Aku membuka mataku secara perlahan dan melihat danau yang ingin kami tuju sebelum bertemu goblin besar itu, Perasaanku berdebar-debar karena suara asing yang belum pernah kudengar.
"Nah iya, aku sudah melihatmu dari kejauhan. Kau ada diatas tebing aku ingat sekali." Kata Jefri yang baru saja membuka matanya.
Aku yang juga baru saja membuka mata menoleh kesamping dan melihat seorang pria dewasa menggunakan baju coklat dicampur setelan celana panjang dan berbadan cukup tinggi karena kepalaku sejajar dengan lehernya, aku mengira-ngira kalau tingginya itu 173 CM serta tidak kurus dan juga tidak gemuk. Berambut pendek berwarna hitam.
"Bagaimana caranya kau melihatku dari bawah tebing? Menggunakan teropong kah?" Kata Pria yang bagiku sudah menolong kami kabur dari goblin besar yang kerasukan wrath.
"Entah mengapa setelah pandanganku buram di hutan. Mataku bisa melihat benda-benda yang sangat jauh dengan mata telanjang. Bahkan aku bisa melihat ulat keket yang berjalan di dedaunan pohon, yah kira-kira sejauh 100 meter lebih lah."Ujar Jefri sembari senyum sombong.
Kenapa manusia bodoh itu tidak memberitahu kami soal matanya yang diberi kelebihan oleh Dewa setelah aku menapak-kan telapak tangan dibelakang lehernya Jefri.
"Araaa, rupanya begitu. Dan oh iya, namaku adalah Harris Pondasat. Berumur 23 tahun. Salam kenal ya." kata Harris sembari menggerakan kepala kearah muka kami bertiga.
"Salam kenal Juga," Ucap kami bertiga.
"Bagaimana paman mempelajari sihir teleportasi padahalkan kau masih terbilang muda untuk bisa menguasai sihir tersebut. Butuh waktu berapa lama untuk menguasai sihir tersebut paman Harris?" Tanya Regita yang selalu antusias terhadap ilmu sihir.
"Aku mempelajarinya dibuku lawas milik kakek-ku sebelum beliau meninggal. Dan butuh waktu enam hari bagiku untuk bisa teleport secara acak. Untuk bisa mengatur letak teleportnya membutuhkan waktu yang lama. Emm..., mungkin, 6 bulan." Jawab Harris.
"Paman bolehkah aku meminjamnya bila bukunya masih ada?" Tanya Regita kembali.
"Maaf buku itu sudah terbakar di rumahku yang berada di desa. Rumahku sempat dibakar oleh anggota guild perak yang menagihku hutang." Jawab Harris.
"Maaf telah mendengarnya."
"Bukan masalah."
"Bagaimana kalau kalian pulang? Bentar lagi akan menjelang sore lebih baik kalian membeli makanan di desa." Kata Harris.
"Iya ini aku aja udah mau pulang. Terima kasih banyak karena telah menyelamatkan kami." Ucapku sembari membungkuk-kan badan.
"Ah, itu sih gampang."
Setelah pembicaraan dengan paman Harris, kami bertiga menuju guild dahulu sebelum pulang untuk mendapatkan imbalan menyelesaikan quest.
...
Suasana siang menjelang sore bersama hangatnya matahari yang membuat warga desa berlalu lalang dengan nyaman.
Kita sudah sampai di guild lalu aku menukarkan lima lengan goblin lalu kami mendapatkan 250 perunggu. Aku membagi rata hasil quest yang didapat sebesar 75 perunggu dan 25 perunggunya untuk makan bersama.
Suasana di guild tidak begitu ramai, namun ada anggota yang setiap kali kami datang membawa barang quest, anggota itu melihati kami terus menerus bagaikan orang yang iri atau mungkin orang itu ingin memalak kami.
Ada juga anggota yang hanya duduk mengobrol dengan rekan party-nya. tertawa terbahak-bahak, melihat mading terus menerus karena kebingungan mencari quest yang tepat, dan bergegas pergi menajalankan quest.

KAMU SEDANG MEMBACA
Afta's
FantasyRemaja dengan pendidikan Sekolah Menengah Atas yang selalu mengeluh dengan hidupnya di dunia. Semua berubah ketika pria berjas putih menepuk pundak remaja yang bernama Dika Alif. Setelah tepukan itu, Dika pingsan dan sudah berada di tempat gelap yan...