Lima: Masa Lalu

54 4 4
                                        

Lily's Memories

Lily sekarang berdiri menatap bayangannya didepan kaca dengan puas. Dirinya sudah di dandan dengan sangat baik oleh sahabatnya Anastasya, karena tak ada lagi yang bisa dia mintai bantuan dalam hal coret mencoret wajah selain sahabatnya itu. Mengingat dengan meminta bantuan Sheila sama saja dia merelakan wajahnya di jadikan badut.

"Aduh," Omel Anastasya ketika melihat Lily menggaruk wajahnya, "lo jangan ngerusak mahakarya gue dong!"

"Biasa aja kali," dengus Lily, "lagian gue cuma ngegaruk muka yang gatal, lo pikir gue bisa nahan, gitu?"

"Tapi mestinya lo ngegaruknya pake hati, Li." Omelnya lagi, "Bagus juga gue mau make up-in lo, terima kasih kek."

"Ya deh, maaf, makasih Anastasyaku, yang ku sayangi." Ucap Lily lebay.

"Terima kasih doang?" Anastasya menggeleng-gelengkan kepalanya tak senang, "Teraktirannya dong, makan di tempat enak pokoknya titik."

"Nanti gue beliin kue cubit deh, goceng." Jawab Lily.

"Kok kue cubit doang?" Tanya Anastasya tak terima.

"Kan yang penting enak, lo nggak bilang harus mahal kok." Jawab Lily nyolot sambil mengeluarkan lidahnya meledek Anastasya.

"Ya, sudah. Hapus aja nih make up," Ucap Anastasya hendak mengacak-ngacak wajah Lily yang di tangkis dengan cepat oleh Lily.

Lily langsung saja berseru, "Oke,oke, plus McFlurry!" dia berteriak diikuti dengan senyum penuh kemenangan milik Anastasya.

Akhirnya mereka berdua keluar dan mendapati Jason sudah menunggu di ruang tamu bersama Sheila yang terlihat sedang menahan tawanya.

Saat melihat Lily, Jason langsung saja tersenyum kegirangan, "Nah, yang ini baru pacar gue." Ucapnya dengan senyuman yang lebar

"Maksud lo apaan?" Tanya Anastasya.

"Tadi gue kira yang Lily itu, nih anak tengil satu." Sambil menunjuk sebal ke Sheila sedangkan Sheila hanya terseyum geli dibuatnya.

"Lumayanlah, bikin pacar lo panikkan," Cetusnya senang, "Dia hampir aja pulang karena gue ngaku jadi lo, tau, nggak?"

"Kenapa pake pulang segala, huh?" Tanya Anastasya lagi.

"Itu loh, si Sheila cuma make baju biasa, jadi gue kira Lily lupa sama janji dia," Jelas Jason, "Tapi ternyata gue kena tipu doang."

"Ya ampun, kalau gitu tadi gue hampir di tinggalin nih?" Ujar Lily sambil tertawa.

"Almost Li, but almost is never enough," Ucap Jason, "Ya udah, kita berangkat."

Lily dan Jason Akhirnya pergi meninggalkan kedua cewek ini hanya berdua menuju kepekarangan dimana mobil Jason berada yang sejak tadi memang sudah terparkir disini. Jason langsung saja membukakan pintu mobilnya untuk Lily dengan gaya yang dilebih-lebihkan bak seorang pelayan yang memeprsilahkan seorang putri untuk masuk ke kereta kencananya.

Lily hanya tersenyum geli sambil meninju pelan lengan kokoh milik Jason lalu masuk kedalam mobil. Setelah Lily masuk, Jason langsung saja bergegas menuju ke tempat duduk pengemudi dan memasang sabuk pengaman lalu menancapkan gasnya dengan kecepatan sedang, keluar dari pekarangan rumah Lily.

Masih banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Lily, mengenai dalam rangka apakah semua ini? Kemana mereka akan pergi atau apa yang sebenarnya terjadi?

Sementara Jason hanya diam dengan senyum yang tersungging penuh kehangatan dan juga misteri. Meski di tanya pun Jason pasti tidak akan mengatakannya. Lily melihat mereka melewati perbatasan kota, jadi Lily memutuskan untuk tidur sejenak karena kelihatannya ini akan memakan perjalanan yang cukup panjang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 12, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Long Time AgoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang