Bab 7

3.2K 236 3
                                    

    Ruby membawa sepiring besar rendang ke meja makan. Ia mencium aroma harum daging yang telah dimasak dengan sempurna. Saat itulah, ia mendengar suara derap kaki menuruni anak tangga dengan cepat. Piring di tangannya ia letakkan di atas meja, matanya melihat ke arah Lira yang berjalan tergesa keluar rumah.

    “Li?” panggil Ruby seraya mengikuti di belakang, namun orang yang dipanggilnya tidak menyahut atau mungkin tidak mendengar.

    Kakinya berhenti di depan jendela ruang tamu, mencari tahu ke mana Lira pergi dengan tergesa-gesa.

    “Mau ke mana Lira?” Ruby mengamati Lira yang berdiri di luar pagar sambil memegang ponsel di tangan, tampak menunggu dan mencari-cari sesuatu.

    Sejurus kemudian, seorang laki-laki berkendara dengan jaket dan helm hijau menghampiri Lira.

    Helaan napas Ruby mengembus begitu saja. Dua tahun lebih ia tinggal di rumah ini, meskipun sudah berusaha untuk mendekati Lira, namun sulit baginya untuk memenangkan hati Lira.

    “Ruby itu cewek nakal.” Kata-kata itu terngiang begitu saja di benak Ruby.

    Label sebagai cewek nakal selalu melekat pada dirinya. Ruby harus mendengar ocehan orang-orang di sekitarnya yang mengancamnya.

    Tentunya Ruby tidak menyalahkan Lira yang berpikiran negatif tentang dirinya. Ia memang tumbuh di lingkungan yang kurang baik, dan memang ia pernah tinggal di sebuah kelab malam, tapi ia bukan gadis nakal seperti yang orang pikirkan.

    Bahkan rumor yang menyebar di sekolah membuatnya sulit untuk memiliki teman. Orang-orang mulai menghindari Ruby dan tidak mau berbicara dengannya. Tidak peduli seberapa keras Ruby mencoba, tidak ada satu pun yang mau berteman dengannya. Tidak ada satu pun.

    Hingga suatu hari, Vino, anak dari Om Hendri Purwanto, mengulurkan tangan pertemanan. Hanya Vino, satu-satunya orang yang mau berteman dengannya. Bagaimanapun juga, Vino adalah teman yang paling berharga baginya. Meskipun terkadang Ruby merasa bahwa Vino berteman dengannya karena terpaksa atau sekadar kasihan, mungkin, namun ia tetap bersyukur memiliki Vino sebagai teman.

    “Lira mana?” tanya Vino, duduk di sofa teras belakang.

    “Nggak tahu.” Ruby mengedik bahu. “Tadi jalan sama Abang Gojek.”

    “Nggak diantar sama Pak Edi?” tanya Vino yang merujuk ke supir pribadi keluarga Dirga.

    “Tadi aja Lira perginya buru-buru,” jelas Ruby.

    “Terus gimana masa percobaanmu menjadi temannya Lira?” tanya Vino penasaran.

    Ruby tersenyum tipis. “Lumayan. Seenggaknya dia nggak sejutek dulu.”

    Vino menghela napas. “Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau Lira nggak mau berteman denganmu, kamu masih punya aku.”

    Ruby tersenyum lega mendengar kata-kata penyemangat sekaligus penghiburan dari Vino.

    “Raka nggak membuat masalah, kan?” Vino bertanya khawatir.

    “Masalah apa?” bingung Ruby.

    “Dia tahu rahasia kalian,” kata Vino dalam nada serius.

    Ruby terdiam sejenak, kemudian tertawa kecil. “Tenang aja. Raka berada di kapal yang sama dengan kita. Dia nggak akan membocorkan rahasia kita.”

    Wajah Vino sedikit bernapas lega.

    “Vin, kenapa kamu mau berteman dengan aku? Bukan karena terpaksa atau kasihan, kan?” gumam Ruby pelan, ragu-ragu bertanya.

Tetaplah di SiniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang