikut basket aja. Pasti banyak yang suka sama lo! Haha, kayak gua nih," ucap Andra sambil memukul meja dengan sombong memamerkan ekskul basketnya.

"Apaan sih, Ndra. Kalo jiwa lo olahraga ya biarin jiwa gua berorganisasi!"

"Yee lu dibilangin abang malah ngeyel! Blablabla."

"Blablabla."

"..."

Seperti biasa, gua hanya dengerin mereka ngomong tanpa ikut bicara sedikitpun. Sebenarnya males denger mereka berdua berdebat hal useless kayak gitu, bikin kuping panas doang. Tapi apadaya, cuma mereka teman dekat gua di SMA ini. Ya maklum aja, kita baru masuk SMA jadi malas untuk cari teman lain.

"Ah, kambing kembar lu berdua! Berisik!" Komentar yang cukup untuk membereskan debat gak guna mereka. Tapi Andra tiba-tiba senyum aneh yang gak bisa gua artikan.

"Ram, lu gak mau cari pacar disini?" Kambing! Seperti biasa Andra, playboy cap udang.

"Ha? Haha, gak guna."

"Mampus lu, Ndra! Udah tau si Rama kayak homo gak suka sama siapa-siapa. Hahaha."

"Ya nggak gitu juga lah, Ndri. Santai aja kali masalah kayak ginian. Udah ah, gua mau bayar baksonya dulu. Sekalian sini duit lu pada."

Obrolan gak berfaedah itu langsung gua tutup. Bosan banget dengerinnya. Setelah bayar bakso, gua langsung balik ke kelas tanpa dua kembar sialan itu. Tapi tiba-tiba pertanyaan Andra tadi kembali terputar di otak gua.

"Cinta? Apa itu cinta? Apa semacam donat basi sedikit yang ujungnya cuma bikin sakit?"

Pikiran gua tiba-tiba teringat pada satu orang. Cewek di angkatan yang cukup pintar kelihatannya, cantik pula. Tapi kayaknya gua cuma kagum.

Menurut gua, hidup gua harus berjalan biasa aja seperti yang sudah direncanakan. Belajar, ranking, beasiswa, dan seterusnya seperti itu. Pacaran? That's not on my mind.

ToscaStories to obsess over. Discover now