[Proses Pengeditan & Hiatus Sementara]
Elora Aelyn melakukan pelarian usai skandal mengenai dirinya tersebar di seluruh jurusan, lelaki yang tak ingin dia sebutkan namanya itu yang menjadi alasan kenapa dirinya harus pergi. Melanjutkan pendidikanny...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jika kebenaran saja dianggap tak layak dipercaya, maka untuk apa berbicara? Ataukah raga itu hanya mau mendengar apa yang ingin didengar, meski itu dusta?"
♪
Sekali lagi, Aelyn memilih bungkam, membiarkan otaknya yang berisik membuat banyak pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya, hingga dia tersiksa sendiri. Bahkan menangis pun sudah tidak bisa memikirkan hal logis Ki kepalanya.
Suara ketukan pintu tidak Aelyn hiraukan. Dia hanya menatap keluar jendela kamarnya melihat ke arah balkon seberang. Kenangan masa lalu kembali mengintainya, membiarkannya sekali lagi tersiksa. Tubuhnya kembali bergetar merasakan sesak pada dadanya. Seseorang menyentuh pundaknya lembut, membuat Aelyn menoleh sebentar dan kembali menatap jendela.
"Aelyn ... ayo turun. Kamu sudah di tunggu." mau tidak mau dia bangkit dari tempatnya mengambil cardigan panjang berwarna putih, menyisir rambutnya lalu memasang jepit rambut berbentuk bulan di belakang kepalanya. Aelyn turun bersama Chessy menuju ruang tamu. Sudah dua hari berlalu sejak kejadian, bahkan tamu pun baru bisa datang hari ini.
Wajah pucat Aelyn nampak sangat miris, membuat orang yang tengah duduk di sofa merasa sangat bersalah. "Baik, kami mulai perbincangan. Putri saya Elora Aelyn, saya melihatnya melakukan hal tidak senonoh bersama putra anda di mobil dua hari yang lalu. Dan dengan itu saya dan mamanya memutuskan untuk meminta pertanggungjawaban, dengan menikahkan anak saya dengan putra anda, sebelum aib ini tersebar." Mata Kenan membulat mendengar ucapan Abraham.
Aelyn yang tertunduk pun tidak bisa lagi menahan air matanya. "Apa benar itu Kenan? Kenapa kamu ceroboh sekali? Bukankah di dalam agama kita itu sama dengan zina Kenan?" suara tegas Adams membuat siapa pun akan ketakutan.
"T-tapi, Kenan sama sekali tidak melakukan hal tersebut." Kenan menatap ke arah Abraham secara bergantian lalu tatapannya berhenti pada Aleyn sudah menyeka air matanya dengan kepala tertunduk. "... Dan saya tidak mungkin melakukan hal tidak senonoh apalagi perempuan itu Aelyn saya ..."
Suara bentakan Aelyn membuat Kenan terdiam. "Enough, Kenan! None of this matters. You, me—everything we say won’t be believed. They might even believe a lie more than the truth!" tangis Aelyn pecah.
Dia berdiri namun baru beberapa langkah tubuhnya tumbang bersama detik yang hening. Perempuan itu tidak sadarkan diri, tanpa di minta Kenan dengan sigap berlari dan mengangkat tubuh Aelyn untuk di baringkan di atas sofa.
Beberapa kali, lelaki itu menepuk pipi Aelyn untuk membangunkannya. Kenan mengerutkan keningnya, lalu menyentuh dahinya untuk merasakan suhu tubuhnya.
"Apa ada pengecek suhu tubuh?"
Mamanya mengangguk lalu berjalan ke arah bufet di ruang tamu, dia membuka laci mengambil alat pengukur suhu. Memberikan pada Kenan, segera lelaki itu menaruh pengukur suhu itu di ketiak Aelyn, sambil menunggu beberapa saat. Suara alarm penanda berbunyi dibarengi layar tempat suhu terlihat itu menjadi merah menandakan dia tidak baik-baik saja.