🏃 🏃 🏃
Gak hanya kakiku berlari, tapi mulutku juga rasanya ingin berlari juga. Karna mungkin hari ini aku sudah menjadi orang gila, yang bicara sendiri dijalan.
"Emang dasar kutil jerapah, udah tau aku kurus diajak jogging"
"Mau dia lihat aku jelek kayak lidi"
"Dia juga larinya kenceng amet, sementang-mentang baru belik sepatu super"
"Woi Gilang tungguin kek"
Teriakku sekeras mungkin, bodoamat sama orang kompleks yang mungkin anak nya bisa terbangun kalo dengar aku teriak gini. Suaraku kan saudaranya toak.
Gilang yang mendengar aku berteriak tadi langsung berhenti dan melihatku yang sedang berlari kearah nya dengan lari yang pelan seperti siput.
"Semangat Aqilla, kejar aku terus"
Aku berhenti belum sampai ditempat Gilang "Capek Gilang" ucapku sambil duduk diaspal dan mengelap keringatku.
Gilang langsung lari menghampiriku.
Gilang duduk didepanku dan mengelap keringatku dengan sapu tangannya "Baru sebentar udah capek sih" ucapnya dengan tertawa kecil.
"Aku kan bukan kamu"
"Kan aku juga ingin rasanya dikejar, diperjuangin dan dimiliki"
Ish, dalem banget
"Lari barengan aja"
"Jalan aja, kalo lari terus nanti kita berdua lelah bisa-bisa hubungan kita renggang"
"Ha?"
Gilang tertawa lalu dia berdiri dan membantuku juga berdiri. Kini aku dan Gilang hanya jalan santai, dengan Gilang yang menggenggam tanganku.
Genggaman tangan ini menurutku masih saja terasa canggung, padahal ini bukan yang pertama kalinya.
"Kamu tau gak"
Aku menggeleng.
"Kalau untuk mendapatkan seseorang itu, pertamanya kita harus berjuang. Seperti contohnya tadi yang kamu lari mengejar aku"
Pandanganku masih lurus kedepan, rasanya aku tidak mau menatap matanya, aku masih menunggu saja untuk dia berbicara lagi.
"Semakin kamu lari lama-kelamaan juga kamu lelah, tapi tujuan utama kamu itu ada didepan mata"
Aku mengehembuskan nafas.
"Kamu tinggal sedikit lagi untuk mendapatkannya, tapi rintangan malah semakin banyak, terutama rasa lelah seolah-olah menghasut hati buat berhenti, lalu jalanan ini terasa semakin panjang"
Aku mengeratkan genggaman tangan ini, kata-kata Gilang semakin ingin kudengar lebih dalam.
"Terkadang kamu juga berhenti untuk istirahat sebentar lalu kembali lagi berlari mengejar, takut seseorang dibelakang mendahului kamu"
Kali ini aku berhenti berjalan, dia juga ikutan berhenti. Aku dan dia saling pandang.
"Dan sekarang kamu memilih berhenti, bukan berhenti karna menyerah tapi seseorang yang kamu kejar membantumu buat berlari bareng dengannya"
Aku memalingkan wajah kesamping, aku tidak bisa melihat seseorang yang lagi serius berbicara seperti ini. Gilang masih melanjutkan bicaranya.
"Dia melihatmu berjuang sendiri, lalu dia membantu mu bersama-sama berjuang mencintai. Karna dalam mendapatkan harus berlari maka sudah mendapatkan harus menjalaninya"
Kini aku memberanikan menatapnya.
"Kamu ngerti kan maksud aku?"
Aku hanya diam, jujur aku mengerti. Aku bukan orang dungu yang gak peka-peka.
"Aku mau kita seperti itu"
Nada bicara nya pelan, sepelan-pelan aku mencintai nya.
Aku tidak tau harus menjawab apa. Yang aku lakukan hanya memeluknya. Gilang membalas pelukanku. Sesaat bunyi kukuruyuk ayam menyadarkan kami lagi diluar rumah. Tapi siapa orang kompleks yang memelihara ayam?
Ah ternyata, bunyi notifikasi handphoneku.
~~~
Didekat kompleks ada sebuah taman. Hari minggu gini memang banyak orang yang jogging setelah itu beristirahat ditaman.
Aku memilih buat duduk, menunggu Gilang membeli Aqua. Tapi tiba-tiba seseorang dari belakang menutup mataku.
Aku mencubit-cubit tangannya "Lepas Gilang, jangan curi mataku juga"
Dia melepaskan tangannya yang menutup mataku "Aish, aku bukan Gilang"
Rangga duduk disampingku.
"Lo ngapain duduk disini?" tanyaku.
"Udah muak berdiri" jawabnya santai.
"Lo sama siapa kesini?"
"Sendiri kayak status"
"Gak nanyak"
"Lah yang barusan tadi nanyak siapa" jawabnya dengan sedikit emosi
"Gue"
Gilang tiba-tiba datang menyambung.
Gilang menyodorkan Aqua botol "Nah"
Tapi belum sempat tanganku menggengam Aqua tangan Rangga sudah mengambilnya duluan.
"Makasih"
Gilang mengambil lagi Aqua ditangan Rangga.
"Bukan buat elo tai siput" ucap Gilang sambil membuka botol Aqua lalu mengasih ke aku.
"Lo sih gak belik tiga, pelit amat lo bulu semut"
"Minggir lu sempak gajah"
Sekuat tenaga Gilang menggeser Rangga disampingku, dan akhirnya Rangga mengalah.
"Gak mau ngalah lu ya sama abang ganteng"
"Iya lu ganteng karna kebanyakan pake masker tai siput"
"Udah deh diem upin ipin" ucapku kesal dengan mereka.
"Gak mau gue punya saudara kembar kek dia" jawab Rangga gak terima dibilang upin ipin.
"Gue juga ogah punya saudara kayak sempak udang"
"Woles bro, gue juga gak mau punya saudara cuit kek lo"
Spontan Gilang langsung memukul kepala Rangga dengan botol Aqua "Kampret lo bilang gue cuit"
"Anjir sakit banget" rintih Rangga mengusap ngusap hatinya, bukan kepalanya.
Aku merasa muak mendengar Gilang dan Rangga yang seperti ini, bahkan upin ipin aja gak pernah berantam tapi berbeda dengan mereka.
"Kita pulang aja" Gilang berdiri dan menarik tanganku. Tapi Rangga mengikuti aku dan Gilang, bahkan Rangga berjalan disampingku.
"Gue cuman mau ingatin, lo lain kali gausah mau lagi lari-larian jauh ngejar dia, nanti lo makin kecil makin kurus kayak bakteri mau? Enggakkan"
Rahang Gilang sudah mengeras, aku takut Gilang bakal memukul Rangga.
"Tapi misalnya lo tiba-tiba makin mengecil kebanyakan lari disuruh ngejar dia terus lo ditinggalin, putar balik kebelakang masih ada gue yang sebenarnya ikutan lari dibelakang lo"
"Lari lo cepat ga, lari cepat sana nanti lo ditonjok" ucapku sambil mendorong-dorong tubuh Rangga. Rangga kemudian berlari dengan tawa yang terpingak-pingkal. Sedangkan Gilang sudah dengan wajah yang merah padam kayak api dan dengan tangan yang terkepal.
Pesan kita kalau cuman diread aja gak dibalas sakit kan?
Begitu juga dengan cerita ini, kalo cuman dibaca doang tapi gak divote dan koment sakittt😢
KAMU SEDANG MEMBACA
AQILLA
Teen Fiction"Lo yang pernah putusin gue 3 tahun yang lalu kan?" ucapku bersemangat. "Yang alasannya lo mutusin gue karna gue makin lama makin jelek kan?" jawabnya dengan ekspresi wajah yang ingin tertawa. Jadi gimana? Gak penasaran sama cerita nya? Yuk tamba...
