HARI ITU KITA PERLU MENGENANG

20 0 0
                                        

"Tak ada perbuatan yang lebih baik dari pada sabar."
-Nazaya Silalahi


*Flash Back

Tringg..

Bel sekolah telah berbunyi, tibalah semua siswa masuk ke dalam kelas. Aku mencoba menarik kakiku secara perlahan agar aku bisa memasuki kelas baru dengan suasana yang baru pula dengan perasaan tidak gugup.

"Hallo anak-anak disini ibu bawa teman baru kalian, namanya Nazaya Silalahi, dia pindah dari sekolah SMAN KUALA SARI Bogor. Dia pindah kesekolah kita dikarenakan ayahnya yang pindah kerja ke daerah kita," Lantang ibu guru memperkenalkanku dengan sedikit senyuman yang terlintas di wajahnya.

Sejak awal aku merasa aneh dengan sekolah ini. Kata pertama yang guruku katakan adalah "Hallo" jauh dari kata yang biasa aku dengar, kata yang memulai pembukaan atau pembicaraan "Assalamualaikum". Akupun di buat risih memasuki sekolah ini. Kulihat banyak guru disini yang sama sekali tidak menggunakan Jilbab, padahal sudah jelas ayat yang menjelaskan tentang menggunakan jilbab.

"Siapa tu bu, Teroris ya? Ko serba tertutup gitu. Kek ninja aja si," Celetuk salah satu siswa cowo yang menggunakan pakaian bisa dibilang brandal yang tidak mencerminkan anak sekolah.

"Dia salah sekolah kali, harusnya dia tuh sekolah di negeri Naruto yang pakaiannya kaya ninja, tapi dia kesasar tuh jadi ke sekolah kita," lanjut siswi berambut ikal yang dandanannya seperti wanita dewasa yang sudah mempunyai anak.

Semua siswa akhirnya tertawa mendengar ledekan dua teman mereka, hingga membuat suasana di kelas yang tadinya hening kini pecah oleh ledekan mereka.

Aku hanya bisa menunduk terdiam, ini pengalaman pertamaku yang bagiku merupakan pengalaman yang berharga. Karena Allah lebih tahu tentang rencana dan tujuan aku di sekolahkan disini.

"Ayo Naya silahkan duduk," Ibu Lusi, itulah namanya. Mempersilahkanku duduk tanpa ada kata untuk membela ataupun memarahi anak muridnya.

Tinggal satu kursi yang tersisa, itupun di pojok kanan belakang yang isinya barisan anak-anak berandal semua. Aku celingak-celinguk berharap ada orang yang mengorbankan kursinya sehingga aku tidak duduk di belakang bersama anak-anak berandal itu.

"Disini aja, biar aku yang pindah kebelakang."

"Alhamdulillah," ucapku dalam hati. Lega rasanya, ternyata masih ada orang yang baik hati seperti lelaki tadi.

Aku mengangguk mengiyakan sambil tidak berani aku menatap wajahnya.

"Caelahh mau jadi pahlawan kesiangan lo?" ledek penghuni bangku belakang yang dilihat seperti leader dari yang lainnya.

"Alah bocah cupu kaya dia mau duduk dibelakang, jangan harap lo bisa nyaman duduk disini!" Sambung teman disambingnya dengan kaki dihentakkan, membuat semua orang terdiam.

"Hhha udah cupu masih aja mau jadi pahlawan."tak mau kalah dengan lelaki di pojok belakang.

Barisan anak-anak penghuni bangku belakangpun meledek lelaki yang sudah merelakan kursinya kepadaku.

Aku tidak tega melihatnya yang menjadi bahan ledekan karena diriku.

NOMURACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang