Gemma dan Dylan memakan dalam keadaan hening. Tak ada yang bersuara.
Tapi, bukan keheningan yang mencekam, melainkan keheningan yang secara diam-diam dapat menyalurkan rasa hangat.
"Gem?"
"Iya?"
"Selama ini, lo kemana?" Bukan main terkejutnya Gemma begitu ditanya seperti itu, ia sampai tersedak lalu batuk. Nasi dengan lauk yang tadi dikunyahnya terasa menyakitkan. Sangat perih. Padahal makanannya tak ada yang pedas, sama sekali.
"Gue keilangan lo. Gue nungguin line dari lo, gue nyariin lo di sekolah, tapi lo kayak bener-bener gaada. Gue putus asa."
Sungguh, Gemma sama sekali tak menyangka kalau Dylan adalah sosok yang langsung ke intinya.
"Wah, lo jujur banget. Sumpah." Gemma hanya tak menduga kalau Dylan seperti ini.
"Gue putus asa. Gue bener-bener ngerasa kehilangan. Tapi ... gue gak tau perasaan gue sendiri kek gimana. Gue ... bingung."
Menghela nafas dalam, Gemma kembali merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia masih berharap yang jelas-jelas tak pasti?
"Perasaan lo, masih sama gue kan?" Gemma menganggukan kepalanya. Bolehkan ia berharap sekali lagi? Bolehkan ia berusaha sekali lagi? Bolehkan ia memperlihatkan seluruhnya, kali ini?
Disingkirkannya rasa malunya, egonya, bahkan kecewanya. Ia hanya mau berusaha secara total, Gemma tak mau setengah-setengah lagi. "Lo masih bingung? Gue boleh usaha sekali lagi?"
Kalau memang iya, Gemma akan berusaha mendapatkannya. Dan kalau tidak, Gemma akan berusaha mengikhlaskan.
"Usaha?" Dylan mengerutkan keningnya.
"Gue mau minta lima belas detik, eh ... sepuluh detik, buat natap mata lo. Boleh?"
"Sepuluh detik? Natap mata gue? Boleh. Kenapa?" Dylan menatap Gemma bingung. Clueless banget emang ni orang.
Satu detik ....
Detak jantung Gemma kembali menggila, begitu mata mereka bertemu.
Tiga detik ....
Mata itu masih bertemu dengannya. Ia nyaman menatap mata itu. Darah di tubuhnya berdesir hebat.
Lima detik ....
Senyumnya merekah dengan perlahan. Kini, Gemma hanya bisa melihat bayangannya sendiri di mata Dylan, layaknya sebuah cermin.
Tujuh detik ....
Gue sayang sama lo, Kak. Gemma kembali menyatakan perasaannya, sedang bibirnya masih membentuk senyuman. Ia menyalurkan seluruh perasaannya lewat pandangan matanya.
Gemma percaya, kalau mata adalah refleksi hati. Karena mata tak akan pernah bisa berbohong, walau sekecil apapun.
Sepuluh detik ....
"Gem?"
"Iya?"
"Gue juga."
"Eh?"
Dylan menundukan kepalanya, menepuk-nepuk dadanya seraya menghela nafas beberapa kali.
Gemma tak mengerti, ia bingung dengan sikap Dylan yang sebentar-sebentar menghela napasnya, menepuk-nepuk dadanya, menggaruk; kepala belakangnya, pelipisnya, lehernya, pipinya, tengkuknya, bahkan kini Dylan tak menatapnya walau sedetik pun.
Menegakkan dirinya, Dylan menatap tepat di manik mata Gemma, membuat sang empunya salah tingkah, karena ditatap seintens itu.
"Jadi pacar gue ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Saranghae, Dylan!
Teen FictionGimana jadinya kalau seorang perempuan melanggar prinsipnya sendiri yang selama ini ia junjung tinggi? Kan gak ada sejarahnya sel telur ngejar sperma! - Gemma.
