"Woi, kantong kresek! Pelan kek jalannya!" Gue lagi misuh-misuh sepanjang jalan gegara Daniel jalannya cepet banget.
"Gue b aja perasaan gak cepet-cepet." Ih tuh kan. Tololnya kebangetan.
"Di mana-mana langkah kaki cowok lebih lebar dari cewek!"
"Makanya jangan punya kaki pendek." - Daniel
Darah tinggi gue.
"Sini gue gendong." Daniel balik ke arah kita kan terus dianya jongkok ngebelakangin gue sama Ruy.
"Ngapain lo? Gue ogah naik, ya!" Gue nendang bahunya.
"Bukan lo, setan! Ruy, naikin aa sini." - Daniel
"Iya, Ruy. Digendong Daniel, ya? Biar lo gak capek." Bujuk gue ke Ruy yang mukanya merah.
Hm... ada sesuatu nich.
"E-eh, enggak. Engga apa-apa kok, aku kuat!" Ruy nolak sambil geleng-geleng.
"Lo mau gue gendong di depan apa belakang?" - Daniel
"E-eh?!" Ruy gelagapan. Bisa gue simpulkan dia naksir sama kobokan aer cem Daniel.
"Udah naik aja. Ena kok. Gue aja pernah digendong dia gak jatoh." Kata gue manas-manasin.
Cewek mana sih yang gak panas kalo cowok yang disukainya punya banyak kenangan sama cewek lain?
"I-iya deh." Hm. Yakan. Hacep udah.
Mereka gendongan kan tapi gue ditinggal lagi. Sialan emang si Daniel. Untung temen dari orok. Kalo kaga gue sumpahin itu dia giginya maju.
Eh, jangan deng. Udah maju masa maju lagi? Ntar dikira Eli Sugigi.
Di sepanjang jalan gue liat banyak orang pacaran di kursi-kursi panjang pinggir taman.
Ngabisin tempat, anjir!
Masa sekursi yang nempatin cuma sepasang manusia sih? Kasian kan yang jomblo ngenes liatnya.
Gue jalan santai gitu di depan muda-mudi yang lagi pw. Beberapa cowok ada yang merhatiin gue walau di depannya ada ceweknya.
Yha. Resiko cewek cantik ya gini. Hnghhh.
Gue belom tertarik sih buat pacaran. Gue mau ngejomblo dulu. Tapi gue beda, gue bukan macem jones-jones sebangsa Naetha yang belom juga dapet pasangan sampe sekarang.
Ujuy lagi mengusahakan buat jadiin kakak gue, Chanyeol, jadi pasangan dia. Kiles sih katanya pengen sama Taehyung kakaknya Ujuy. Dan gue takutnya kita semua nanti bakalan jadi keluarga besar.
Amit-amit jabang baby.
Gue mencoba mengusir pikiran-pikiran mengerikan itu dari kepala gue. Gue nyeberang jalan kan ke salah satu resto yang dijadiin tempat berkumpulnya anak-anak perusak bangsa.
"Widi... pasangan baru ni ye. Uhuy-uhuy!" - Ujuy
"E-engga!" - Ruy
"Kok engga sih, ayang beb? Kita kan pacaran." - Daniel
"Ngegas banget, bangsat!" - Kiles
"Mata gue ternodai, asu!" - Naetha
"Woi sini buru, Jye!" - Ujuy
Kita semua duduk. Ruy masih tepar kayaknya. Soalnya dia dari tadi ngirupin minyak kayu putih mulu. Takut kobam gue.
Terus pelayan dateng nyatet menu-menu pesenan kita.
"Eh, tau gak?" - Naetha
"Apa?" - Ujuy
"Itu si Irene sama Seulgi," - Naetha
"Iya, bangsat, kenapa? Jan lo potong-potong, asu!" - Kiles
"Crot. Gue denger-denger mereka mau dikeluarin dari sekolah." - Naetha
"Ha? Ha? Kenapa? Kok bisa? Waduh, ciwi seksi berkurang dong!" - Daniel
"Lobang mulu otaklu, anj!" - gue
"Mereka ketahuan hamil." - Rafael
"Uhuk!" Bangsat, gue keselek! "Anjing, idung gue panas!" Gue neguk minuman di depan gue. Ujuy nepok-nepok bahu gue.
"Bukannya mereka anak OSIS, ya? Kok kelakuan cem lonte gitu?" Tanya gue ke Rafael yang ngelirik gue gak selow gitu, "apa?!"
"Lo juga cem lonte kadang." - Rafael
"Bangsat!"
"Widi Ketos ngomongnya udah berani, ya...." - Daniel
"Wah, anak kita udah gede." - Naetha
"Gue bukan anak lo." - Rafael
"Btw, yang ngamilin mereka sapa? Lo, ya, Fa jangan-jangan? Hahaha!" Gue ketawa ngakak gitu abis nanya si Rafa. Mukanya asem gitu.
Dia kan alergi hal berbau anu. Hnghhh.
"Sama mantan kakel yang namanya Jackson-Jackson itu loh. Gak tau gue." - Rafael
"Anjing! Hot bat, asu!" - Naetha
"Mereka hamil anaknya Ka Jackson?! Dua-duanya?!" Gue gak percaya sama sekali. Keenakan itu mereka mah.gg
Rafael ngangguk doang sambil makan spaghettinya, "Anjing! Kalo gue jadi Ka Irene mah gue bunuh si Seulgi terus gue paksa nikah Ka Jacksonnya!" Gue shock.
Tak!
"Sekolah yang bener." Kepala gue digetok Rafael pake sendok.
Sialan.
"Bangsat! Nanti kalo gue gangguan mental gimana?!" Gue pukulin itu anak soang. Enak aja getok-getok pemberian Tuhan.
"Ngawur aja kalo ngomong." - Rafael
"Mereka kok mau-maunya sih sama Ka Jackson?" Ujar gue gak abis pikir.
"Alah lo juga diajak mau-mau aja!" - Ujuy
"Yai yadong!"
"Yeu, jable!" Seketika pala gue digetok sama mereka semua kecuali Ruy.
"Bangsat! Sendok lo kotor semua, asu!" Rip mai beauty hair.
"Ruy, dimakan dong. Nanti lo sakit gak makan." Daniel nyoba bujuk Ruy pake disuapin. Kita semua diem sambil sok-sok gak ngurusin biar ga ganggu.
Padahal dalem hati udah meledak-ledak pen buru kawinin mereka.
"Nggak mau, Kak. Gak selera." Ruy geleng tanda nolak.
"Sesuap?" Ruy masih geleng.
"Gue suapin?" Bisa gue liat Ruy gelagapan, "ya udah gue suapin. Buka mulutnya aaa!"
"Ih, Kak. Apa sih?" - Ruy
"Jye... jan gigit-gigit." - Rafael
Pletak!
"Aduuuh! Sakit, bangsat!" Gue ngomel ke Ujuy yang seenak dengkulnya getok gue.
"Ganggu lo, bitj!" - Ujuy
"Gak tahan gue, as- umhh!" Dengan laknatnya si Rafa nyumpelin mulut gue pake spaghettinya dia. Gils.
"Diem." Rafael lanjutin makanannya gak peduli gue melotot-melotot.
Terus gue diketawain para astral di sekitar gue.
Syalan.
_
_
_
_
_
Hiks gue gabisa bocan gegara linu :(
Kasian Daddy Sehun gak ikut tidur gegara gue gerak mulu.gg
:"(
KAMU SEDANG MEMBACA
Fake
FanfictionSetiap kelebihan selalu memiliki kekurangan. Dan kekurangan itulah yang membuat kelebihan yang mengisinya. "Jaga hal ini sampai saatnya nanti, Jye." "Gue gak yakin. Soalnya semua bangkai pasti bakalan kecium baunya." - Jye "Setidaknya sampai kita lu...
