Waktu berlalu begitu cepat aku pun lulus dari pondok pesantren, aku pulang disambut ayah. Ayah telah berubah, keriput diwajahnya mulai terlihat, badannya sedikit kurus mungkin karena makannya sudah tidak teratur lagi dan sudah terlihat dengan jelas bulatan kehitaman di jidat ayah (baca; tanda sujud). Ibu sudah tidak menjadi pendeta lagi, yang ku dengar ibu malu kepada jemaatnya lantas pergi meninggalkan kota ini dan memulai hidup baru di kota sebelah tepatnya di kota yang sama dengan abang. Dari telponan dengan abang beberapa hari yang lalu, katanya ibu sering datang ke kosannya hanya untuk membawakan makanan kesukaan abang. Aku meminta nomor handphonenya ibu namun kata abang ibu sudah tak menggunakan handphone lagi.
Walaupun ayah dan ibu telah berpisah aku tetap mendoakan kebaikan untuk mereka berdua, didalam sujudku aku selalu meminta agar ibu diberi hidayah-Nya. Bagaimanapun juga aku ingin keluarga yang lengkap.
Selama libur waktuku ku isi dengan membantu teman-teman di masjid mengajar mengaji untuk anak-anak. Ayah menginginkanku melanjutkan kuliah di kota yang sama dengan abang, namun aku menolaknya. Aku tak ingin membiarkan ayah hidup sendiri, aku ingin kuliah di kota ini agar bisa sekalian merawat ayah. Ayah menginginkanku masuk ke jurusan ilmu fiqih namun kampus di kota ini tak membuka jurusan tersebut sehingga ayah menyuruhku mengikuti abang di kota sebelah. Tapi aku tetap saja menolaknya, aku tak tega meninggalkan ayah sendirian. Alhasil aku hanya mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam di kampus di kota ini.
Beberapa hari lagi ospek aku harus menyediakan keperluan yang dibutuhkan, untungnya ada bu Rina, beliau adalah salah satu dosen di kampusku. Bu Rina lah yang membantuku mempersiapkan segala keperluan ospek, bahkan saat jam istirahat bu Rina membelikanku makanan. Tak hanya sampai disitu, selama aku kuliah pun terkadang kalau ada masalah yang berhubungan dengan nilaiku bu Rina turut membantu. Bukan hanya baik kepadaku, bu Rina juga baik kepada ayah. Terkadang bu Rina membuatkan kue kesukaan ayah dan pernah saat ayah sakit bu Rinalah yang membantuku membawa ayah ke rumah sakit. Aku sangat berterima kasih padanya.
Semester satu akan segera berakhir artinya libur pun akan datang. Ayah menghampiriku saat aku sedang membaca Al-Qur’an di ruang keluarga. Ayah ingin membicarakan sesuatu yang penting. Aku pun mendengarnya dengan saksama.
Ya Allah pernyataan dari ayah membuatku kaget bukan main. Ayah ingin menikah lagi. Iya, menikah dengan bu Rina. Ayah cukup dekat dengan bu Rina, ditambah lagi bu Rina sudah banyak membantu aku. Kebetulan bu Rina juga janda, suaminya telah meninggal dunia. Dipernikahan sebelumnya bu Rina memiliki satu anak perempuan, namun sudah dipanggil Yang Maha Kuasa beberapa tahun sebelum suaminya dijemput Yang Kuasa. Ayah meminta pendapatku, ayah pun sudah menelpon abang dan meminta abang pulang membicarakan kemauan ayah ini.
Aku bukannya tidak ingin ayah menikah lagi, bukan juga karena bu Rina yang ayah pilih. Hanya saja aku ingin ibu. Rasanya posisi masih belum bisa tergantikan oleh siapapun, termasuk bu Rina. Aku pun meminta ayah untuk menunggu kepulangan abang, membicarakannya tanpa abang rasanya tak adil.
Aku menyerahkan semuanya kepada-Nya. Ayah pernah bilang ingin mendapatkan istri yang solehah, yang bisa ayah ajak ke jalan-Nya. Jika bu Rina adalah orangnya, aku akan menyetujuinya. Tak henti-hentinya aku berdoa demi kebaikan ayah kepada-Nya. Aku pun tak dapat melarang jika ayah ingin menikah lagi, karena kebutuhan ayah yang satu ini tak dapat diwakilkan.
Beberapa hari setelah mendengar kabar dari ayah dan setelah menyelesaikan urusan kuliahnya, abang pulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Ayah [SELESAI]
SpiritualSesungguhnya hidayah dari-Nya datang dari mana saja. #1CerpenIslami #1Gereja #1CintaIbu
![Pilihan Ayah [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/138858007-64-k902938.jpg)