Friend

5 2 0
                                        



"Hei! Aku gak nyangka kita bisa ketemu lagi. Aku rasa ini takdir!" ucapku sambil tersenyum lebar dan kenapa tidak karena dia yang pertama kali membantuku. Cowok disebelahku ini hanya tersenyum dan mengangguk canggung dan mengalihkan pandangannya keluar jendela.

Aku segera mengeluarkan buku kosong dan mencoret-coret sembarang buku itu. Aku rasa perlahan cowok disebelahku ini melihat kearahku dan melihat apa yang aku kerjakan.

"Wahh wah, tulisan loh lebih parah daripada gue!" ucapnya sedikit takjub dan segera mengeluarkan buku catatannya. Dia membukanya diatas meja dan membandingkan tulisannya dengan punyaku.

"Lihat! Hahaha gilak, gue kira tulisan gue yang paling jelek, ternyata ada yang lebih" gelaknya dan aku hanya memandangnya heran. Emang kenapa kalau tulisan aku jelek? Batinku.

"Haa emang sepenting itu ya?" ucapku polos. Terlihat cowok disampingku ini membelalakkan matanya seakan baru bertemu dengan orang yang asing. Namun, seketika itu kembali tertawa.

"Iya, bagi gue penting. Hahaha." Gelaknya lagi.

"Kamu yang dibelakang, kalau mau ketawa diluar!" teriak guru lantang memenuhi ruangan kelas. Seketika raut wajah cowok itu membeku dan mengangguk minta maaf. Melihat wajahnya yang seperti itu, mau tak mau aku hanya dapat menahan tawa.

"Ketawa lo." Ucapnya berbisik, "eh, iya. Gue belum tau nama lo, gue Oddi." Tambahnya.

"Oh iya, aku juga lupa menanyakan namamu waktu itu. Aku Lucy. Hehe" ucapku diiringi dengan cengiran seperti biasanya. Oddi meraih tanganku dan menggenggamnya.

"Salam kenal. Kayak ginilah cara seseorang berkenalan." Kata Oddi menjabat tanganku sambil tersenyum. Aku pun membalas tersenyum dan menjabat tangannya dengan semangat.

......

"Udah, tapi gak perlu selama ini juga" Oddi dengan segara melepas tanganku dengan sedikit kikuk, "udah yuk dengerin ibuk itu ngejelasin." Tambahnya. Akupun membalas dengan anggukan dan menatap kedepan.

                                                                            *****

Teng neng neng nong..

"Suara apa itu?" tanyaku sambil terkejut karena suaranya tiba-tiba muncul saat aku memberi perhatian penuh kepada ibu guru didepan.

"Lo gak tau juga? Serius ni loh darimana sih?" Oddi mengubah posisi duduknya dan kini Ia menghadap kearahku. Dari raut wajahnya terlihat sangat penasaran. Aku pun mengangguk. Ya aku memang tidak tahu.

"Wah serius, gue gak pernah ketemu sama orang kayak lo. Wah wah." Ucap Oddi mulai histeris dan frustasi serta mengacak-acak rambutnya. Aku hanya memandangnya aneh.

"Emang kenapa kalau aku gak tau? Aneh?" tanyaku spontan.

"Hahahha! Ya iyalah! Ini bel yang paling ditunggu-tunggu setiap murid. Emang disekolah lo dulu gak ada yang beginian?" tanya Oddi mengernyitkan dahinya.

"Oh ini yang namanya bel. Jadi aku boleh keluar kalau aku dengar bel ini?"

"Iya!" jawab Oddi sambil menganggukkan kepalanya dengan kuat, "lo dari tadi belum jawab pertanyaan gue loh." Tambahnya.

"Ohh, aku berasal dari Swe—" eh, apa ya namanya? Aku lupa apa yang tertulis didalam amplop yang diberi oleh mereka. Aku pun memainkan bola mataku dan mulai mengingat-ingat tulisannya.

"Oh Swedia! Wah pantesan cara ngomong lo kaku, lo juga cantik banget kayak bukan orang Asia." Kata Oddi sambil tersenyum tulus.

"Ha iya Swedia. Hahaha. Kamu juga tampan." Balasku tulus. Tampaknya jawabanku membuat Oddi salah tingkah dan mulai memainkan daun telinganya.

"Jadi beneran aku boleh keluar ni?"

"Iya, liat aja yang lain udah pada keluar." Tunjuk Oddi menggunakan isyarat matanya.

"Oh, kalau gitu aku keluar dulu ya." Ucapku sambil tersenyum dan mulai bangkit dari kursi. Kulangkahkan kakiku dengan riang keluar kelas. Terlihat murid SMA yang ramai dan lalu lalang didepanku. Seketika perasaan senang dan semangatku muncul. Aku mulai mendekati seseorang yang sedang berdiri didepan pintu kelasnya.

"Hai! Nama aku Lucy. Nama kamu siapa?"

"A-a nama aku Rena." Jawabnya kikuk. Aku mengulurkan tanganku, seperti yang diajarkan oleh Oddi tadi. Tapi perempuan itu tidak menggenggam tanganku dan melihat kearah lain. Aku pun segera memegang tangan cewek tersebut dan mengguncangnya.

1.2.3.4.5. kemudian aku lepaskan tangannya, kata Oddi tidak boleh terlalu lama. Setelah itu aku pun berjalan ketempat lain. Aku melihat lapangan luas dengan tempat duduk yang melingkari lapangan itu. Kemudian aku mendekati tempat duduk tersebut.

"Hai, nama aku Lucy. Nama kamu siapa?" tanyaku kepada beberapa orang cowok yang duduk disana. Mereka dengan cepat berdiri dan langsung menggenggam tanganku yang sedari tadi aku ulurkan. "Mereka ini berbeda dari cewek tadi, yang ini langsung menjabat tanganku" pikirku senang.

"Gue Radit."

"Gue Ivan.

"Gue Oliv. Kamu kelas bera—" belum sempat laki-laki itu menyelesaikan katanya. Kurasakan seseorang memegang bahuku dan menarikku menjauh dari lapangan.

"Ngapa gak satu sekolah aja lo kenalin diri lo?" ucap seseorang dibelakangku, namun aku mengenal suaranya.

"Oddi! Ya kamu bilang kayak gini cara berkenalan sama orang."

"Yaa bener sih, tapi gak gini juga. Ya misalnya kalau ada yang pengen kenalan sama loh, ntar jabat tangan deh." Ucap Oddi jengah dan menggelengkan kepalanya.

"Haa.. Gitu" ucapku sambil menganggukkan kepala tanda mengerti. Kemudian, Oddi menarik tanganku pergi dari lapangan basket.

"Mau kemana kita, Oddi?"

"Ke kantin, gue laper. Lo gak laper?"

"Aku lapar juga hehe aku terlalu semangat tadi sampai lupa kalau aku lapar." Jawabku sembari menyengir. Ditengah jalan menuju kantin, sosok yang kukenal berpapasan denganku tanpa melihat kearahku.

"Ahh, Le—"

Ingat ya. jangan sok-sok kenal sama gue.

Kata-kata itu terngiang seketika dikepalaku dan bibirku menutup rapat seakan tidak ingin melanjutkan kata yang ingin kuucapkan. Aku gak tau kenapa dia harus menyuruhku agar berpura-pura tidak kenal dengannya tapi sebaiknya kuikuti saja apa maunya.

"Lo kenapa?" tanya Oddi yang melihatku terdiam tiba-tiba.

"Gak ada, aku tadi kayak ingat sesuatu gitu, tapi lupa lagi, hehe" kilahku. Oddi pun hanya mengangguk tanpa bertanya lebih banyak. Oddi melepas genggamannya dan kami pun memasuki sebuah ruangan yang sangat besar yang menurutku terlalu besar untuk dikatakan sebagai kantin.

"Lo mau makan apa? Disini lengkap loh." Pamernya sambil mempromosikan kantin sekolah. Aku pun mulai melihat menu-menu yang tertera pada masing-masing outlet.

"Aku mau coba yang itu." Tunjukku kearah sebuah gambar yang terpampang disalah satu outlet dan bertuliskan "Nasi Goreng".

"Oke deh, biar gue pesan sekalian gue yang traktir. Kan lo anak baru dan juga memperingati hari pertama kita resmi menjadi teman." Ucapnya dengan mantap.

"Eh, tapi hari itu kamu belikin aku Mie Ayam, biar pake uang aku aja." Kataku sambil mengingat kejadian waktu itu.

"Itu sumpah gue udah ikhlas. Hari ini beda lagi.Serahkan pada teman mu ini. Lu duduk aja disini." Jawabnya  sambil membusungkan dadanya  dengan bangga. Setelah berkata itu, Oddi pun menghilang di balik kerumunan.     

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 31, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

"Stranger"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang