Saat itu pukul lima sore, sekolahku sudah usai. Sebelum pulang aku mampir ke mini market yang letaknya tidak jauh dari daerah rumah majikanku. Sudah menjadi kebiasaan, mampir kesini atau ke taman. Menghilangkan sedikit tekanan yang kurasakan.
Aku membeli sebotol minuman dingin. Lalu duduk di tempat duduk yang disediakan. Meneguk minuman yang kubeli hingga sisa setengah botol.
Aku tidak sendirian disini, ada beberapa pasang orang yang juga duduk di tempat ini.
"Boleh duduk disini?" pinta seseorang menghampiriku.
Aku menengok, melihat wajahnya.
Oh, bukankah dia pria yang pernah kutemui waktu itu? Pacarnya mbak Tern?!
Aku mengiyakan, dia duduk disampingku.
"Pulang sekolah?" dia bertanya.
Aku mengangguk.
"Sudah kuduga."
Hening. Dia memakan snack yang dibelinya, sesekali meneguk minuman. Aku lelah, menyandarkan kepalaku di atas meja.
"Kamu bener-bener nggak peduli sama orang disekitarmu.." dia berbicara, entah dengan siapa.
Aku memejamkan mataku sejenak.
"Huftt.." dia menghela napas, bisa kudengar.
"Hei!" dia menoel bahuku, "haduh berasa ngomong sama setan.."
Ini anak kenapa sih?!
Aku bangun, "ngomong sama aku?" tanyaku menunjuk diriku sendiri.
"Ya kamu pikir ngomong sama siapa coba?"
Aku menatap matanya, ah, jantungku bergetar.
Aku mengalihkan pandanganku darinya, melihat keadaan sekitar. Sudah sepi.
Aku melihat jam tangan yang melingkar di tanganku. Jam lima lebih dua puluh, masih sisa-
"Masih sepuluh menit lagi hingga kamu harus pulang, iya kan?"
Aku menganga tidak percaya! Bagaimana dia bisa tahu?!
"Gimana kamu bisa tahu?"
"Kan aku udah bilang, kamu itu nggak peduli sama apa yang ada disekitar kamu."
"Maksutnya?" aku tidak paham, penjelasannya tidak masuk akal dengan apa yang aku tanyakan.
"Kamu pulang sekolah pukul 4 lebih 45 menit. Sebelum pulang kamu pasti mampir kesini, atau ke taman lebih dahulu. Setelah itu kamu akan pulang jam setengah enam, selalu."
BAGAIMANA DIA BISA TAHU SEDETAIL ITU?!
"Gimana aku bisa tahu? Soalnya aku sering ketemu sama kamu disini atau di taman. Hmm berapa kali ya? Disini lima kali, di taman tiga kali." jelasnya tanpa aku bertanya.
Aku membeku.
"Perhatikan apa yang ada disekitarmu, nak.." katanya sambil mengelus kepalaku yang tertutup jilbab.
Aku menepisnya, dia kaget.
"Hm, maaf.. aku nggak suka disentuh begitu." jelasku.
"E-eh? Nggak apa-apa, maaf kalo lancang menyentuhmu."
Aku mengangguk.
"Kelas berapa?" tanyaku kemudian.
"Kelas sebelas," jawabnya, aku mengangguk.
Aku melihat bet yang ada di saku bajunya, Shrewsbury. Aku menyeringai. Rupanya benar, dia mungkin kekasih mbak Tern karena mereka sekolah di tempat yang sama.
"Kamu?" dia bertanya balik.
"Kelas delapan,"
"Oh, seumuran kayak adekku.." dia bergumam. "Nama kamu siapa?"
"Gitta,"
"Chittaphon," padahal aku tidak bertanya.
Aku mengangguk, kulihat lagi jam ditanganku. Pukul setengah enam. Aku harus pulang. Aku segera beranjak dari dudukku.
Dia juga melihat jam yang melingkar ditangannya, lalu bertanya,
"Mau pulang?"
"Iya,"
"Aku antar."
"Nggak usah makasih, rumahku deket sini kok."
"Nggak apa-apa, kayaknya searah."
"Kamu juga tahu rumahku?"
"Enggak,"
Ah kenapa aku sekarang jadi banyak ngomong sama dia?! Nggak apa-apa deh, aku udah nyaman.
Aku berjalan meninggalkan mini market itu, dia mengikutiku. Berjalan disampingku.
Ah jantung.
"Terus kenapa kamu bisa tahu kalo rumah kita searah?"
"Hmm.. aku hanya menduga.."
"Penguntit!"
"Hei! Aku nggak pernah nguntit kamu ya!"
"Terus kok bisa tahu aku sering mampir kesini sama di taman?"
"Nggak sengaja. Beneran aku nggak sengaja ketemu kamu disini atau di taman!"
Percaya nggak percaya sih. Tanpa alasan, hatiku bahagia.
"Tapi kalo kita ketemu lagi besok, itu bukan nggak sengaja. Tapi emang aku sengaja."
"Hah?"
"Aku bakal sering-sering nemuin kamu setelah ini."
"Kenapa?"
"Karena aku suka."
Duar.
"Hahaha." aku tertawa untuk menghilangkan rasa gugupku.
"Serius tau!"
Aku tersenyum menanggapinya, dia juga.
Ah, aku nggak tahan lihat wajahnya! Kenapa tampan sekali?!
"Aku mau sampai, rumahmu dimana?" kutanya dia ketika aku sudah dekat dengan rumah majikanku.
"Dimana rumahmu?"
Aku menunjuk rumah majikanku.
Dia menghentikan langkahnya.
Aku ikut berhenti, "kenapa?" kutanya.
"E-eh? Enggak. Yaudah, kamu masuk." Dia tiba-tiba kikuk.
"Rumahmu dimana?" kutanya sekali lagi.
"H-hm? Eh, rumahku di kompleks sebelah." jawabnya.
"Loh? Katanya searah? Bukannya rumahmu didaerah sana?" aku menunjuk rumah rumah yang letaknya lebih jauh dari rumah majikanku, tapi searah.
"Kan aku cuma menduga, hehe. Rumahku di daerah sana." jelasnya.
Hm, aku mengiyakan.
"Yaudah, makasih ya. Aku masuk dulu." aku berlari kecil menuju rumah majikanku. "Kamu hati-hati!" kataku tanpa menoleh kearahnya, malu.
"Iya!" jawabnya dibelakang sana.
Untuk pertama kalinya, aku bahagia karena seorang laki-laki.
-1010-
Aku nulis ini soalnya terinspirasi dari drama The Heirs sama High Society. Jadi mungkin akan ada beberapa adegan yang sama, hehe.
Oh ya, semua Idol yang jadi cast di ceritaku itu perannya idol juga, bukan jadi Visual semata.
Paham nggak?
Kalo nggak paham yaudah Wkwkw.
Vote dan Komen, YA!
KAMU SEDANG MEMBACA
High Society [TEN NCT]
Fanfiction"Tanpa diperingatkan pun aku tahu, aku sadar, bahwa kelas kita berbeda. Meskipun begitu, aku tetap memilih untuk mencintaimu."
![High Society [TEN NCT]](https://img.wattpad.com/cover/144386617-64-k411118.jpg)