Sayangnya, di Minggu yang telah disepakati, walau hanya janji setengah hati dan karena adanya suatu halangan, rencana jalan-jalan ke Dufan dibatalkan. Dikarenakan Papa Dirga mengundang kawan karibnya, yaitu keluarga Hendri Purwanto untuk makan siang bersama.
Sedari pagi, Ruby turut membantu Ibu dan Bik Narti memasak. Sementara, Lira tentu saja ingin bantu menyiapkan makanan, tapi pada kenyataannya ia hanya duduk termenung di teras belakang.
Anehnya, pikiran Lira saat ini tidak bersama dengannya. Pikirannya melayang tentang janji setengah hatinya. Janji jalan-jalan untuk merayakan pertemanannya dengan Ruby.
“Nih.” Ruby menyodorkan sepiring brownies ke hadapan Lira. “Baru matang. Masih panas. Fresh dari oven.”
Lira menatap malas pada brownies yang dibawa Ruby.
“Tenang aja. Brownies-nya aman kok.” Untuk membuktikannya, Ruby menyuap seiris brownies. “Enak lho, Li.” Karena tidak mendapat respon dari Lira, ia pun bertanya, “Ada yang dipikirin, ya?” Ruby duduk di depan Lira. Sebagai teman yang baik, ia harus menunjukan rasa perhatiannya. “Kamu bisa curhat ke aku. Kan, kita teman.”
Ruby tahu dan bagaimana menggunakan kartu bernama teman ini. Kartu yang memberikan keuntungan bagi Ruby, tapi tidak bagi Lira.
“Aku ini pandai menyimpan rahasia.”
“Resek. Sukanya ikut campur,” tukas Lira.
Ruby hanya manggut-manggut santai menanggapi wajah jutek dan kata-kata nyelekit Lira.
“Bukannya ikut campur, Li. Aku hanya khawatir. Yach, mungkin aku nggak banyak membantu, tapi dengan kamu berbagi cerita, seenggaknya bisa meringankan beban pikiran kamu. Begitu, Lira Syantik,” tutur Ruby dengan senyuman hangat.
“Ngejek?” Lira tak terima dengan kalimat terakhir yang diucapkan Ruby yang seakan mengejeknya.
Ruby menggeleng cepat. “Nggak, Li.” Ia melihat Lira bangkit dari duduk dan bertanya cepat. “Mau ke mana, Li?”
“Tidur,” sahut Lira tanpa ekspresi.
“Nggak ikut makan siang?” kejar Ruby.
“Baru jam berapa?” balas Lira dengan nada datar.
Sekarang memang baru jam sembilan pagi. Dan, Lira masih bisa beristirahat sebentar di kamar sebelum keluarga Om Hendri datang.
Lira melangkah menuju ke kamar dengan langkah lesu.
Semasuknya di kamar, Lira langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Matanya memejam, membiarkan pikirannya rehat sejenak dari segala pikiran apapun.
Tiba-tiba, Lira tersentak kaget oleh bunyi dering ponselnya. Ia menjangkau ponsel yang terletak di meja samping tempat tidurnya, melihat nama si pemanggil pada layar. Senyuman tipis terpancar dari wajahnya saat melihat nama tersebut. Ia bergegas bangun, tangannya refleks merapikan rambutnya yang berantakan sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut.
“Hallo,” sapanya malas-malasan, namun senyumnya tetap terpancar di wajahnya.
“Gimana makan siangnya?” tanya suara akrab di seberang sambungan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Tetaplah di Sini
Teen FictionCerita ibu tiri tertanam begitu mengerikan di benak Lira Aurelia hingga ia sangat membenci kehadiran ibu tirinya. Ditambah lagi dengan saudari tirinya, Ruby Ameera, yang merongrong hidupnya sepanjang hari. *** Bermula dari sang ayah yang menikah lag...