Suara teriakan penonton memenuhi seisi stadion olahraga. Banyak tatapan memuja para gadis gadis muda tertuju di 2 remaja yang tengah menunjukkan berbagai kebolehannya dalam skateboard. Suara lagu Skater Boi-Avril Lavigne berdentum kencang di seluruh stadion.
Sampai akhirnya beat terakhir mengalun dari sound, kedua remaja itu baru akhirnya menyelesaikan pertunjukan mereka. Keduanya kompak berhenti di ujung landasan.
"Baiklah! Sekian pertunjukan dari AlSha. Sekarang kita istirahat dan setelah ini akan dilanjutkan dengan kebolehan mereka dalam menyanyikan rap."Sang MC mulai mengarahkan acara selanjutnya.
Keduanya pun dipersilahkan turun dan melangkah menuju ke backstage. Di belakang panggung, keduanya langsung menyerbu air mineral yang disediakan.
"Ya lo jangan rusuh gitu. Lo tambah rusuh tambah panas,"tegur Aldi sambil geleng geleng melihat kelakuan gadis yang menjadi sahabatnya itu.
"Ah! Denger lo ngomel jadi tambah panas!"ledek Salsha sambil mendorong bahu Aldi.
Aldi tertawa, "Lah kok gue? Panas kenapa? Gara gara muka cogan gue?"
"Najong ah Ald!"seru Salsha sambil ikut tertawa kencang.
"Eh, btw lo nyadar sesuatu nggak?"tanya Aldi.
"Paan?"
"Ini hari dimana gue patah hati untuk yang pertama kalinya 2 tahun lalu, juga hari gue pertama kali kenal cewek gila yang namanya Salsha,"ucap Aldi menjawab pertanyaannya sendiri.
Salsha mendengus, "Lo tuh ya. Mau awalannya se-sweet apapun, tetep aja ujung ujungnya ngajak ribut. Males ah sama lo!"
"Dih, baper nih?"goda Aldi sambil mencolek dagu sahabatnya itu.
"Paan! Lo kali yang baper!"ketus Salsha membuang muka.
Gue mah udah baper dari dulu sama lo, Sal,Batin Aldi pelan.
"Apa lo liat liat? Mau gue colok matanya?"ancam Salsha galak.
"Dih, panas amat lo bos. Udah, gue beliin es krim deh,"ucap Aldi sambil beranjak.
"Oke. Yuk."
Aldi buru buru menghentikan Salsha, "E-eh. Lo disini aja, gue yang pergi sendiri."
"Nape?"tanya Salsha curiga.
"Ya, kaga napa napa. Gue aja yang beli."
Salsha mengernyit, "Aneh lo! Udah ah ayo! Gue males sendiri di sini."
Namun Aldi masih bersikeras, "Rame banget, Sal. Lo kan males di tempat yang rame banget. Ntar kaki lo keinjek injek ngamuk lagi."
"Iya deh iya. Terserah lo aja,"rajuk Salsha pasrah.
"Yaudah, gue cabut ya."
"Hmm."
Begitu Aldi sudah di ujung tenda, Salsha memanggil Aldi.
"Ald!"
Aldi berbalik, "Sal, udah gue bilangin. Disana tuh ram—"
"Dih! Siapa yang minta ikut sih? Gue tuh cuman mau bilang, beliin yang topping coklat sama kacang! GR bat lo!"
Aldi hanya mendengus sebelum akhirnya melengos pergi.
******
Di tengah teriknya matahari, Aldi berjalan menuju booth tempat penjualan es krim. Semenjak ia dan Salsha membentuk duo setahun yang lalu, ia dan Salsha memang sering diundang kesana kemari untuk mengisi acara.
Dan kali ini, Aldi mengisi acara di SMA-nya dulu. Sambil berjalan, Aldi terus memutar bayangan di otaknya. Dimulai dari awal ia masuk SMA ini, sampai dengan ia lulus dan diberi ijin oleh sang Ayah untuk membentuk duo dengan Salsha.
Nggak terasa, 2 tahun udah gue sahabatan sama Salsha. Kira kira, bisa nggak ya kita jadi pacaran?Aldi mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Sejak kejadian patah hatinya, ia mengira ia takkan jatuh cinta lagi pada cewek. Nyatanya, Tuhan tak membiarkannya. Tuhan memberinya Salsha, gadis dingin yang perlahan menutup luka di hatinya sekaligus menggantikan posisi Steffi.
Aldi ingat kala ia pertama kali melihat senyum Salsha. Senyum gadis itu ketika ia berhasil meluncur landasan tanpa berteriak layaknya kucing yang tercekik. Aldi ingat, sosok Salsha yang tersenyum padanya. Kata kata Salsha saat itu takkan dilupakkannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kan gue bilang lo pasti bisa. I'm proud of you."
Aldi menghela napasnya, hanya dengan memikirkan kenangan dengan Salsha saja membuat hatinya bahagia setengah mati. Memang,gadis itu membawa banyak dampak dalam hidup Aldi.
"Aldi?"
Aldi sontak menoleh begitu namanya dipanggil.Mata pemuda itu hampir tak bisa mempercayai penglihatannya sendiri. Sosok gadis yang meninggalkannya dengan parah.
"O-oh. Hai,"sapa Aldi kaku.
"Ini beneran kamu Ald? Pas mereka bilang kamu jadi skater aku masih nggak percaya. Ternyata beneran,"cerocos gadis itu dengan suara yang mungkin, dulu Aldi sukai.
'"Lo masih inget gue kan? Gue Stef—"
"Steffi. Cewek kesayangan semua orang, si Bunga kelas,"sela Aldi.
Steffi tertawa malu malu, mengira Aldi masih suka padanya. Kalau iya, tentu dia akan merasa sangat beruntung. Bagaimanapun, Aldi yang berdiri di depannya sekarang mampu melelehkan semua kaum hawa.
"Soal kejadian dulu, gue harap lo bisa lupain. You know, tiap orang pasti buat kesalahan pas piyik,"ucap Steffi.
Aldi hanya tersenyum tipis dan berusaha mengabaikan Steffi. Ia benar benar tak tahu harus bagaimana menghadapi Steffi. Memang benar ia sudah lupa dengan segala luka hatinya dulu, tapi tetap saja rasanya tak nyaman bertemu dengan orang yang pernah menganggumu dulu.
"Ald, lo tahu. Sejak hari itu, gue bener bener nyesel. Gue baru sadar kalau sebenarnya gue tuh su---"
Belum sempat Steffi menyelesaikan kalimatnya, tiba tiba ada sebuah tangan melingkar di tangan Aldi. Disusul dengan suara.
"Ald, lama banget beli es krimnya,"panggil Salsha.
"Ini....?"Steffi menunjuk Salsha sambil melirik ke Aldi dengan was was.
Aldi tersenyum tipis, "Sal, kenalin. Ini Steffi, tem—"
"Mantannya Aldi pas SMA,"sela Steffi seenaknya. Belum sempat Aldi memprotes, Salsha sudah lebih dulu.
"Ooh, mantan ternyata? Gue Salsha, gue pacarnya Aldi,"balas Salsha dengan nada sinis.
"Pa-pacar? Sorry, lo pacarnya Aldi? Wow, Di. Selera lo....berubah jauh ya,"kekeh Steffi seraya melihat gaya Salsha dari atas sampai bawah.
Aldi yang merasakan situasi semakin tidak mengenakkan, ia buru buru menengahi. Digenggamnya tangan Salsha dan tersenyum tipis pada Steffi.
"Steff, kayaknya gue harus pergi. Habis ini masih ada acara,"pamit Aldi.
"Oh, oke. Ini nomer telpon gue. Call me."Steffi dengan genit menyodorkan kartu nama yang bertuliskan nomornya.