Sesampai dirumah, pikiran Rana tetap pada orang yang persis seperti Vian. Tapi mengapa ia dipanggil Vin?
"Bodo amat!"
"Kenapa Kak?" Rana tersentak kaget, ia lupa jika Aira masih ada dirumahnya.
"Ngga papa, Ra."
***
Senin. Hari senin tidak pernah lepas dari peristiwa panas-panasan dilapangan. Upacara. Hal yang sangat dibenci para pelajar, termasuk Vian dkk.
"Gila si ya, ini matahari minta disembur!" Cerocos Kevan. Tidak seperti Vian, Dero dan Dean yang tetap stay cool.
"Coba lo sembur!" Protes Dean.
"Ngga bisa, kecuali gue punya kekuatan kaya sailormoon, udah gue tuker tuh sama bulan!" Kevan terkekehan kecil.
"Vi, lo kalah start ya sama si Rifki?" Ucapan Dero membuat langkah mereka terhenti.
Vian mengikuti arah pandangan Dero, dilapangan terlihat Rifki yang sedang berdiri disamping Rana, kemungkinan Rifki melindungi Rana dari terik matahari. Vian bergegas menghampiri Rifki dan Rana.
Sampai dimana Rana berada, Vian melihat ada celah diantara Rifki dan Rana, Vian berdesak-desakkan diantara mereka berdua. Rana terkejut karena kehadiran Vian yang entah dari mana datangnya, tidak terkecuali Rifki. Karena tidak ingin menjadi pusat perhatian, Rana memisahkan diri dari Vian dan Rifki. "Kagak usah modus!"
"Lahh, gue udah duluan disini, lo ngga udah ganggu dehh!"
Rana gerah mendengar celotehan mereka, sebab siswa siswi SMA Bakti Jakarta sudah berkumpul dan menjadikan Vian dan Rifki pusat perhatian.
Rana bergegas menuju dimana Vian dan Rifki berada, lalu ia menarik tangan Rifki untuk menjauh.
Awalnya Vian senang ketika mengetahui Rana akan menghampiri dirinya, tapi ternyata salah, Rana malah menarik tangan Rifki dan meninggalkan Vian sendirian.
Rifki berjalan sambil tersenyum manis kepada orang-orang yang dilewatinya, Rana yang menyadari tatapan orang-orang pun menoleh kebelakang. Setelah tahu apa yang dilakukan Rifki, Rana menghempaskan tangan Rifki dari genggamannya.
"Upacara sono!" Setelah itu Rana pergi kebarisan kelasnya.
***
Selesai upacara, Vian tidak langsung menuju ke kelas, ia pergi ke kelas Rana, untuk meminta penjelasan. Walau sedari tadi Pak Nanda sedang berkeliling untuk memastikan bahwa semua pelajar SMA Bakti Jakarta sudah memasuki kelas masing-masing.
'Persetan sama Pak Nanda!' Tekad Vian sudah bulat untuk ke kelas Rana. Sesampainya dikelas Rana, ternyata Rana sedang tidak ada dikelas. Kata guru yang sedang mengajar dikelas Rana, Rana dan Diba tadi izin ke toilet.
Gagal sudah rencana Vian, Rana tidak ada dan pasti ia sebentar lagi akan ketahuan oleh Pak Nanda.
"VIANNO!"
Benarkan? Diujung lorong kelas X, Pak Nanda berdiri dengan membawa sebuah sapu dan memasang wajah marah juga kesal andalannya.
"VIANNO INDRATAMA! SINI KAMU! IKUT SAYA KE RUANGAN SAYA! CEPATTTTT!" Vian menunduk lesu dan mengikuti langkah Pak Nanda ke ruang BP.
***
Sebentar lagi bel istirahat berbunyi, tapi kelas Rana masih sibuk memfokuskan diri ke papan tulis dan Pak Rendy yang sedari tadi menjelaskan tanpa henti.
"PAKKK! BENTAR LAGI ISTIRAHAT LOH PAK!?" Suara dari bangku belakang mengundang perhatian siswa siswi kelas X Ipa 1.
"Kata siapa sebentar lagi waktunya pulang!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Fake Love
Novela JuvenilCerita ini mengisahkan tentang kisah percintaan anak remaja pada umumnya. Hidup Rana yang sunyi, sirna begitu saja ketika datangnya Vian dalam hidupnya. Mereka dekat, sebagai teman. Dahulu Rana selalu sendiri, namun kini ada Vian yang setia menemani...