Satu geplakan halus jatuh dilengan pria itu. Membuat Radit meringis.
"Kamu kalo ngomong yang bener. Nanti kita dilempar dari dalam pesawat yang ada"
Selina berbisik pelan. Berusaha agar penumpang lain tak mendengar pembicaraan mereka.
"Tenang saja. Perjalanan ke Jepang itu 7 jam. Lagipula dalam kabin ini semua sedang tidur. Tidak ada yang memperhatikan"
Radit benar. Karena keberangkatan malam, semua orang dalam pesawat memang memilih untuk beristirahat. Namun, Selina masih waras. Ia tidak ingin tiba-tiba digrebek massa.
"Jangan gila. Kamu tahu kan pramugari yang berlalu lalang bisa melihat kita dari atas sini", kata wanita itu sembari menatap celah atas kabin yang tidak tertutup. Membuat siapapun yang lewat dapat melihat atau sekedar mengintip dengan jelas.
"Ini yang dinamakan tantangan. Membuat roman priaku terpenuhi"
Senyum jahil itu. Aku yakin akan ada sesuatu tidak beres sehabis ini.
Meninggalkan Selina yang masih menduga, Radit sudah mengambil satu selimut dan merentangkan diatas tubuh wanita itu. Kemudian ia juga merentangkan selimut miliknya, membuat ujung-ujungnya melewati batas.
Dan kini kabin mereka saling menyatu. Menciptakan sudut pandang dibawah selimut tersebut menjadi tak terlihat.
"Jangan bilang?!"
"Kamu tahu aku akan tetap melakukan bukan"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Goda pria itu sembari menyelipkan tangan kanannya. Masuk dan terus mengarah hingga menyentuh pinggang Selina yang tertutup jeans.
"Jangan", ia memperingatkan
"Coba cegah aku", Radit menantang.
Dan pria itu berhasil. Menyusup hingga menyentuh kedalam intim bawah Selina. Membuat wanita itu tak lagi mampu berbuat apapun. Sekarang yang bisa Selina lakukan hanya sekedar menggigit bibir. Menahan desah akibat sentuhan Radit.
Tak menyiakan kesempatan. Gerakan jemari pria tersebut semakin menuntut. Meraba, mencari, dan tepat ketika menemukan titik kelemahan Selina, maka Radit berhenti. Bergerak liar diatas sana. Membuat wanitanya itu hanya bisa pasrah dengan kepala bersandar diatas kursi.
Seperti sedang menggunakan vibrator. Bedanya tangan pria ini lebih menyenangkan dibanding alat murahan seperti itu.
"Jangan bersuara, sayang. Atau kita akan menanggung akibatnya"
Bisikan Radit makin menambah intim suasana. Melucut gairah kala dua jemari pria itu berusaha menembus. Masuk dan keluar dalam ruang yang masih terasa sempit tersebut.
Selina tersenyak. Tampak kaget dan menikmati setiap permainan nakal yang Radit lakukan. Bibir merahnya mulai berdecap tak karuan membuat api panas didalam jiwa pria itu ikut tersulut. Tak sabar berada didalam sana saat wanitanya telah siap.