07 : who is Chittaphon?

160 18 8
                                        

Aku tidak pernah mengatakan "ya" untuk menerimanya, dan aku juga tidak pernah mengatakan "tidak" untuk menolaknya. Lalu apa? Aku hanya menjalaninya begitu saja. Toh aku juga tidak pernah merasa risih dengan kehadirannya. Justru aku senang, amat senang.

Walaupun aku tidak tahu asal usul tentang siapa itu Chittaphon, aku tetap menerimanya. Aku tidak berniat untuk mencari tahu. Karena suatu hubungan itu tidak selalu harus tahu tentang siapa pasanganmu. Selama dia baik, selama dia nggak aneh-aneh, aku bisa menerimanya.

Chittaphon itu lucu. Chittaphon itu baik. Chittaphon itu ganteng. Buruknya Chittaphon itu cuma satu, alay.

Walaupun begitu, kealayannya tidak membuatku ilfeel sama dia. Justru kealayannya membawa banyak kebahagiaan. Hehe.

Hubungan aku sama Chittaphon itu sehat. Sehatnya gimana? Aku nggak pernah aneh-aneh sama dia.

Aku ketemunya ya di mini market, atau di taman. Kalo pulang sekolah selalu ditungguin disitu, tergantung janjiannya dimana.

Kadang-kadang kalo hari minggu Chittaphon ikut nemenin aku belanja. Nggak selalu, soalnya Chittaphon juga ada kesibukan sendiri.

Namun ada yang berbeda untuk pagi ini. Tidak seperti biasanya, aku melihat Chittaphon di depan mini market itu. Dia duduk diatas sepedanya, sibuk memainkan ponsel dengan telinga dipasanga headset.

"Chittaphon?!" panggilku menghampirinya.

"Oh, kamu udah datang?" Chittaphon segera melepas headsetnya ketika aku datang, lalu menyimpan ponselnya di saku.

"Ngapain disini?" kutanya.

"Nungguin kamu," jawabnya tersenyum. "Ayo aku antar ke sekolah."

"Loh? Kamu nggak sekolah?"

"Em- aku libur hari ini." jawabnya tanpa menoleh kearahku, lalu mengambil tas plastik yang ada di keranjang sepeda. "Sini, balik." Chittaphon menyuruhku mendekat dan berbalik, aku menurut.

Chittaphon memasukkan sesuatu kedalam tasku, lalu berkata, "Itu roti sama susu dimakan ya,"

Aku senang dengan perlakuan manis yang tidak terduga darinya itu. Ya, Chittaphon selalu seperti ini, perhatian.

"Ayo naik," pintanya, tanpa mengucapkan sepatah kata aku langsung naik. "Pegangan,"

"Modus!" kataku, Chittaphon tertawa.

Selama diperjalanan aku membicarakan banyak hal dengan Chittaphon. Hanya tentang hal-hal sepele seperti apa yang sudah kami lakukan kemarin, atau apapun itu sesuatu yang ringan untuk dibahas.

"Gimana? Capek nggak aku antar?"

"Enggaklah kan kamu bonceng,"

"Iya, aku yang capek jadinya."

"Hahaha,"

"Nggak apa-apa demi kamu,"

"Basi!"

Chittaphon, dengan segala gombalan alaynya yang selalu membuatku bahagia.

"Kamu kenapa libur?"

"Gurunya ada rapat." jawabnya singkat, aku hanya mengangguk paham. "Udah sampai, nanti sore aku jemput lagi ya?"

"Nggak usah, makasih." tolakku.

"Loh kenapa?" tanya Chittaphon seolah bingung dengan penolakanku.

"Kamu capek nanti,"

"Nggak kok! Udah masuk sana! Nanti setengah empat aku disini ya? Oke?"

"Nggak kok! Udah masuk sana! Nanti setengah empat aku disini ya? Oke?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Chittaphon menyuruhku segera masuk sambil mengangkat jempolnya.

Nice, kenapa chittaphon selalu ganteng?



---

Malam itu, suasana rumah majikanku tampak tegang. Masalahnya hanya satu, anak pertama mami- Ten katanya bolos sekolah hari ini.

Kata ibuku, mami terlihat geram semenjak mami dapat telepon dari sekolahnya bahwa hari ini Ten tidak sekolah.

Aku, yang saat itu mencuci piring didapur sibuk dengan pikiranku sendiri. Maksutnya aku tidak konsen untuk mencuci piring. Karena aku teringat Chittaphon.

Bukankah hari ini siswa Shrewsburry libur? Ah, aku tiba-tiba pusing.

"TEN! Darimana kamu?!" Aku bisa mendengar suara mami yang marah dari dapur sesaat setelah aku mendengar ada seseorang yang masuk dirumah ini, pasti Ten.

"Eh- mama? Hehe, habis dari rumah temen."

"Kamu kenapa bolos sekolah?"

"Bentar ma, jangan marah dulu Ten haus mau minum."

"Ten! Mama ini lagi marah sama kamu, nak!"

Tidak lama setelah itu terdengar derap kaki mendekat, aku masih sibuk dengan pikiranku hingga semuanya buyar ketika aku mendengar seseorang membuka pintu dapur.

Aku menoleh, dan

"CHITTAPHON?" teriakku refleks karena terkejut,

"GITTA?" Chittaphon juga tampak sama terkejutnya denganku.

Saat itu juga, aku seperti merasa bahwa seluruh hatiku akan hancur seketika

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Saat itu juga, aku seperti merasa bahwa seluruh hatiku akan hancur seketika. Karena aku sungguh tidak paham dengan apa yang sudah terjadi denganku.



-1010-










Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 19, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

High Society [TEN NCT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang