Esok Hari
Vino dan Venzo melakukan kegiatan mereka seperti biasa. Sepulang dari kuliahnya, mereka ke tempat kafe yang biasanya mereka tempati.
"Ven, lu ke kafenya sendirian aja bisa kagak ?"tanya Vino tiba-tiba. Venzo menatap Vino bingung.
"Lah ? Lo gak mau nemenin gue ke kafe ? Lo mau ninggalin gue sendirian Vin ? Sumpah lo jahat banget,"ucap Venzo yang berakhiran dramatisir.
Vino memutarkan kedua bola matanya. "Gak usah lebay anjir. Gue cuman mau ke perpus doang,"ucap Vino.
Venzo berdecak. "Ck. Awas aja kalo ketemu sama Zoe gue langsung tembak,"ucap Venzo.
"Namanya bukan Zoe, tapi Vina. Awas aja kalo lo sampe nembak ! Gak gue akuin lo sebagai saudara gue lagi,"ucap Vino mengancam.
"Loh ? Kok gitu ?! Kan kata lu kemarin kita harus bertarung secara sehat. Berarti gue bisa dong nembak,"ucap Venzo tidak terima.
"Heh ! Itu mah sama aja, lu nyuri start ama finish pea. Gue belum ngapa-ngapain udah kalah duluan. Yang bener aja lu,"ucap Vino sinis dan melototi Venzo.
Venzo terkekeh. "Ya udah, tenang aja gue gak bakal nyuri start,"ucap Venzo.
"Bagus. Ya udah gue ke perpus dulu." Vino pun meninggalkan Venzo, dan Venzo pun sendirian menuju ke kafe biasa.
****
"Dimana yah novel The Da VincI Code ? Ck, susah amat sih nyarinya,"gerutu Vino sembari menelusuri setiap bagian inci perpustakaan.
Hingga ketika dirinya melihat seorang perempuan di bilik yang berisi buku-buku fiksi itu sedang berusaha mengambil sebuah buku yang paling tinggi. Vino hanya melihat dari kejauhan dan berusaha menahan tawanya mendapati perempuan itu menggerutu sembari melompat, sesekali perempuan itu berhenti melompat dan membetulkan kacamatanya.
"Ish, bukunya kenapa tinggi banget sih ? Ini gue yang kependekan atau raknya yang ketinggian ? Ck,"gerutu perempuan itu.
Vino pun akhirnya membantu perempuan itu.
"Sini gue bantuin,"ucap Vino menawarkan bantuan. Perempuan itu melotot, dan berubah menjadi datar.
"Kok diem sih Vin ? Mau gue bantuin nggak ?"tanya Vino heran. Perempuan itu yang dipanggil Vin atau Vina itu hanya diam, tidak mengeluarkan suara.
"Lo bisu ?"tanya Vino sekali lagi.
"Gak butuh bantuan lo,"jutek Vina mendorong dada Vino, namun sia-sia.
Vino menatap Vina heran. "Vin, kok lu tadi malem bisa bikin gue babak belur. Tapi, kok pas ngedorong gue, lu gak ada tenaganya ? Lu lagi sakit ?"tanya Vino khawatir dan tangan kanannya pun hinggap didahi Vina yang langsung ditepis oleh Vina.
"Gak usah perhatian, bisa ?"tanya Vina dengan nada jutek. Vino terkekeh.
"Gak bisa kalo sama lo mah. Udah ah, kalo kita ngobrol begini yang ada gak bakal selesai-selesai. Jadi, buku yang mana yang lo pengen ?"tanya Vino.
"Gue gak perlu bantuan lo !"ucap Vina dengan tegas, Venzo menaikkan sebelah alisnya.
"Ya udah kalo gitu. Silahkan ambil sendiri,"ucap Vino. Namun, ia tidak pergi melainkan melihat Vina dengan intens.
Vina langsung berfokus pada buku yang berada paling atas, ia pun meloncat-loncat sesekali membetulkan letak kacamatanya. Vino pun inisiatif mengambil kacamata Vina.
Vina melebarkan matanya dan berdecak tidak suka. "Kembaliin,"ucap Vina dengan nada peringatan.
"Gue mau bantuin lo. Gue liat kacamata lo ngeganggu lo, mangkannya gue inisiatif buat ngambil. Salah ?" Vina mendengus, ia pun mengalihkan tatapannya dan langsung kembali fokus.

KAMU SEDANG MEMBACA
NANOZOVE
Teen FictionSiapa yang tidak kenal dengan Double V ? Vino dan Venzo. Kembar yang tak sama. Mereka dulu sangatlah akur, hingga karena permasalahan cinta menghancurkan segalanya membuat mereka berdua terpaksa berjanji untuk tidak saling kenal ketika masuk SMA. Na...