Night Shift

1.5K 74 6
                                        


Serpihan awan tercerai-berai melengkapi pemandangan sore ini. Arlojiku menunjukan pukul empat sore. Waktunya untuk absen pulang di ruang departemen bedah. Dan tentu saja... pulang. Namun, tidak untukku. Hari ini bukan hanya hari pertama koas. Tapi, juga hari pertama jaga malam yang artinya aku akan tertahan di rumah sakit lebih lama.

Aku membereskan buku catatan dan pulpenku yang berserakan di meja kelas bedah. Memasukannya ke dalam tas ransel dan menyangkelnya di pundak. Berjalan menuju kabinet yang terbuat dari kayu yang berada di sudut belakang kelas bedah. Membuka laci kabinet dan mengambil sebilah kunci berwarna perak. Lalu berjalan menuju kamar koas yang jaraknya hanya lima belas meter dari kelas bedah.

Kamar koas didedikasikan untuk para dokter muda yang jaga malam. Kamar koas yang berada di lantai dua rumah sakit ini adalah kamar koas milik departemen bedah. Artinya, koas yang boleh memakainya hanya koas yang sedang menjalani kepaniteraan di departemen bedah. Terdapat dua pintu. Pintu kanan untuk kamar koas cewek. Pintu kiri untuk kamar koas cowok. Aku memasukan kunci, yang sedari tadi berada di genggaman tangan kananku. Terdapat dua buah ranjang tingkat, sebuah meja di tengah ruangan yang dikelilingi empat buah bangku, lemari untuk menyimpan pakaian, dan cermin besar seukuran tubuhku. Malam ini kamar koas cewek menjadi milikku seorang. Jelas saja. Aku satu-satunya koas bedah cewek yang jaga malam ini. Aku mengambil pakaian berwarna biru telur asin, satu set pakaian dalam, seperangkat alat mandi, dan handuk. Membawanya ke kamar mandi yang letaknya di dalam kamar koas cewek.

Selesai mandi aku merapihkan alat mandiku dan menyimpannya di tas plastik kecil sebelum aku masukan ke dalam tas ransel. Agar tidak basah tentunya. Setelah semua selesai, aku keluar dari kamar koas cewek. Menarik gagangnya agar tertutup lalu menguncinya. Aku membalikkan badanku dengan cepat. Aku tersentak. Nyaris saja aku menubruk seseorang yang sedang berjalan, yang hanya berjarak satu kaki dari tempatku berdiri.

Aku menyeimbangkan diri. Nyaris terjatuh. Dia dengan cepat memegang kedua bahuku. Membantuku menyeimbangkan diriku.

"Trims," ucapku. Wajahnya seperti biasa, datar. Tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya menatapku. Kak Bayu melepas tangannya dari bahuku, membalikan badannya dan berjalan menjauhiku.

"Mau ke IGD?" tanyaku sambil setengah berlari sebelum akhirnya berhasil menyamai langkahnya.

"Ya," dia tetap memandang ke depan. Baju jaga yang ia kenakan melekat sempurna ditubuhnya. Alih-alih seperti dokter muda yang akan jaga malam, dia lebih mirip model berkalung stetoskop yang sedang berjalan di runaway. Aku bertaruh siapapun bakal terperangah melihatnya.

Aku mengikutinya. Berjalan beriringan dengannya. Kami sama-sama diam. Nggak ada yang memulai percakapan. Aku lega karena nggak perlu repot berusaha mencari topik pembicaraan. Aku akan membiarkan keadaannya seperti ini. Lebih nyaman rasanya jika aku sibuk dengan pikiranku sendiri.

Sepanjang perjalanan, orang-orang yang berpapasan dengan kami langsung menatap aku dan Kak Bayu bergantian. Mereka terperangah. Entah karena melihat sosok cowok menawan yang sedang berjalan disebelahku atau karena seorang Melanie Renata ada dihadapan mereka. Aku nyaris nggak peduli dengan cara mereka menatap aku dan Kak Bayu. Kelewat sibuk memikirkan hal-hal yang bakal aku lakukan saat jaga IGD. Ini yang pertama. Perdana. Aku menggebu-gebu. Tapi... gugup. Pokoknya, nanti aku harus dapet tindakan hecting sebanyak-banyaknya. Hecting, hecting, hecting! Mendadak jadi terlalu antusias kalau inget kata hecting.

Kak Bayu dan aku masuk melalui pintu belakang IGD yang terhubung ke sebuah koridor dengan panjang lima meter dan tersambung dengan sebuah ruangan persegi cukup luas dengan barisan tempat tidur yang terpisah satu sama lain oleh tirai warna kuning. Dinding ruangannya berwarna kuning. Di tengah ruangan tersebut terdapat pos perawat atau lebih familiar dengan sebutan nurse station yang dilengkapi dengan sebuah meja yang tidak lebar namun memanjang yang diletakkan membentuk persegi sehingga menyisakan ruang ditengahnya untuk menyimpan rak status pasien dan beberapa kursi. Ruang Kuning ini biasa disebut ruang P2 alias prioritas 2. Ruang P2 terletak di sebelah kanan koridor, jika dilihat dari pintu belakang IGD tentunya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 30, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Represi [HOLD]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang