Ada hal yang mengejutkan aku dan ayah ketika abang pulang. Abang membawa wanita yang berhijab syar’i dan bercadar ke rumah. Bahkan wanita muslimah itu memegang erat tangan abang. “Abang sudah menikah?” tanyaku dalam hati. Aku tak pernah berpikiran bahwa wanita itu pacar abang, abang pasti sudah menikah. Mana mungkin dia yang malu terhadap wanita membiarkan tubuhnya disentuh oleh wanita yang belum halal. Instingku makin kuat, ini pasti istrinya.
“Kok kamu ga bilang kalo udah menikah?” Tanya ayah. Ketika abang bersalaman dengan ayah, wanita yang bersamanya hanya menundukkan kepala dan terus menggenggam erat tangan abang.
Aku mempersilahkan wanita itu duduk di sebelah abang dan segera membuatkan minuman untuk mereka. Aku menyuguhkan minuman di atas meja namun tak ada suara yang terdengar, hening semua dengan pikirannya masing-masing. Aku rasa abang masih canggung memperkenalkan istrinya kepada kami dan ayah mungkin masih belum bisa menerima kenyataan bahwa abang telah menikah tanpa sepengetahuannya. Alhasil aku pun mencairkan suasana dengan menanyakan kabar abang dan istrinya.
Abang tak menjawab pertanyaanku, dia memasang wajah yang serius membuatku bertanya-tanya apa yang hendak dikatakan abang.
“Bissmillahirrahmanirrahim.” Kata abang memecahkan keheningan mengawali pembicaraannya yang masih terlihat gugup. “Jadi kapan ayah akan menikah lagi?” Tanya abang yang memulai percakapan.
“Ah abang masa mau membahas pernikahan ayah sedangkan istrinya belum diperkenalkan kepada kita.” Kesalku dalam hati. Mungkin ayah sama kesalnya denganku sehingga membuat ayah mengalihkan pembicaraan. Namun lagi-lagi abang menanyakan hal tersebut. Aku tak suka abang membicarakan pernikahan di depan istrinya, aku pun meminta abang untuk tidak membicarakan pernikahan ayah.
“Ayah pernah bilang bahwa orang yang memaafkan kesalahan orang lain adalah orang yang mulia.”
“Itu kata Rasulullah nak.” Jawab ayah.
“Maukah ayah memaafkan semua kesalahan dari orang-orang yang pernah menyakiti ayah?” Tanya abang yang membuatku bingung. Istrinya nampak kelihatan sedih, walaupun masih dengan menunduk tapi sangat terlihat dengan jelas bahwa istrinya baru saja menghapus air mata. Membuatku berpikiran yang tidak-tidak.
Instingku selama ini hampir tak pernah melenceng, wanita ini pasti telah dirusaki abang sehingga abang ingin meminta maaf ke ayah karena telah membuat ayah kecewa. Ya Allah cobaan apalagi ini.
“Tentu saja. Apa yang telah kau perbuat nak sehingga kau hendak meminta maaf ke ayah?” Sepertinya dugaanku sama seperti ayah. Ku lihat ayah terus menatap dengan penuh tanda tanya ke abang.
Tatapanku tajam ke arah abang. Setega itukah dia merusak wanita muslim ini. Apa dia tak pernah berpikir bahwa dia juga memiliki seorang adik perempuan? Bagaimana jika nanti adiknya yang dirusaki oleh orang lain. Saat itu juga rasa seganku padanya telah hilang. Dia yang selama ini ku banggakan karena berada di jalan-Nya, kini telah melakukan suatu perbuatan dosa besar. “Oh Yang Maha Kuasa, jauhkanlah si jago merah-Mu untuk orang tuaku. Sungguh orang tuaku telah mendidik kami, ayah selalu mengajarkan ajaran-Mu kepada kami.” Doaku dalam hati.
“Jika ayah benar-benar akan memaafkan, tolong maafkan kesalahan yang dulu pernah dilakukan oleh wanita ini.” jelas abang sambil merangkul istrinya. Aku semakin bingung dengan apa yang dikatakan abang, wanita disampingnya semakin menunduk dan sesekali menyeka air matanya dengan ujung jilbabnya.
“Maksud kamu apa nak? Jelaskan saja apa yang telah kau lakukan, Insya Allah ayah tidak akan marah.” Raut wajah ayah nampak menegang. Ayah berusaha menguatkan dirinya sebelum mendengar penjelasan abang.
Abang memeluk istrinya itu dan mempersilakannya untuk berterus terang ke ayah. Namun sebelum istrinya mengatakan sesuatu “Ohiyaa, ayah dan dede sudah salah paham tadi.” Jelas abang.
Wanita yang disamping abang menghapus air matanya dan langsung memohon ampun di kaki ayah. Sontak membuat ayah kaget. Aku yang sedari tadi seperti orang linglung secara refleks mendekati wanita itu dan membantunya berdiri, menjauh dari ayah. Saat tanganku menyentuh pundaknya aku merasa ada yang aneh. Suara tangisan ini. Suara dari wanita ini, aku mengenalnya. Suara yang pernah akrab dengan telingaku. Air mataku jatuh begitu saja ketika wanita tersebut menatapku. Ya Allah… air mataku semakin deras mengalir. Ada sesuatu dibalik tatapan itu.
Wanita itu mengadahkan kepalanya kepadaku. Aku terduduk lemas, air mataku tak dapat ku bendung lagi. Subhanallah. Tanganku menyentuh wajah wanita itu, berharap ini bukanlah mimpi. Aku menatap ayah, ayah pun tampak kaget ketika wanita itu membuka cadarnya. Mata ayah berkaca-kaca. Wanita itu meminta maaf kepada ayah dan kepadaku. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun aku langsung memeluknya dengan erat. Pelukan ini sungguh hangat. Kehangatan yang hanya ada pada pelukan dari seorang ibu. Benar. Wanita yang sedari tadi ku pikir adalah istrinya abang ternyata adalah ibuku. Ibuku yang dulunya seorang pendeta kini telah berubah menjadi seorang wanita muslimah.
Haru bahagia masih terpancar dikeluarga kami. Aku menyampaikan keinginanku agar ayah melupakan bu Rina dan menikahi ibu lagi. Selama ini ternyata ibu memperdalam ilmu agama islam bersama abang, ibu sengaja menyembunyikan rahasia ini karena ibu takut jika nanti masih akan goyah imannya. Makanya ibu berani datang saat keimanannya sudah kuat, abang meyakinkan ayah agar bisa menerima ibu lagi. Tidak butuh waktu lama untuk ayah berpikir dan berkata “Besok kita ke KUA.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Ayah [SELESAI]
EspiritualSesungguhnya hidayah dari-Nya datang dari mana saja. #1CerpenIslami #1Gereja #1CintaIbu
![Pilihan Ayah [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/138858007-64-k902938.jpg)