Sinar matahari berhasil menembus jendela kamar dan mengenai wajah Dian. Ia sedikit mengernyit dan berusaha utuk tetap menutup matanya. Dia memang sangat menyukai sinar matahari pagi, tapi tidak melebihi keinginannya hari ini untuk tetap tidur sedikit lebih lama lagi.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Tak diragukan lagi, itu pasti Alex.
Dian tersenyum tipis sambil berusaha mengambil ponsel yang ada disampingnya. Sambil menggosok matanya, ia menghidupkan layar ponsel sambil memicingkan mata. Ada satu pesan, dan benar. Itu Alex.
'Nanti sore aku kosong. Mau jalan?'
Dian seketika terkesiap. Alex mengajaknya jalan? Dengan cepat ia langsung menarik selimutnya kebawah. Membiarkan wajahnya terbuka sepenuhnya untuk bernafas sejenak.
Dan lagi lagi, dengan gerakan yang cepat, ia mengubah posisinya menjadi duduk.
Sambil berdeham, ia mengambil ancang ancang untuk mulai mengetik balasan.
Bukannya mengetik balasan, Dian malah diam sejenak. Ia ragu. Apa boleh? Ia mematikan layar ponsel dan menopang dagunya dengan benda tersebut. Setelah berpikir beberapa saat, ia putuskan untuk meminta izin kepada ibunya terlebih dahulu.
*****
Alex membalikkan tubuhnya kesamping untuk yang kesekian kalinya. Ia gusar, apa ia salah bicara? Karena sampai sekarang Diam belum membalas pesan darinya.
Ia menggigit kukunya gugup, terlintas dorongan untuk membatalkan ajakannya tadi. Alex berdecak, mengambil air mineral lalu meneguknya.
Ia tahu jika ia selalu bertemu dengan Dian hampir setiap hari saat jam makan siang. Namun kali ini beda, ia ingin membuat suatu hal yang lebih spesial. Tapi apa Dian akan suka akan hal itu? Buktinya sampai sekarang pesannya belum juga terbalas.
Tiba tiba Alex merasa malas. Ia malas untuk melakukan apapun, ia masih cemas, pesannya hanya dibaca, namun tak kunjung ada balasan. Sedang apa Dian disana? Mengapa ia hanya membaca pesan darinya?
Ketika membalikkan tubuhnya untuk yang kesekian kalinya, hp nya berbunyi. Dengan sigap ia langsung membuka pesan yang masuk.
"Dian!"
Secara tak sadar ia berteriak dan langsung tersenyum lebar.
'Boleh, nanti kabarin aja ya'
Dian mau! Berdiri dari tempat tidurnya, Alex keluar ke balkon kamarnya sambil bersenandung. Ya, ia sangat senang hari ini. Angin yang sepoi memperindah harinya.
Ia menjinjitkan kakinya, lalu menurunkannya kembali, berkali kali sambil tetap bersenandung dan tersenyum lebar.
*****
Dian tersenyum kecil. Menopang dagunya di ponsel, sambil membayangkan bagaimana respon Alex setelah pesan itu ia baca.
Baru saja balasan itu terkirim dari ponsel Dian. Jantung Dian berdebar debar lagi, untuk kesekian lagi, karena Alex. Lelaki yang selama ini ia nanti dan akhirnya ia mulai mendapatkan petunjuk kemana arahnya hubungan mereka. Ia seperti diberi kepastian walaupun Alex belum mengatakannya.
*****
Dian sibuk sendiri, banyak sekali pakaian yang ia keluarkan, namun tak ada satupun yang menurutnya pas. Mengapa ini terasa begitu sulit?
Kembali ke meja rias, ia melanjutkan dandanannya yang belum juga selesai karena pakaian itu. Dengan perlahan ia terus menepukkan cushionnya dengan gerakan monoton yang pelan keseluruh wajahnya. Lalu merapikan sedikit alis dan mengulaskan liptint-nya.
"Mungkin pakaian dengan warna netral bagus juga."
Akhirnya ia mengambil sweater merah maroon yang dipadukan dengan rok hitam selutut. Sling bag kulit berwarna putih juga dikalungkannya dibahu. Dan terakhir, langsung ia masukkan kakinya ke flat shoes putihnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
What If... (REVISI)
Teen FictionCoba aja aku tau semuanya lebih awal, mungkin aku bisa ngebantu kamu menghadapai semuanya, sampai akhir. Tapi percuma, ini hanyalah harapanku semata, yang mungkin ga bakal terjadi. Maafin aku yang ga pernah sadar akan beban yang kamu tanggung sendir...