Bab 51 [Behind The Color]

57.3K 1K 0
                                        

"Hiks.. Radit! Hiks.."

Ditengah tangisnya, Selina hanya mampu mengulang kata "Radit" berkali-kali. Membuat pria itu juga terus menjawab "Iya" untuk memberi kepastian pada wanitanya ini.

"Maaf. Maafkan aku, hiks.."

"Kenapa harus meminta maaf. Aku tidak melihat kesalahan karena dirimu yang jatuh cinta"

"Maksudmu?", tanya Selina saat melonggarkan pelukan. Menatap Radit dengan air mata yang masih mengalir.

"Aku sudah dengar semuanya dari Demi. Semua tanpa terkecuali, dan dirimu. Atas kemampuan yang menghilang itu tidak membuatku takut atau benci. Sejak awal kecelakaan itu bukan salahmu"

"Tapi.. Tapi, aku yang.."

Cup!

Satu kecupan ringan dari pria itu mampu membuat diam Selina

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Satu kecupan ringan dari pria itu mampu membuat diam Selina. Membuat bibirnya merapat dan air matanya terhenti.

"Aku merindukanmu. Sangat rindu hingga membuatku gila"

Selina kembali memeluk. Merapatkan tubuh mereka. Berusaha mencium dalam aroma pria yang amat ia cintai itu.

"Aku juga. Aku merindukanmu hingga tak bisa lagi tidur"

"Kalau begitu akan gawat"

"Gawat? Gawat kenapa?", tanya Selina tak mengerti

"Karena kamu akan merasa lelah saat kita bercinta nanti", bisik pria itu penuh goda tepat disisi telinga Selina.

Dan wanita tersebut hanya bisa menatap tidak percaya. Dengan wajah bodoh dan mata membulat, ia masih berusaha melihat Radit meminta kejelasan.

Namun, bukan menangkap kode dan menjawab, ia malah membawa Selina. Mengangkat wanita itu seperti sebuah karus beras. Menutup pintu, lalu masuk kedalam tanpa peduli dengan setiap oceh Selina yang meminta untuk turun.

*****

Klek!

Ia menutup pintu kamar itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ia menutup pintu kamar itu. Menurunkan Selina dan menatapnya haus. Haus akan gairah yang selama ini dinanti Radit.

"Kamu tidak apa-apa?", tanya wanita itu khawatir akan bebat perban yang masih terikat di kepala Radit.

Eksplisit Part - Cerita SafitridsyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang