Lira mematut diri di depan cermin. Mengembuskan napas berat, memaksakan senyum. Mengamati matanya yang lagi-lagi bengkak karena menangis semalaman. Wajahnya pun sangat kusut, suram, dan jauh dari semangat. Ia belum menjalani hari ini, tapi terasa sudah berat baginya. Ia tidak bisa mengabaikan fakta mengenai dirinya.
Lira berjuang sekuat tenaga untuk bertahan agar wanita itu dan Ruby tidak mengambil alih rumah ini. Kini ia tidak bisa bertahan di rumah ini lagi. Sebelum diusir, ia lebih baik menyerah dengan keadaan. Pada akhirnya hanya pengkhianatan yang didapatnya.
Tangan Lira menyambar tali tas di atas meja belajar. Membuka pintu kamar, terdiam ia melihat Ruby sudah berdiri di depan pintu kamar seberang.
“Pagi, Li,” sapa Ruby dengan memasang senyum cerah seperti biasanya.
“Pagi,” Lira menjawab singkat.
Ruby mengulum senyum senang melihat Lira membalas sapaannya. Rasanya jauh lebih membahagiakan dibanding mendapatkan nilai tinggi di ulangan matematika.
“Li, kamu begadang lagi?” tanya Ruby saat melihat mata Lira yang bengkak.
“Hmp,” gumaman Lira terdengar tidak bertenaga.
Mereka menuruni anak tangga beriringan. Celotehan Ruby dengan suara ringan itu mungkin tidak ada yang mengira bahwa Ruby pernah berada di kelab malam karena dijual oleh ayahnya. Lira mengira hidupnya paling malang, tapi nyatanya kehidupan Ruby jauh lebih malang darinya.
“Li, mulai hari ini aku berangkat bareng Raka.” Ruby memberitahu dengan nada ringan.
“Kamu nggak suka naik mobilku?” tanya Lira, kemudian terdiam sejenak menyadari ucapannya. Itu bukan mobilku, itu mobil Ruby.
“Suka dan nyaman. Tapi aku biasa naik bus,” jawab Ruby sekadarnya.
Mereka berdua memasuki ruang makan, disambut dengan sinar mentari pagi yang menyinari ruangan. Ruby menyapa salam pagi dengan senyuman ceria, sehangat sinar mentari. Begitu juga dengan Lira yang menyapa salam pagi sambil lalu. Sontak Papa Dirga dan Ibu Nike menoleh takjub ke arah Lira.
Ruby dan Lira lalu mengambil tempat duduk.
“Pa, hari ini aku mau naik bus,” kata Lira tiba-tiba, mengejutkan semua penghuni di ruang makan.
Terdengar bunyi sendok jatuh dari tangan Ibu Nike, sejenak terdiam melihat ke arah suaminya yang juga tampak heran dengan keputusan Lira.
“Mobilnya kenapa?” tanya Papa Dirga, mencari tahu alasan anaknya yang tiba-tiba ingin naik bus.
“Mobilnya baik-baik saja. Aku hanya ingin mencoba naik bus,” jawab Lira mantap.
Selama ini, Lira hidup dalam keseharian yang nyaman dan terpenuhi. Sejak kecil, Lira selalu diantar jemput oleh sopir pribadi, Pak Edi. Setelah ia keluar dari rumah ini maka tidak ada lagi semua kenyamanan itu.
Papa Dirga tidak yakin, khawatir dengan kondisi bus yang sering penuh sesak dan berdesak-desakan.
“Cuma naik bus aja, kan?” ujar Lira dengan wajah enteng.

KAMU SEDANG MEMBACA
Tetaplah di Sini
Roman pour AdolescentsCerita ibu tiri tertanam begitu mengerikan di benak Lira Aurelia hingga ia sangat membenci kehadiran ibu tirinya. Ditambah lagi dengan saudari tirinya, Ruby Ameera, yang merongrong hidupnya sepanjang hari. *** Bermula dari sang ayah yang menikah lag...