Gilang membungkukkan badannya "Naik"
"Gendong?"
"Iya naik"
Aku naik kepundak Gilang, Gilang langsung menegakkan tubuhnya dan berjalan menggendongku. Disaat-saat seperti ini aku dan Gilang hanya diam, menatap kosongnya kearah depan. Gilang tipe orang yang tidak banyak bicara, aku menyukai tipe seseorang itu saat ini. Berbeda dengan Rangga yang mulutnya seperti mercon, menyerecos sepanjang jalan kenangan. Eh.
"Gilang aku gak berat kan?"
"Kamu itu kecil-kecil berat, tapi lebih berat lagi aku nunggu kamu hm"
"Gak berat nahan rindu kayak dilan?"
"Jangan ditanya lagi, itu sudah pasti"
Aku tersenyum, mungkin inilah saatnya.
I'm ready to open my heart again.
Jangan sampai aku disadarkan oleh kehilangan dulu baru mencintai.
"Gilang?"
"Ya?"
"Aku mencintaimu"
"Teruslah berpura-pura mencintaiku Qilla, sampai kamu lupa kalo kamu sedang berpura-pura"
"Aish, quotes darimana kamu ambil?"
"Gak tau, kemarin aku dikasih tau Baim"
Baim adalah sahabat dekatnya Gilang, satu lagi sahabat nya Gilang, Taufik.
" Dia bilang gimana?"
"Kok kepo sih"
Gendong-gendongan ala Gilang sudah habis, Gilang menggendongku sampai rumah.
"Kamu masih mau aku gendong?"
"Enggak"
Gilang menundukkan badannya, dan aku langsung turun.
"Aku langsung pulang aja ya"
"Yaudah pulang, dari tadi malam kamu udah datang Gilang"
Gilang mengacak rambutku "Hehe aku gak bisa jauh-jauh darimu Qilla"
"Lebay bin Alay"
"Gilang dan Aqilla"
"Lebay bin Alay"
"Gilang dan Aqilla"
"Udah sana pulang" ucapku juta sambil melipatkan tangan didada.
"Ngusir terus, nanti aku hilang kamu rindu"
"Gak dengar pake handshet"
"Ah mana?"
Aku menunjuk telingaku yang sebenarnya tidak ada handshetnya "Ini"
"Mana open" ucap Gilang sambil tertawa terbahak-bahak.
Aku sangat kesel, aku menjewer telinga Gilang walaupun harus sedikit berjinjit karna Gilang yang ketinggian entah aku yang kependekan.
"Aduuu..aduu.." rintih Gilang sedikit kesakitan.
Aku melepaskan jeweran nya "Kamu buat aku kesal, sana pulang"
"Yaudah masuk duluan sana"
Aku segera masuk kedalam rumah.
"Aqilla jangan lupa mandi kamu bauk ketiak" jerit Gilang dari luar yang masih kudengar.
Is, bohongnya kamu Gilang. Jelas-jelas ketiak aku wangi, tapi wangi matahari.
<<<<<
Selesai aku mandi aku duduk disofa ruang tamu. Aku berulang kali mengscrool kontak teleponku, ingin rasanya menghubungi Papa dan Mama, sekedar menanyakan kabar dan mengungkapkan rindu.
"Lagi ngapain?" sahut Opa yang tiba-tiba datang dan duduk disampingku.
"Ini Opa aku telpon Mama atau enggak sih?" ucapku sambil bersender dibahu Opa.
"Mau nelpon kok mikir-mikir" jawab Opa sambil mengelus rambutku.
"Mama gak pernah nelpon aku luan"
"Mama kamu mungkin gak ada pulsa"
"Opa Qilla seriuss"
"Sini handphone kamu biar Opa telpon luan"
Aku mengasih handphoneku pada Opa. Opa mencari nama kontak Mama dan sambungan pun terhubung.
"Hola Rina" ucap Opa.
"Halo Opa bukan hola" teriakku disamping Opa.
Terdengar suara tertawa disebrang sana.
"Pa, disitu ada Qilla?"
Tanya Mama
"Ada nih" Opa menyodorkan handphone padaku.
"Loadspekear ya Qilla" bisik Opa padaku.
"Halo Ma?"
"Aqilla gimana sekolah kamu, baik-baik aja kan?"
"Iya baik, sekolah aku juga gak pernah sakit"
"Maksud Mama bukan gitu sayang"
"Mama selalu nanyak sekolah baik-baik aja kan, aku gak pernah ditanyak baik-baik aja atau enggak" ucapku dengan nada jutek
"Jadi kamu cemburu?"
"Enggak penting"
Aku mematikan telepon, aku sebenarnya kesal sudah memberanikan diri buat menghubungi Mama terlebih dulu. Ah, aku seorang anak yang pemalu buat mengungkapkan kata sayang dan rinduku. Padahal seusia remaja sepertiku banyak hal yang ingin aku ceritakan tentang masa-masa remajaku. Aduh lupanya aku, ceritaku akan kalah saing dengan surat-surat kerjaan Mama yang menurutnya lebih menarik.
"Kok dimatikan" ucap Opa disebelahku.
"Karna gak dihidupkan lagi" jawab ku dengan jutek.
Opa mengelus rambutku "Aqilla gak boleh gitu"
Aku masih diam dengan raut muka yang gak cantik kalo dilihat. Daripada aku diam terus yang akan membuat Opa menceramahi aku panjang kali lebar, mending aku masuk kamar.
"Opa Qilla ngantuk" ucapku langsung bangkit dan berjalan kekamar ku.
Apa yang aku lakukan setelah ini adalah tidur. Aku memang suka tidur bukan karna aku berharap akan bermimpi indah lebih dari kenyataan. Tapi ya memang aku suka tidur karna aku ngantuk.
Btw, selamat malam minggu buat kamu yang masih menunggu tetap terus maju tanpa sendu😘
KAMU SEDANG MEMBACA
AQILLA
Genç Kurgu"Lo yang pernah putusin gue 3 tahun yang lalu kan?" ucapku bersemangat. "Yang alasannya lo mutusin gue karna gue makin lama makin jelek kan?" jawabnya dengan ekspresi wajah yang ingin tertawa. Jadi gimana? Gak penasaran sama cerita nya? Yuk tamba...
