"20.45, arloji menampakan diri dipergelangan tangan.
Ini lebih sepi dari yang pernah ada bagiku".
Suara-suara gaduh dan sunyi sekaligus, membelah pendengaran kita malam ini.
tapi tetap kosong, ruang hampa telah menjelma jadi mimpi kelam.
Dua kursi didepan tidak ditempati, dan jadi pelarian untuk dilihat selain layar besar menyala dihadapan semua orang dalam ruangan, tapi orang-orang diam dan tidak saling bicara untuk waktu yang lama.
Lalu kamu sibuk dengan kacang panggang, popcron-mu, minuman sodamu, film yang tengah diputar sepertiga bagian, tidak melihatku.
Dan setiap orang termasuk kamu hilang dalam pandangan masing-masing, tapi kebahagiaan tidak pernah terjadi lagi setelahnya , setelah semua selesai dan memilih untuk pulang tanpa bicara, membeku untuk suatu ruangan yang pernah dibagi bersama.
Dirumah dari bioskop aku merasa: "Bahwa keramaian tidak menutup kemungkinan untuk menjadi lebih sepi, tambah sepi, tanpa percakapan dan kita semua bertemu bukan untuk bicara, bukanlah untuk menjadi manusia lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
: di kota ku angin tidak ada lagi
PoetryCatatan harian : Bagian catatan dalam saku.
