Aku benar-benar menolak keinginan ibuku. Ibuku ingin aku bersekolah, tapi aku tidak mau.
Keinginanku hanya satu, membantu ibuku bekerja mencari uang.
Aku rela jika aku tidak sekolah, toh aku juga masih bisa belajar sendiri.
"Sekolahin di Shrewsbury aja, bu. Biar bareng sama Ten dan Tern." usul Nyonya tiba-tiba menghampiriku dan ibuku yang ada di dapur.
Aku segera melakukan sesuatu, memberi ruang untuk ibuku dan nyonya berbicara.
"Saya sudah nyari sekolah yang deket sini, nyonya. Alhamdulillah ada yang murah." jawab ibuku. "Nyonya mau dibuatkan sesuatu?"
Nyonya menggeleng.
"Nggak apa-apa bu, sekolahnya biar saya yang bayar. Ibu nggak usah mikir sama biayanya. Yang penting disekolahin, jangan sampai nggak sekolah. Barangkali Gitta nanti tertarik disekolah Ten, bilang ya bu, nggak apa-apa."
Nyonya menghampiriku, mengelus pucuk kepalaku yang tertutup jilbab.
"Jam tujuh Tern pulang sekolah, nanti kamu samperin ya dikamarnya? Tern bilang mau kenalan sama kamu. Ah ya, nanti kalo keatas sekalian bawain susu sama cemilan ya. Nggak apa-apa kan?" pinta nyonya padaku.
Aku mengiyakannya, singkat.
Setelah itu ibu membawaku ke kamar.
"Udah ya nak, sekolah aja di tempat yang ibu bilang tadi. Kamu itu masih kecil, nggak seharusnya putus sekolah. Sekarang pendidikan itu penting! Apapun yang terjadi, kamu harus sekolah sampai kuliah! Jangan seperti ibumu, ayahmu, yang pendidikannya rendah. Jangan!" maki ibuku.
"Emang kalo sekolah disekolah anaknya nyonya kenapa bu?" tanyaku yang emang nggak ngerti.
Ibuku tertawa pelan. "Nak, sekolah disitu, biayanya mahal. Uang buat bayar sekolah sebulan bisa buat bertahan satu tahun buat keluarga kita, nak." penjelasan ibuku sukses membuatku menganga tak percaya.
Semahal itukah?
Keluarga ini se-kaya apa sih?!
"Ibu yakin ibu bisa biayain kamu, tapi jangan patah semangat kalo sekolahnya tempatnya biasa aja, yang penting kan ilmunya."
Aku mengiyakan nasihat ibuku.
Oke, demi ibuku aku akan melanjutkan sekolah.
Kata ibu, senin aku sudah bisa sekolah. Sekarang hari sabtu dan besok minggu.
***
Sesuai perintah nyonya, aku nggak lupa. Malam itu sekitar pukul tujuh lebih dua puluh menit, aku menuju kamar Tern. Sambil membawa susu dan cemilannya.
Kuketuk pintu kamarnya.
"Siapa?" tanya orang diseberang sana, pasti Tern.
"Gitta." jawabku.
"Masuk masuk.."
Kubuka pintunya, aku masuk kedalam.
Wuah, kamarnya lebih besar dari kamar tempat aku ibu dan ayahku tinggal.
Kuletakkan susu dan cemilan itu di meja.
Aku duduk di bawah. Tern menghampiriku sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Habis mandi, nona?" tanyaku seramah mungkin.
"Iya.." jawabnya sambil tersenyum. Cantik!
"Jangan panggil nona, kita seumuran kok." Dia duduk di kursi yang ada dihadapanku. "Jangan duduk di bawah, sini." ujarnya sambil menepuk sofa disampingnya.
"Anggap aja aku teman kamu, jadi panggil nama aja. Jangan pakai bahasa formal juga, ya? Kita seumuran, aku masih kelas delapan." Dia turun dari sofa, duduk di karpet bawah denganku. "Aku duduk dibawah juga ya? Biar santai ngomongnya."
Aku tersenyum.
"Aku panggil mbak nggak apa-apa?" tanyaku sedikit ragu. Aku hanya mencoba membuatnya nyaman tetapi tetap sopan walaupun kelas kita berbeda. Jadi, aku ingin mencoba memanggilnya dengan bahasa jawa yang menurut aku sopan.
"Mbak? Mbak itu apa?" tanyanya bingung. Dia mengambil satu biskuit, memakannya.
"Mbak itu bahasa jawa, bahasa daerah, artinya kakak." jelasku singkat.
"Ohh, kakak.. boleh juga aku suka panggilannya! Lain dari yang lain ya!" aku tidak menduga bahwa responnya akan baik. "Eh tapi, aku sama kamu lebih tua siapa ya? Aku lahir bulan februari, sama kayak kakak. Tanggalnya aja yang beda. Kamu bulan apa?"
"Saya bulan juli."
"YES! Berarti kamu cocok manggil aku mbak, hehehe." katanya sambil memyilangkan kedua tangannya di dada dan tertawa.
Aku tidak menyangka, dia semenyenangkan itu. Awalnya kupikir kita akan canggung mengingat dia adalah anak majikanku sedangkan aku anak pembantu.
Tapi ternyata tidak, dia seolah tidak peduli dengan kelasku. Dia tidak peduli bahwa aku berasal dari kelas rendahan.
Saat kutanya mengenai hal itu, jawabnya singkat,
"Ah, semua orang sama. Tidak ada hal seperti itu dikamusku. Bagiku di dunia hanya ada dua macam orang, orang baik dan orang jahat." jelasnya. "Dan aku tipe orang yang nomor tiga."
Aku bingung,
"Katanya hanya ada dua macam orang? Yang ketiga apa?" tanyaku.
"Orang cantik!"
Seketika ruangan itu penuh dengan gelak tawa kita berdua.
***
Minggu pagi, aku memilih untuk membantu ibuku. Aku pergi ke food market yang tidak jauh dari rumah majikanku. Mungkin membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk berjalan kaki.
Nggak apa-apa, sambil berolah raga.
Daerah di kawasan rumah majikanku rupanya daerah elit. Melihat suasana rumah disekitar mewah-mewah.
Sesekali aku melihat orang berlalu lalang. Ada yang berjalan, ada yang sedang jogging, ada yang bersepeda.
Saat itu juga, jantungku bergetar tanpa alasan. Mataku tidak lepas dari orang yang sedang berlari melawan arus denganku.
Aku mengamatinya sejak dari kejauhan. Ketika dia sudah dekat denganku, sekilas mata kita bertemu. Dia melirikku, aku memalingkan muka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah kurasa dia sudah jauh dibelakangku, aku berbalik. Hendak melihatnya sekali lagi.
Ternyata, dia belok masuk ke pekarangan rumah majikanku.
"Mungkinkah dia kekasih mbak Tern?" tanyaku pada diriku sendiri.
Lalu aku menampar pipiku dengan keras, menyadarkan diriku sendiri dari perasaan yang aneh ini.