"Well, long time no see...The great Jung Yunho."
"Ahh Heechul hyung, sudah kuduga ternyata Siwon bermarga Choi-lah suami namja malang itu, aku benar-benar tak menyangka...cinta membuat seorang Kim Heechul bisa melakukan apa saja."
"Diam kau Jung, aku bukanlah orang yang seperti kau pikirkan! semua ada alasannya."
Tampak wajah cantik Heechul mengeras, namun ia tetap terlihat berusaha tenang didepan anak-anak Jaejoong yang memandang dua orang dewasa yang berbicara dalam bahasa negara asal mereka dengan tatapan heran, tak mengerti.
"Dan kuharap alasanmu itu tepat, hyung...ini kartu namaku, kau tahu kemana mencari-ku, mungkin kita akan membuat kesepakatan, tidak enak jika pembicaraan kita didengar oleh telinga-telinga polos tak berdosa ini"
Yunho menyerahkan secarik kartu nama ketangan Heechul, tersenyum singkat dan mulai mengayunkan langkahnya menuju pintu keluar rumah Jaejoong.
Wajah tampan Yunho sempat menoleh kearah Junsu dan Yoochun yang masih menampakkan wajah bengong mereka saat melihat perbincangan Yunho dan Heechul dalam bahasa yang kurang mereka pahami, Jaejoong hanya mengajak anak-anaknya dengan bahasa korea umum saja.
Heechul dan Yunho berbincang dalam bahasa Korea tentu saja.
"Yoochun, Junsu, ahjussi pamit dulu, eoh? Sampaikan salam kepada umma kalian, ahjussi tidak dapat menunggunya sampai pulang."
"Ne, tuan" Jawab Yoochun dan Junsu kompak. Lantas hanya pandangan mata mereka yang mengantar kepergian Tuan Presdir tersebut.
*****
Wajah cantik itu tampak menyiratkan kelelahan yang amat sangat saat dirinya baru saja memasuki ruangan sempit rumahnya. Cepat-cepat tubuh mungil yang pulas didalam gendongannya direbahkan diatas karpet tipis diruang tengah yang sudah tersedia bantal dan guling milik sang buah hati.
Matahari sudah condong diufuk barat, cahaya kemerahan dilangit menandakan akan tenggelamnya sang penerang alam disiang hari tersebut, sementara sosok cantik tadi sudah bersiap-siap membersihkan tubuhnya yang lengket bermandi debu jalanan sejak siang menjelang sore tadi.
Jaejoong menyediakan waktu yang tidak terlalu lama untuk turun dijalanan, toh penghasilannya sebagai buruh upah cuci dan gosok pakaian sudah cukup untuk memenuhi tuntutan hidup sederhana bersama anak-anaknya meski tidak setiap hari bisa makan enak.
Jaejoong mencari-cari keberadaan dua anak tertuanya, kakak-kakak Changmin, Yoochun dan Junsu. Namun pemilik wajah ayu itu tak menemukan keberadaan kedua anaknya sama sekali. Tidak terlalu mengkhawatirkan keberadaan kedua anak tertuanya karena biasanya pada jam seperti ini Yoochun dan Junsu sedang bermain di lapangan kampung mereka.
Junsu memang senang sekali bermain sepak bola, jika besar nanti ia bercita-cita akan menjadi seperti seorang Gaston Castano dan memacari Julis Perez yang dadanya mirip dada sang emak. #plak
Lima belas menit sicantik berkulit mulus berbody yahud itu keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk sebatas dada.
Semenjak melahirkan Jaejoong selalu memakai handuk sebatas dada bukan dipinggang layaknya lelaki pada umumnya, akibat keadaan dada-nya yang kian hari kian mengundang syahwat para lelaki sekampungnya, bahkan sudah beberapa kali Jaejoong memergoki Syafei yang nekad memanjat pohon pete dibelakang rumahnya saat ia mandi dengan tujuan mengintip tubuh mulus Jaejoong yang tengah asyik mandi, hanya saja Jaejoong enggan melaporkannya ke ketua RT, biarlah toh mereka juga sama-sama lelaki, paling Syafei akan dicap tidak normal jika ketahuan nantinya.
"Huueee...emaaak."
Jaejoong yang tengah mengeringkan rambut basahnya mendadak terganggu dengan lengkingan keras persis suara lumba-lumba tepat didepan pintu masuk rumahnya, tampaknya Junsu tengah menangis.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mak Jujung, Saranghae!
FanfictionKim Jaejoong namja cantik yang terdampar di kota kejam Jakarta, dapatkah ia bertahan hidup bersama tiga orang anak yang dikasihinya dengan statusnya sebagai janda karena suaminya yang sudah meninggal dunia. Dapatkah ia bertahan?