Bab 26 [Behind The Color]

64.8K 1.4K 1
                                        


"Tunangan?! Apa maksudmu sebenarnya?!"

Radit melihat mata abu itu tanpa berkedip. Berusaha mencari kebenaran yang ada disana. Dan ia menemukan. Rasa sedih dan kecewa yang berbinar di mata itu.

"Aku bertemu tadi dengan seorang wanita. Tampak cantik dan mahal."

Selina berdesis. Menelan pahit kenyataan itu, kemudian melanjutkan perkataannya.

"Dia menatap benci padaku. Berkata bahwa aku merebutmu. Merebut tunangannya. Dan aku melihat semua itu. Dirimu dan dirinya dengan malam-malam panas seperti yang kamu lakukan padaku"

 Dirimu dan dirinya dengan malam-malam panas seperti yang kamu lakukan padaku"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suaranya kini sedikit bergetar. Berusaha menerima fakta yang ada dengan tidak menatap Radit. Ya. Selina memutuskan untuk mengalihkan pandangan. Menolak melihat kebenaran yang ada.

Membuat pria itu menyapu kasar wajahnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Membuat pria itu menyapu kasar wajahnya. Memegang erat kedua bahu Selina. Memaksa wanita itu untuk menatapnya.

"Lihat aku, Selina! Demi tuhan, aku tidak pernah bertunangan dengan Adis. Aku akui aku memang melakukan hal itu bersamanya. Tapi bukan karena menyukainya. Hanya karena sekedar pelampiasan. Itu saja"

Adis. Jadi nama wanita itu Adis.

Mata bulat yang telah menahan tangis itu kembali melihat. Menoleh kearah Radit. Menjawab dalam ketidak berdayaan.

"Lalu aku? Apa kamu juga membeliku? Lagipula kamu membayarku sekarang ini bukan?"

Seulas senyum tertarik di wajah manis tersebut. Bukan senyum yang Radit inginkan. Senyum terpaksa yang tampak miris itu adalah jenis senyum yang paling dibenci Radit. Senyum sama saat Maria bersamanya. Senyum sama saat Maria tertekan untuk menjalani hubungan dengannya.

"Tuhan. Aku tidak pernah sekalipun ingin mempermainkan dirimu. Hanya kamu, Selina. Aku hanya menyukaimu seorang"

"Kalau begitu buktikan. Buktikan rasa sukamu itu dan buat aku lupa akan ingatan malammu bersama wanita itu!"

"Lihat aku. Lihat aku, Selina. Sekarang akan aku tunjukkan bahwa aku membutuhkanmu", pinta Radit dengat sungguh-sungguh

 Sekarang akan aku tunjukkan bahwa aku membutuhkanmu", pinta Radit dengat sungguh-sungguh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dan satu kalimat itu mengakhiri semuanya. Lewat ciuman Radit yang begitu dalam, pria itu seolah ingin menghapus segala ragu dalam hati Selina. Membuat Selina tanpa sadar mencengram kepala Radit dan menariknya lebih dalam.

Selina menginginkan Radit. Ia butuh pria itu disisinya sampai kapanpun. Membutuhkan pria itu untuk mengisi rasa kosong dalam hati Selina.

Radit menguasai bibir wanita itu. Semakin menggoda dan intim, berusaha menekan dan merasuk dalam diri Selina dengan cara selembut mungkin.

"Hmm...", satu desah itu menjadi bukti atas penaklukan Radit diseluruh tubuhnya. Selina sudah lemas. Bersandar sepenuhnya pada Radit, kemudian pria itu melingkarkan lengan pada sekitaran pinggul Selina. Lalu mengangkat tubuh wanita itu untuk naik melewati tangga.

"Dimana.. Dimana kamarmu, sayang.." Radit berkata diantara napasnya yang memburu.

Selina mencoba menjawab. Namun tak mampu karena sensasi intim yang masih tertinggal, dan akhirnya hanya menunjuk asal salah satu pintu yang tertutup.

Maka pria itu kembali mencium. Menempelkan bibirnya serta merapatkan kejantanan yang sudah mulai mengeras. Dengan langkah terburu, ia berusaha membuka kamar yang ditunjuk. Masuk. Lalu merebahkan wanita itu diatas kasur.

Selina menatap. Sementara Radit mengecup. Mulai dari dahi, hidung, pipi, hingga kembali pada bibirnya yang mulai membengkak. Membuat tubuh wanita itu bergeliat. Menahan panas, gairah, dan sensasi nikmat yang semakin terasa.

Bukan hanya Selina. Namun Radit juga telah terjerembab dalam api yang ia buat sendiri. Membuka terusan yang dikenakan Selina dengan cepat, lalu dalam sekejap, wanita itu telah telanjang. Menampakkan payudara indah yang tidak terlindungi bra. Dan intim bawah dengan basahnya telah menembus celana dalam yang ia kenakan.

"Ahh...", mulut Selina bekerja kembali. Terus mendesah saat merasa satu mulut Radit melumat habis ujung putingnya yang membengkak, dan tangan kanan pria itu menangkup dan mengelus satu lagi payudaranya.

"Disana... Terus.. Kumohon.."

Wanita itu merintih. Meminta dan terus menggelinjang karena gerakan Radit yang penuh godaan dan membuatnya melayang.

"Mendesah, sayang... Terus buat aku menggila.."

Bisik pria itu ditengah hisapan pada puting Selina yang bengkak. Karena Radit memuja erangan. Sehingga saat Selina menuruti permintaannya. Makin keras mendesah, meracau, dan menggeram. Maka Radit terus mempercepat. Jemari ditangan kiri yang telah berada didalam intim bawah wanita itu sedari tadi, terus mempercepat irama. Terus masuk dan keluar hingga hangat air itu terasa.

"Ha.. Ha.. Ha.." Selina mengatur napas. Mencoba tenang dikala denyut itu masih menarik minta untuk diberi kepuasan.

"Kamu cantik"

Mata Radit telah menjelajah diatas tubuh Selina yang tak berdaya dengan kedua kaki melebar.

Kedua tangan yang awalnya sibuk bermain ditubuh wanita itu kini berusaha melepas seluruh celana. Membiarkan pakaian atas tetap terpakai. Dan setelah melempar asal pula celana dalam Selina, maka pria itu kembali menindih. Mengarahkan kenjatanan yang telah keras dan berbisik.

"Dan membuatku tak sabar untuk menggila didalam"

"Argh!"

Selina sedikit menjerit. Merasa sedikit sakit saat semua intim pria itu memenuhi dirinya. Dan kaki yang awalnya terkulai mulai melingkar di pinggang Radit. Mencoba menahan posisi, agar mampu menerima tiap desakan-desakan Radit dalam tubuhnya.

"Ah.. Ah.. Ah.."

Tidak ada lagi kata yang mampu mewakili. Hanya desah yang dapat terucap dari rasa cinta yang terjadi saat ini.

"Bergerak, sayang.. Nikmati dirimu..."

Perintah itu lagi-lagi seperti sebuah komando. Membawa tubuhnya mencoba bergoyang. Kanan dan kiri. Menyentuh bukan hanya titik kenikmatan Selina juga kenikmatan Radit yang terus bergerak rapat tanpa batas.

"Radit... Ah.. Aku tak bisa.. Lagi..."

"Lepaskan, sayang.. Aku pun akan melepasnya..."

Gelenyar panas tak tertahankan itu kini terasa. Memuhi kedua orang itu sebagai puncak karena orgasme yang bersama. Di dalamnya. Tanpa pelindung.

*****

Jangan lengah

Karena masa depan terus berubah

Dan masa lalu akan datang menghantui

******

Yuhuu!

Bab 26 up yaa

Wkwk akhirnya bisa update langsung tiga hari ini

Terus aku tadi sempet up wkwk

Gak sengaja kepencet

Maafkeun yaaa

Jangan lupa vote, follow, sama komentar

-XOXO

Eksplisit Part - Cerita SafitridsyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang