✿✼:* 1

4.8K 520 174
                                    

Jaemin menggores pensilnya di atas kertas putih yang masih polos. Ia bosan. Teman sebangkunya—sekaligus sahabat karena mereka mengenal sejak SMP—baru saja keluar kelas karena pacarnya datang. Entahlah apa yang mereka bicarakan karena Jaemin melihat Yejin—sahabatnya—sangat bersemangat.

"Jaemin Jaemin!!!!!"

Jaemin yang awalnya menopang dagu langsung mengangkat kepalanya, melihat Yejin yang tergesa-gesa menuju mejanya.

"Jaemin!! Lo ikut nonton konser ya?" ajak Yejin ketika ia mendudukan diri di kursi kosong di depan Jaemin.

Jaemin menggeleng. "Nggak. Emangnya kenapa?"

"Maksudnya gue tuh ngajak lo nonton konser soalnya Seongwoo dapet 3 tiket," kata Yejin. "Konsernya kesukaan lo kok! Ada Honne sama Reality Club!"

Jaemin diam. Mereka memang kesukaan Jaemin, tapi apa Jaemin harus ikut dan mengganggu acara 'pacaran' Yejin?

"Kenapa gue?" tanya Jaemin.

Yejin menghela napas pasrah. "Lo gak mau ya?" Yejin balik bertanya.

"Bukan gitu!" tukas Jaemin. "Mau. Tapi kenapa lo ngajak gue?"

Yejin tersenyum penuh kemenangan. "Pas gue tau kalo ada Honne sama Reality Club gue langsung keinget lo gitu," jelasnya. "Secara lo yang bikin gue juga suka sama mereka."

Jaemin mengangguk paham. "Kapan?"

"Tanggal 8. Nanti gue sama Seongwoo jemput lo," jawab Yejin.

"Oke."

Yejin berdiri. Senyum kemenangan masih menghias wajahnya. "Makasih Jaemin!!! Baik banget lo!!" kata Yejin sambil memeluk Jaemin dengan sangat erat. Kemudian Yejin berbisik, "Soalnya mama gak bakal ngebolehin gue keluar kalo nggak ada lo."

***

Di sinilah Jaemin, di depan cermin besar di kamarnya. Ia menghela napas. Kenapa gue harus nerima ajakan dia sih? batinnya.

Ia semangat untuk melihat kedua penyanyi kesukaanya yang nantinya akan berada hanya beberapa meter di mana Jaemin berdiri. Hanya saja sepertinya salah jika harus menerima tawaran Yejin yang sebenarnya ingin berduaan dengan Seongwoo.

"Jaemin, ada temen kamu ada di depan," kata bunda. Jaemin langsung saja mengambil jaket denimnya dan segera keluar kamar.

Di luar ia melihat mobil hitam milik Seongwoo. Setelah mengenakan sepatu, ia keluar dan masuk ke kursi belakang.

"Hei, bro!" sapa Seongwoo. "Udah siap?" tanyanya.

"Udah dong! Yuklah langsung aja!" Jaemin menjawab dengan nada yang paling semangat. Ia semangat dan Yejin adalah alasannya.

Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, mereka sampai di lokasi tujuan. Sudah banyak sekali para penonton yang memenuhi lapangan yang dirancang sedemikian rupa untuk konser kali ini.

"Makan dulu yuk," ajak Yejin pada Seongwoo.

"Mau makan apa?" tanya Seongwoo.

Yejin diam. Ia berpikir dan kemudian menggeleng. "Nggak tau deh," jawabnya yang kemudian membalikan badan. "Lo mau makan apa, Min?" tanya Yejin pada Jaemin.

"Gu-gue makan apa aja mah bisa," jawabnya.

"Ya udah. Gimana kalo di food truck sebelah sama aja?" saran Seongwoo yang dibalas setuju oleh Yejin dan Jaemin.

Hari sudah mulai gelap. Lampu-lampu di sekitar panggung sudah mulai menyala. Bahkan pertunjukan band akustik pembuka sudah di mulai.

Jaemin berdiri di tengah-tengah kerumunan penonton. Ia sibuk menikmati lagu sambil sesekali menghentakan kakinya seirama dengan musik yang didengarnya.

Di sebelahnya ada Yejin dan Seongwoo yang juga asik menikmati lagi yang sedang dinyanyikan. "Mau ke depan gak?" ajak Seongwoo pada Yejin.

"Ayoo," jawab Yejin. "Min, ayo ke depan! Siapa tau lo bisa jabat tangan Fathia," kata Yejin pada Jaemin.

Jaemin tertawa kecil. "Nggak usahlah. Gue di sini aja," ucap Jaemin.

"Oke. Hati-hati bro," kata Seongwoo. "Kalo ada apa-apa ke depan aja," lanjutnya.

Yejin mengangguk. "Telpon gue juga boleh."

"Gue bukan anak kecil kali." Jaemin tertawa. "Udah sana ke depan."

Yejin menarik tangan Seongwoo ke depan. Mereka meninggalkan Jaemin yang sedang tersenyum kecut.

Jaemin sendiri.

┍━━━━

"Wish i was here with someone to hold tight."

━━━━┙

Jaemin tahu kalau Yejin tidak akan memiliki perasaan yang lebih kepadanya.

┍━━━━

"Hello there. I wish it was you."

━━━━┙

hello you »»----- na jaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang