Bab 5

3.9K 286 3
                                    

    Sando, ketua kelas XI IPS 2, berdiri di depan kelas. Teman-teman sekelas yang tadinya asyik dengan buku pelajaran segera memperhatikan ketika Sando memberikan tepukan tangan cukup keras disertai suara lantang meminta perhatian.

    “Teman-teman, hari ini Bu Fajriah ada rapat dan kita harus mempersiapkan diri untuk class meeting dan perlombaan ulang tahun sekolah kita,” kata Sando memberi pengumuman.

    Sando menjelaskan bahwa setiap kelas akan mengirimkan perwakilan untuk setiap perlombaan yang akan diadakan selama class meeting. Beberapa perlombaan yang disebutkan antara lain lomba olahraga, unjuk bakat, dan menghias kelas.

    Mendengar hal itu, para murid mulai saling berbisik-bisik dan berdiskusi tentang siapa yang akan mereka pilih sebagai perwakilan. Beberapa murid bersemangat menyebutkan nama teman-teman mereka yang cocok untuk masing-masing perlombaan. Sando dengan cermat mencatat nama-nama mereka dan meminta mereka untuk mempersiapkan diri dengan baik.

    Sando kemudian membagikan selebaran brosur pentas seni ke tiap baris meja. Teman-teman yang sudah menerima dan membaca selebaran itu bersorak gembira saat mengetahui bahwa pensi sekolah akan dimeriahkan oleh kehadiran band indie Gula Merah dan dipandu oleh MC ternama, Ditya Pradika.

    “Wah, hebat nih sekolah kita bisa mendatangkan Ditya Pradika.” Rasa bangga Ruby terpancar dari tatapan matanya yang berbinar-binar.

    Sementara, Lira membaca brosur itu dengan wajah datar. “Cuma Ditya Pradika aja. Apa menariknya?” ujarnya tanpa ekspresi.

    Namun, sorakan gembira yang terdengar di sekelilingnya menunjukkan bahwa Ditya Pradika benar-benar menjadi sorotan bagi para murid, khususnya murid perempuan.

    Bahkan Bella sangat antusias, ia membayangkan bisa berada di dekat panggung saat acara berlangsung. “Aku mau jadi panitia pensi!” ujarnya dengan semangat menggebu-gebu.

    Lira yang lebih sering merespon dengan sarkasme dan malas, menanggapi tanpa minat. “Kamu berdiri di depan panggung masih bisa lihat wajahnya Ditya,” ujarnya dengan suara datar.

    Bella langsung merespon. “Beda, Lili. Kalau di backstage kan, aku bisa ngobrol-ngobrol gitu. Kenalan. Bisa melihat dari dekat.”

    Lira hanya bisa menggelengkan kepala dan menganggapnya sebagai hal yang tidak penting.

    *

    Selama tiga hari proses belajar-mengajar ditiadakan. Murid-murid sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti perlombaan yang diadakan. Murid yang tidak ikut lomba ditugaskan menghias kelas atau menjadi suporter. Sedangkan beberapa guru turut sibuk sebagai juri dalam perlombaan.

    Lira melihat ke sekelilingnya. Ia mengernyit heran melihat antusiasme Ruby yang besar dalam mendukung tim Vino bertanding basket. Ia melihat Bella sedang sibuk melobi temannya, Hera yang merupakan anggota OSIS sekaligus panitia pensi, agar diikutsertakan dalam panitia pensi. Vera sedang sibuk mempersiapkan diri untuk bertanding voli. Sedangkan Tika sedang sibuk membantu tim konsumsi kelas alias sibuk mencicipi makanan.

    Nah, Lira yang tidak ikut perlombaan, ditugaskan untuk menghias kelas. Bersama dengan teman-temannya yang lain, mereka menata dan mendekorasi kelas.

    Lira melihat banyak murid dari kelas lain berkumpul di depan kelasnya. Mereka menuliskan sesuatu di kertas warna-warni dan mengikatkan kertas-kertas tersebut pada ranting pohon sakura buatan yang dipasang di depan kelas. Lira merasa penasaran dan menghampiri pohon tersebut.

Tetaplah di SiniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang