Chapter 5

2.6K 448 43
                                        

Naruto terduduk di kursi kayu di pinggiran trotoar, gadis kecil itu menangis pilu karena sudah jam sepuluh malam, dan seharian ini tidak ada orang yang mau membeli korek apinya, bagaimana dia mau membeli tanah rumah yang sangat mahal jika jualannya saja tidak laku seharian ini, apa yang akan di katakan kepada Ayame? Dia pasti sangat sedih, semua orang sudah bekerja keras untuk bisa mencari uang.

"Hiks..." dia mengusap-ngusap pipinya yang basah oleh air mata, dan ia mendongkan kepalanya saat mendengar suara langkah kakinya seseorang.

Ini sudah sangat malam, dan saat ini sedang hujan salju dengan angin yang berhembus kuat, Naruto akui dia rasanya ingin mati karena kedinginan tapi mengingat ia hari ini tidak membawa uang, membuatnya takut untuk pulang padahal Ayame tidak akan marah sama sekali, tapi ia terlalu takut mengecewakan.

Naruto mengusap air matanyanya kasar hingga ia bisa melihat dengan jelas siapa yang mendatanginya. Saat ia mampu membuka kedua matanya, ia tersenyum lebar melihat seorang pria dewasa yang selama ini tunggu, apakah pria itu akan membawanya kembali? Atau akan membantunya membeli lahan.

Ia tersenyum lebar, dengan mengabaikan badai salju, ia turun dari kursi dan segera memeluk tubuh pria itu erat.

oOo

Sasuke duduk dengan gelisah menunggu malam, dia sudah tidak sabar menunggu telpon dari Shikamaru, bahkan sudah hampir lima kali ia menelpon Shikamaru untuk pertanyaan yang sama. "Sudah dapat infonya?" itulah pertanyaan setiap kali menelpon Shikamaru dan sepertinya seketaris pribadinya itu sudah muak dengannya saat ini.

"Hanya ada satu perusahaan yang memiliki lahan yang cukup besar di Oto." Jawab Shikamaru.

"Perusahaan apa?" tanya Sasuke dengan jantung berdegup kencang karena rasa penasarannya sudah sangat tinggi.

"Sasuke, apa kau mencari tahu tentang Naruto?" Cukup lama Sasuke terdiam, lalu ia menjawab ya.

"Aku sudah mencari tahu semuanya Sasuke, terutama dengan anak kecil bernama Naruto itu. Ini sangat mengejutkan sekali."

"Cepat katakan Shika!"

"Uzumaki Naruto adalah putri bungsu Presedir The Nami Group, dan lahan itu miliki perusahaan The Nami Group."

Kedua mata Sasuke terbelalak lebar, jangan bilang kalau yang membunuh Naruto kemungkinan ayahnya sediri? Lalu kenapa bisa Naruto bisa berada di panti jika dia anak seorang presdir?

"Aku masih tidak mengerti."

"Minato-san membuang putrinya sendiri yang di anggap membawa sial, semasa hamil Naruto, istrinya sering sakit-sakitan, bahkan perusahaannya beberapa kali mengalami kegagalan lalu karena melahirkan Naruto istrinya harus terbaring koma hampir satu bulan kemudian meninggal dunia, Minato-san menyalahkan Naruto atas semuanya."

Deg!

Sasuke terdiam mendengarnya, hatinya berdenyut sakit mendengarkan semua cerita Shikamaru.

"Apakah itu alasannya membakar putrinya sendiri?" tanya Sasuke pedih dan Shikamaru terdiam di sebrang sana untuk beberapa saat.

"Aku tidak tahu, dan aku mendapatkan informasi tentang Naruto dari mantan seketaris Minato-san setelah kami tahu tentang lahan itu merupakan milik The Nami Group."

"Shika, tolong urus semuanya, aku ingin membeli lahan itu."

"Baik."

"Shika, apa kau bisa mencari tahu nama ponsel Minato-san?"

"Aku akan cari tahu, nanti aku kirim lewat Line."

"Oke."

Sasuke menutup telponnya lalu menghubungi Sakura, ia jelaskan semuanya termasuk kemungkinan tentang Minato lah yang membunuh putrinya sendiri.

Api Harapan [END Tersedia Versi PDF]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang