Chap 8

437 70 17
                                    


Dua hari dua malam sudah mak Jujung menggalau, meratapi kebodohannya yang menganggap selama ini suaminya Choi Siwon selalu mencintainya, setia kepadanya hingga maut menjemputnya, seorang bermarga Choi yang sangat berpengaruh di Korea rela dibuang keluarganya demi hidup bersama dirinya dan anak-anak mereka.

Yang Jaejoong sesalkan adalah mengapa disaat Siwon telah meninggalkannya justru kebenaran itu baru terkuak, menyiksa batin, sakitnya dirasa hingga sum-sum tulangnya, sungguh pedih.

Selama 2 hari itu pula keadaan keluarga Jaejoong sangatlah morat-marit, tak ada masakan lezat bikinan emak, tak ada yang mencuci pakaian, membersihkan rumah, bahkan sudah 2 hari Changmin tak disusui, kasihan sekali balita itu terus menangis berharap sang umma akan iba melihatnya, namun tangisan hanya dianggap angin lalu saja oleh ummanya.

Kemarahan dan dendam kepada mendiang sang ayah telah menutup mata batin Jaejoong hingga melampiaskan kekesalan kepada ketiga makhluk peninggalan sang suami yang sama sekali tak berdosa, bahkan mereka sedikitpun tak mengetahui apa yang menyebabkan sang umma tiba-tiba mendadak menjadi seperti mpok kunti penghuni TPU Kebon Jeruk yang tak jauh dari kampung mereka dengan lingkar hitam pada matanya yang membengkak karena tak berhenti menangis.

"Hyung, mak kite nape ye? Kok mukenye jadi horor gitu? Aye jadi takut…"

"Hyung kagak tau juge Cu, mo nanye takut, ntar kite dicekek lagi, emak kayak zombie gitu"

"Aye kasian liat si Imin hyung, dari kemaren emak kagak megang die sama sekali, kagak ditetek-in lagi, kalo Imin sakit kan berabe"

"Iye nih, semenjak pulang dari rumah mpok Ichul kemaren emak jadi gini, si Imin malah ditinggal aje disane"

"Aye laper hyung, aye bosen makan mie terus, Imin juge kasian kalo terus dikasih makan mie terus ntar die sakit, hyung bilang emak gih…"

Junsu menarik-narik ujung kaos Yoochun hyung-nya, menyuruh Yoochun untuk menegur emak mereka yang tengah melamun sendiri didalam kamarnya. Meski tak menangis lagi Jaejoong masih tampak berantakan dengan wajah pucat bak mayat hidup, sementara Changmin selalu menempel ditubuhnya, seperti saat ini balita yang terlihat semakin kurus itu tengah tertidur dipangkuan Jaejoong yang sama sekali tak peduli dengan keadaannya.

Sudah 2 hari Jaejoong tak mencari nafkah untuk keluarga kecil mereka, untuk makan sehari-hari Yoochun hanya mampu menghutang mie instan diwarung mpok Rogaya yang untungnya mempercayai bocah 10 tahun yang malang itu.

Selama 2 hari itu juga Yoochun mengambil alih tugas emaknya mengurusi kedua adiknya, bangun jam 4 pagi membuat sarapan dan minuman seadanya, berjualan koran pagi sebelum berangkat sekolah kemudian berjualan koran lagi disore harinya, hasil yang didapat digunakan untuk mengangsur hutang diwarung mpok Rogaya.

Namun tentu saja pekerjaan yang begitu banyak dengan tanggung jawab yang begitu besar tak dapat semua dilakukan Yoochun yang masih berumur 10 tahun, termasuk membujuk emaknya untuk menyusui adik bungsu mereka, entah mengapa emak mereka yang dulunya sangat menyayangi dan memperhatikan mereka mendadak menjadi tidak peduli sama sekali, bahkan adik bungsu mereka yang paling dimanja-pun sama sekali tak disentuh Jaejoong, bahkan Jaejoong tega berkelit dan menepis dengan kasar saat Changmin berusaha menempeli dadanya untuk menyusu.

Saat ini tak ada yang dapat dilakukan YooSuMin kecuali menunggu saat emak mereka kembali 'sehat' seperti sedia kala.

Hingga akhirnya selama 2 hari bertahan untuk tidak meminta bantuan kepada siapa-pun, Yoochun memutuskan untuk mendatangi Heechul dikediamannya, keadaan Imin yang terlihat mengkhawatirkan dan keinginan Junsu untuk makan makanan yang layaklah yang menyebabkan dirinya telah berada didepan pintu tetangga sebelah rumahnya itu.

Mak Jujung, Saranghae!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang