Semenjak kedatangan Presiden direktur dirumah mak Jujung malam itu, hari-hari mak Jujung selalu diwarnai dengan kehadiran pria tampan nan kaya tersebut. Hal itu tentu saja membuat Syafei semakin empet melihatnya, dan ketua karang taruna kampung itu-pun mulai membunyikan genderang perang terhadap Jung Yunho pria yang menurutnya tidak lebih tampan darinya.
Kehadiran Jung Yunho yang alasannya selalu dibuat-buat itu membuat Jaejoong menjadi jengah. Sungguh didalam sanubari pemilik dua bola mata indah itu ia tidak akan dan tidak mau lagi berhubungan dengan orang-orang 'berada' yang akan berujung penghinaan terhadap dirinya dan anak-anaknya.
Kalau dulu sewaktu mempertahankan cinta Siwon hanya dirinyalah yang terhina, tapi kini ada 3 malaikat kecilnya, dan ia tak akan membiarkan siapa-pun termasuk keluarga mendiang suami-nya menghina mereka.
Itulah alasan mengapa Jaejoong enggan kembali ke Korea, selain ia sudah tak mempunyai keluarga lagi, keluarga Choi kabarnya selalu mencari keberadaan ia dan anak-anaknya setelah mengetahui Siwon telah meninggal.
*****
Sore itu hujan lebat mengguyur tanah Jakarta dan sekitarnya, aktifitas warga kota padat ini tentu saja banyak mengalami hambatan, apalagi para pengguna jalan raya, terutama pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang memilih meminggirkan kendaraannya kebawah bangunan, berteduh menunggu air langit itu berhenti turun.
Tak berbeda dengan apa yang dialami Jaejoong saat ini, janda bohay nan seksi yang kerap membuat nafas pemuda kampungnya megap-megap itu tak henti mengerucutkan bibir merahnya menatap kucuran air dari langit yang jatuh keatap rumahnya.
Untungnya atap rumahnya baru saja diperbaiki, kalau tidak, pasti ia sudah kerepotan mencari ember untuk menadahi bocoran air hujan yang menetes kedalam rumahnya.
Hhhhh...
Suara helaan nafas beratnya, tak sepatutnya ia tak mensyukuri berkah yang dilimpahkan Tuhan dari langit tersebut. Namun dengan turunnya hujan beberapa pekerjaannya yang jelas-jelas menghasilkan uang baginya harus tertunda, itu artinya mereka sekeluarga harus menahan laparnya sampai besok pagi.
Separah itukah keadaan ekonomi sicantik dengan kulit putih mulus bak air susu yang selalu diminum anak mpok Mimin dan memamerkan gelas kosongnya dihadapan Junsu dan Yoochun yang hanya dapat meneguk ludahnya lantaran setiap pagi emaknya hanya dapat memberikan mereka secangkir teh manis saja, itupun jika mereka tidak kehabisan gula.
Hhhhh...
Kembali terdengar suara desahan dari bibir semerah buah cherry itu. Seharusnya sekarang ia sudah berada dijalan, mengamen dan menjadi Joki 3 in 1, setidaknya saat pulang ia bisa membeli beras dan kebutuhan yang lainnya.
Jika ia mau, mendapatkan uang yang banyak bukanlah hal yang sulit bagi seorang Kim Jaejoong. Bermodal wajah cantiknya dan tubuh menggiurkannya, tak harus menggoda laki-laki, jika saja ia mau mengikuti casting iklan atau sinetron ia pasti diterima, namun hal itu dibuangnya jauh-jauh dari pikirannya lantaran kembali ia memikirkan nasib ketiga malaikat kecilnya. Bagaimana jika mata-mata keluarga Choi mengenali wajahnya dan menyeretnya kembali ke Korea.
Tidak akan, Jaejoong tidak akan pernah melakukannya.
Tok Tok Tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Jaejoong, dipandangnya kedua anaknya Yoochun dan Junsu yang berlomba-lomba berebutan hendak membukakan pintu rumah mereka yang diketuk oleh seseorang itu, Changmin-pun tak tinggal diam berlari menyusul kedua hyung-nya.
Cklek~
Junsu yang lebih dulu memegang handle pintu bergegas menekan benda tersebut hingga pintu terbuka lebar menampilkan sosok yang tak asing dihadapan mereka.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mak Jujung, Saranghae!
FanfictionKim Jaejoong namja cantik yang terdampar di kota kejam Jakarta, dapatkah ia bertahan hidup bersama tiga orang anak yang dikasihinya dengan statusnya sebagai janda karena suaminya yang sudah meninggal dunia. Dapatkah ia bertahan?