.
.
.
Jimin terbangun dari tidurnya. Tenggorokannnya terasa kering. Ia bangkit dan keluar dari kamarnya. Jimin berjalan menuju dapur untuk mengambil air. Hari masih gelap, sekarang masih sekitar jam empat pagi. Jimin hendak kembali ke kamarnya setelah membasahi tenggorokkannya yang kering.
Jimin melihat seseorang tengah berdiri di dekat jendela. Menatap keluar jendela tanpa bergeming sedikit pun. Jimin tau siapa yang tengah menatap jendela itu. Itu Yoongi. Jimin berjalan mendekat kearah Yoongi dan berdiri ikut menatap jendela.
"Kau terbangun, hyung?" tanya Jimin tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ne. Aku tak bisa tidur jika sudah terbangun." Jawab Yoongi, yang terus menatap jendela.
"Aku tau, kau sedang dalam tekanan yang berat karena masalahmu, hyung. Ah, bukan maksudku untuk ikut campur dalam masalahmu. Aku hanya memberikan masukkan saja padamu, hyung. Setiap orang memiliki masalah masing-masing dan itu akan bersifat pribadi. Tapi, setidaknya berbagilah dengan orang terdekatmu. Agar mereka bisa membantumu mengatasi masalahmu." Ucap Jimin. Yoongi perlahan menoleh kearah Jimin.
"Apa.. aku bisa.. bercerita padamu, Jimin-ah?"
Pertanyaan Yoongi membuat Jimin menoleh dan menatap Yoongi. Ia bisa melihat wajah Yoongi yang benar-benar tertekan.
"Aku akan mendengarkannya, hyung. Dan jika aku bisa, aku akan memberikan saran padamu." ucap Jimin dengan tersenyum. Yoongi kembali menatap jendela setelah mendengar perkataan Jimin.
"Sebenarnya, aku dan Jaejung sunbae dulu adalah teman baik ketika kami masih trainee. Pertemanan kami berubah ketika aku mulai debut dan Jaejung sunbae masih di trainee. Kami tak pernah saling menyapa. Seminggu sebelum masalah itu, aku dan Jaejung sunbae sempat berselisih paham karena lagu yang aku buat hampir sama dengan milik Jaejung sunbae."
Jimin terus menatap wajah Yoongi ketika bercerita. Meski ia tak mengalaminya, tapi Jimin yakin bagaimana perasaan Yoongi saat ini.
"Jaejung sunbae memukulku, tapi aku hanya diam saja. Seminggu setelahnya, aku mendengar berita jika Jaejung sunbae masuk rumah sakit karena di pukuli oleh seseorang. Dan keesokan harinya, aku mendapat surat panggilan dari pengadilan atas kasus penganiyayaan Jaejung sunbae."
Yoongi terus menatap jendela. Pandangannya kosong tapi, pikiran Yoongi benar-benar penuh dengan berbagai masalahnya.
"Seorang pengacara datang menemuiku. Katanya, dia diutus untuk menjadi pengacaraku saat di persidangan. Aku mencoba menjelaskan semuanya pada pengacaraku, tapi sepertinya ia sudah bersekongkol dengan Jaejung sunbae. Ia terus memojokkanku untuk mengakui tindakan yang tak pernah aku lakukan sama sekali. Tak ada yang mempercayaiku sama sekali."
Jimin menepuk pelan pundak Yoongi. Mencoba menenangkan namja pucat itu. Jimin tau, Yoongi pasti lelah dengan masalahnya.
"Aku percaya padamu, hyung. Aku juga yakin kalau kau tak melakukannya." Ucap Jimin. Yoongi menoleh kearah Jimin, ketika mendengar perkataan Jimin.
"Hyung harus yakin dengan keyakinan hyung kalau hyung tak melakukannya. Terus optimis menghadapi masalahmu, hyung. Jangan menghidarinya karena itu akan menambah masalahmu, hyung. Apa hyung percaya dengan keajaiban? Aku sangat percaya dengan keajaiban." Ucap Jimin.
"Hal kekanakan seperti itu masih kau percayai?" ejek Yoongi.
"Ne, aku sangat percaya karena aku mengalaminya. Aku mengalami keajaiban itu, hyung."
"Memangnya aku harus mempercayai keajaiban?"
"Setiap orang harus mempercayai keajaiban, hyung. Karena dengan keajaiban, maka hal yang tak mungkin, hal yang tertutupi, akan terungkap secara ajaib. Aku sudah merasakan keajaiban itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Days [END]
FanficBerawal dari sebuah pertemuan yang tal sengaja, mengantarkan Jimin bertemu dengan grup idolnya. Namun siapa sangka jika salah satu membernya memiliki tekanan yang begitu besar. Jimin ingin membantunya sebelum Jimin tak bisa melakukan apapun lagi. "G...
![Three Days [END]](https://img.wattpad.com/cover/118732280-64-k61966.jpg)