"Surat cerai?" -Hyorin
AUTHOR POVHyorin yang membaca isi kertas itu pun nampak terkejut tak percaya atas apa yang dilakukan Oppanya ini.
"Op-oppa?apa maksudnya ini?kau ingin memisahkanku dengan Jimin?" Tanya Hyorin
"Ne...memisahkanmu dengannya adalah keputusan yang baik.Kau tanda tangani saja Hyorin dibawah kertas itu.Lalu kau akan bebas dari pria brengsek ini" ucap Hoseok dengan menekan kata brengsek
"Tidak Oppa..kau tidak bisa memisahkanku dengan Jimin." -Hyorin
"Iya Hyung.Aku tidak bisa berpisah dengannya." -Jimin
"Kalian itu mengapa keras kepala sekali?bukannya senang jika kalian tidak bersama lagi?tidak ada yang mengganggu kalian lagi." -Hoseok
"Aku meminta maaf kepada Hyorin tadi,aku sadar atas apa yang aku lakukan selama ini.Dan aku benar-benar menyesal.Ternyata selama ini Hyorin tidak bersalah.Selama ini aku salah paham,Hyung.Itu yang membuatku menyiksanya setiap hari." Jimin mulai menjelaskan kebenarannya.
"Aku juga ingin meminta maaf kepadamu,Hyung.Aku telah menyakiti adikmu.Tolong maafkan aku.Apa kau memaafkanku?" Jimin menanti jawaban Hoseok.Kepalanya menunduk.Hoseok menoleh ke arah Hyorin.Hyorin mengisyaratkan iya.Hoseok tampak berpikir lagi.Lalu dia memberi keputusan.
"Kau sungguh menyesali perbuatanmu?atau kau berpura-pura saja?" -Hoseok
"Aku serius,Hyung." Jawab Jimin masih menunduk
"Kau akan kumaafkan,kau tahu?aku tidak tega melihat adikku memohon agar aku memaafkanmu.Kuharap kau tak menyakitinya lagi."
Jimin mendongak menatap tak percaya ke Hoseok
"Ah ne..ne...aku tidak akan menyakitinya,Hyung.Terimakasih telah memaafkan ku." Ucap Jimin sambil tersenyum
"Aku akan membuang ini." Hoseok mengambil kertas yang dibawa Hyorin.
"Terimakasih Oppa.Aku menyayangimu" -hyorin
"Ne..semoga kalian akan hidup bahagia" Hoseok memeluk keduanya
Mereka bertiga tersenyum.Akhirnya apa yang Hyorin inginkan terwujud juga.Ini awal yang baik untuk memulai hidup lagi bersama Jimin.
Hoseok pamit untuk pergi.Setelah Hoseok pergi suasana canggung.Hyorin dan Jimin tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Mmm.." ucap Hyorin dan Jimin bersamaan
"Kau dulu" -Jimin
"Tidak kau dulu saja" -Hyorin
"Bukankah perempuan harus pertama?" Ucap Jimin
"Baiklah..mmm kau..ah tidak maksudku mengapa pulang secepat ini?bisanya kau pulang malam."
"Aku..aku ingin cepat-cepat pulang dan meminta maaf padamu tadi.Setelah aku tahu kebenarannya" -Jimin
"Oh begitu.Oh iya kau mau mengatakan apa?aku sudah berbicara padamu.Sekarang giliranmu." -Hyorin
"Mmm...tidak...tidak jadi." Jimin menampakkan eyes smile nya
"Katakan saja Jimin-ah.Jangan membuatku menunggu." -Hyorin
"Kau..kau..*Jimin memejamkan matanya mengumpulkan nyalinya dan menarik nafas lalu membuangnya
Huft
"Malam ini dan seterusnya tidur dikamarku" Ucap Jimin secepat kilatMata Hyorin membulat tak lupa mulutnya menganga.Tak percaya jika Jimin mengatakan itu,ini seperti mimpi.Hyorin mencubit pipinya.Ternyata ini bukan mimpi.Betapa senangnya Hyorin.
"Ne" Wajah Hyorin memerah
Hyorin langsung menuju kamarnya,ia tak ingin Jimin melihat wajah nya yang saat ini memerah.
Jimin pun menuju kamarnya***
At 21.00
Hyorin berada dikamar Jimin.Ya itu karena permintaan Jimin tadi.Jimin dan Hyorin sedang asik menonton acara tv.Mereka sesekali bercanda.
"Jim,aku ngantuk.Aku ingin tidur." -hyorin
"Tidurlah,aku masih ingin menonton tv.Acaranya belum selesai." Ucap Jimin
Tak ada jawaban dari Hyorin,rupanya Hyorin sudah tertidur.
Acara tv yang ditonton Jimin pun selesai.Saatnya jimin tidur.
Saat ia berbalik badan.Ia melihat Hyorin yang tidur dengan agak memperlihatkan bra nya yang berwarna merah.Karena dua kancing baju tengahnya Hyorin terbuka."Tahan Jim,tahan..kau tak boleh menerkamnya saat ia tidur.Kau bukan Baji*gan" ucap Jimin lirih karena tak mau Hyorin mendengarnya
Akhirnya Jimin memposisikan tidurnya di samping Hyorin.Ia memiringkan badannya menghadap Hyorin.
"Sial!kenapa aku ingin selalu melihatnya?"
"Apa dia berniat menggodaku?" Ucap Jimin dalam hati.Terpaksa Jimin menahan hormonnya itu.Ia berusaha tidur,tapi tangannya tak henti-hentinya ingin menyentuh tubuh Hyorin.
"Aish..ada apa ini?aku ingin menyentuhnya.Apa dia akan marah?" Batin Jimin
"Tentu ini tidak masalah kan?toh aku suaminya.Jadi sah-sah saja aku menyentuhnya."Akhirnya Jimin mendekati dan memeluk Hyorin.Jimin mengendus kan kepalanya ke leher Hyorin.Deru nafas Jimin pun dapat dirasakan dileher Hyorin.Hal itu membuat Hyorin risih.Tak lama Hyorin membuka matanya,ia merasakan ada yang sedang memeluknya.
Dan taraaaa
Jimin sedang memeluknya.."Hah..Jimin!" -hyorin
Jimin pun agak terkejut,karena Hyorin bangun.Lalu dia melanjutkan aktivitasnya yang tadi."Apa yang kau lakukan?" Ucap Hyorin
"Memangnya kenapa?" -Jimin
"Tidak." -hyorin
"Aku ingin." -Jimin
"Kau ingin apa?" Ucap Hyorin santai
"Olahraga malam denganmu." -Jimin
"Mana ada olahraga malam-malam seperti ini?"hyorin terkekeh mendengar Jimin
"Maksudku,kita membuat baby." -Jimin
Deg
Jantung Hyorin berdetak tak karuan.Jimin ingin sesuatu.Dan Jimin meminta melakukan 'itu' bersama nya.Astaga..
"Mau ya?" Ucap Jimin memohon
==================================================================
Vote
and
Comment

KAMU SEDANG MEMBACA
Ketulusan Istriku ✔done
FanfictionBagaimana jika seorang wanita yang begitu dicintai bisa begitu dibenci saat sudah menikah?bagaimana nasib pernikahannya? akankah menjadi pernikahan yang baik atau malah pernikahan yang buruk? Sad, happy, creepy in here.