"Kuasailah hati kami ini Tuhan agar kami layak untuk beribadah kepada Mu. Ini doa kami yang kami bawa, doa ini hanya di dalam nama anakMu Yesus Kristus. Tuhan dan jurus slamat kami.... Haleluya.. Amin" Pandu pendeta yang tak lain adalah ibuku sendiri.
"Amin..." diikuti para jemaat yang lainnya.
Pukul dua belas siang adzan dzuhur berkumandang, aku dan abangku yang baru keluar dari gereja berlari ke arah masjid. Untuk apa? Iyaa kami shalat layaknya orang muslim. Ayahku seorang muslim dan ibuku nasrani lebih tepatnya seorang pendeta. Ayah ibuku menikah beda agama. Aku dan abangku sedari kecil tak pernah dipaksa untuk memilih agama Islam ataupun Kristen, karena menurut orang tuaku agama adalah apa yang kalian percayai dengan sepenuh hati. Tapi walaupun tak pernah memaksa, orang tuaku menginginkan aku dan abang untuk tetap mempelajari ilmu agama entah itu agama Islam ataupun Kristen.
Setiap perayaan hari raya Islam ibu membantu ayah mempersiapkan semuanya, begitupun sebaliknya saat natal ayah membantu ibu menghias pohon natal. Jika saat natal ayah tak mempermasalahkan ibu memutar lagu-lagu rohani ataupun yang berbau kristiani, hanya saja ayah meminta agar ibu tak akan pernah menghidangkan makanan yang menurut agama ayah, haram. Selain haram hukumnya bagi agama ayah, daging hewan itu juga tidak baik untuk kesehatan. Ibu pun menyetujuinya.
Rumahku diapit oleh dua tempat ibadah, lima puluh meter sebelah kanan ada sebuah masjid dan kurang lebih seratus meter sebelah kiri ada sebuah gereja. Di lingkunganku sendiri mayoritas beragama islam namun bukan berarti gereja nampak sepi, bahkan disetiap peribadatan gereja selalu penuh.
Ayahku seorang muslim yang taat, shalat lima waktunya tak pernah putus, puasa wajib dan sunnah dijalankannya, zakat pun ditunaikan hanya saja ayah belum berhaji. Begitu pula dengan ibu yang tak lain adalah seorang pendeta. Ibu kadang sedih dia berkhutbah di depan jemaat agar taat pada Tuhan Yesus tetapi anak-anaknya diwaktu-waktu tertentu meninggalkan Tuhannya. Aku hanya mengatakan bahwa ibu harus konsisten, menyerahkan keputusan ditanganku dan abang karena agama apa yang nanti kita pilih itu adalah agama yang paling benar menurut kita.
Sejak aku kecil aku sering melihat ayah dan ibu berkelahi, ada saja masalahnya. Tapi disemua masalah yang muncul tak pernah mengenai agama, mereka berkelahi hanya dengan masalah sepele. Ayah yang tak suka teman-temannya ibu, ibu yang tak suka cara berpakaian ayah yang mengikuti jaman atau hanya karena aku dan abang yang sering jajan dipinggir jalan. Dari luar nampak keluarga kita adalah keluarga yang saling menghargai, yang harmonis, namun itu hanyalah nampak luarnya saja berbanding terbalik dengan kenyataan.
Perkelahian dan perdebatan mereka memuncak ketika ibu tau abang sudah tak lagi ke gereja, abang sudah menjadi pemuda masjid di kampung kita. Abang sudah jarang di rumah, dia lebih banyak di masjid dan ikut jama'ah tabligh bersama pemuda masjid lainnya. Dan tepat dua tahun setelah aku pubertas, aku memilih untuk sekolah menengah atas di pesantren. Aku lebih tertarik dengan ajaran Islam tapi aku tak bisa lepas dengan asesoris natal atau lagu natal anak-anak.
Masuknya aku ke pesantren tak dikekang oleh ibu hanya saja ibu tampak kecewa dengan pilihanku. Sebelum masuk pesantren ibu memberiku nasihat "Ingatlah nak, kau selama ini sehat, tumbuh jadi gadis cantik dan pintar ini karena Tuhan. Tuhanlah yang menjadikanmu seperti ini, berterima kasihlah pada-Nya. Tuhan Yesus memberkatimu." Ibu pun mencium keningku. Aku yang masih kurang ilmu agama Islam hanya mengangguk dan tersenyum.
Tahun pertamaku di pesantren ku lalui dengan lancar, prestasiku masih di atas teman-teman, aku pun sudah bisa menghapal semua surah dijuz tiga puluh. Waktu kepulanganku ke rumah bertepatan dengan bulan puasa Ramadhan, seperti biasa ibu menyiapkan makanan sahur dan buka puasa untuk aku dan ayah. Abang pergi merantau ke kota sebelah sembari melanjutkan studinya ke jenjang perkuliahan. Setiap minggu ibu selalu mengajakku ke gereja namun aku menolaknya dengan halus. Aku ingin dibulan ramadhan ini mencari pahala sebanyak-banyaknya, tampak kekecewaan terpancar diraut wajah ibu.
Tak terasa waktu liburku berakhir, aku akan kembali ke pondok. Sebelum pergi aku meminta izin ayah dan ibu untuk tidak pulang di ramadhan tahun depan, aku ingin di pondok saja memperdalam lagi ilmu agamaku. Ayah sangat senang mendengarnya sedangkan ibu, lagi-lagi menampakkan wajah kekecewaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Ayah [SELESAI]
SpiritualSesungguhnya hidayah dari-Nya datang dari mana saja. #1CerpenIslami #1Gereja #1CintaIbu
![Pilihan Ayah [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/138858007-64-k902938.jpg)