Kita hanyalah pasir-pasir kecil, lalu lautan adalah lidah takdir yang menarik hempaskan kenyataan. Seorang demi seorang, lalu seorang lagi, takdir mereka digulung-gulung ombak, dan kenyataan adalah air terakhir yang dihempaskan ketepian menunggu kering, entah terhisap, entah kembali kelaut, entah terbawa angin, atau mati kering di timpa cahaya matahari. Hmmm, yahh dengan segala kesadaran mesti juga diakui... kita ini tetap manusia, seperti kata dee, kadang-kadang pilihan terbaik justru menerima.
KAMU SEDANG MEMBACA
: di kota ku angin tidak ada lagi
PuisiCatatan harian : Bagian catatan dalam saku.
