part 5

87 11 55
                                        

Suara gedoran pintu yang lebih terdengar seperti tabuhan bedug membuat Gemma terduduk saat itu juga.

"Dek, bangun!! Udah siang ini, gak sekolah kamu?" teriak mamanya dari luar yang langsung membuat Gemma melirik malas ke arah jam dinding.

06.17.

Saat itu juga, Gemma melebarkan matanya, dan buru-buru bangkit menuju kamar mandi.

Sesadar-sadarnya orang baru bangun, Gemma hampir terjatuh saat keluar dari kamar bila tak ada mamanya yang menopangnya.

Kepalanya mendadak terasa pusing. Nyawanya belum terkumpul dengan sempurna!

"Mama kenapa baru bangunin?" Ditoyornya anak perempuan satunya ini. "Enak aja, mama udah bangunin kamu dari tadi pas subuh, disuruh solat kok susah banget jadi orang."

"Emang iya?"

"Iya! Sana mandi cepetan. Jangan ngerem, udah jam berapa ini."

Dengan terburu-buru Gemma mandi kilat. Bahkan biasanya ia bisa memakan waktu lebih dari tiga puluh menit hanya untuk mandi.

Sekarang, kurang dari tiga puluh menit ia sudah harus ada di sekolahnya. Cobaan apa lagi kali ini?

Ia baru sadar, tadi malam ia mematikan ponselnya dan otomatis alarmnya tak akan hidup yang menyebabkan ia telat bangun.

Gemma melihat jam tangannya.

06.38.

"Ma! Gemma berangkat! Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Hati-hati, jangan ngebut-ngebut."

Sepanjang perjalanan Gemma merutuki dirinya sendiri, kenapa ia bisa sebodoh ini? Mematikan ponselnya hanya karena balasan dari Dylan.

Toh, kenapa juga ia kecewa dengan Dylan? Perasan kan tak ada yang bisa ngatur.

Bel sekolah berdering tepat setelah Gemma memarkirkan motornya, membuat ia menghela napas lega.

Melihat ke sekeliling lapangan yang ternyata sudah ada beberapa kelas yang berbaris, kelasnya salah satunya.

Gemma menghampiri Rafela, Queena, Via, Hanna, serta Aila yang sedang berkumpul entah sedang membicarakan apa. "Tumben telat, Gem."

"Alarm mati." Teman-temannya hanya ber'oh' ria, dan kembali berceloteh.

Mengingat-ingat 'kenangannya' bersama Dylan, bahkan waktu lebih dari tiga bulan tidak cukup untuk mendapatkan hati Dylan.

Kembali, ia seperti melihat layar besar di depan matanya, yang isinya percakapan terakhir dengan Dylan.

Entah ia merasa bersyukur atau kecewa mengetahui hati Dylan yang sesungguhnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Entah ia merasa bersyukur atau kecewa mengetahui hati Dylan yang sesungguhnya.

Bersyukur karena ia tak akan membuat harga dirinya jauh lebih rendah dengan mengejar-ngejar lelaki yang hatinya sudah terisi.

Saranghae, Dylan!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang