sabtu
2:08 am
kyungsoo melangkahkan kakinya dengan cepat seraya beberapa kali menoleh ke belakang-memastikan apakah dia sudah aman atau belum. dalam kegelapan, matanya masih bisa menangkap seseorang yang tengah mengejarnya, tubuhnya 2 kali lebih besar dari tubuh kyungsoo, bahkan langkah kaki kyungsoo kalah cepat bergerak.
ia hampir kehabisan napas, mulutnya sudah terbuka mencoba mencari oksigen untuk dihirupnya. dadanya naik turun tidak beraturan dan ia merasakan saluran pernapasannya kian memanas.
kyungsoo semakin meningkatkan kecepatan larinya dengan sisa tenaganya. saat akan melompati batu sebesar ban sepeda, sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya, kakinya tersandung batu itu sehingga tubuhnya tersungkur ke tanah.
oksigen di sekitarnya seakan habis tak tersisa. matanya terpejam. lelaki itu tidak bisa merasakan tulang-tulang di tubuhnya seolah sudah remuk. ia pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. kyungsoo mengeluh, menggumam tidak jelas, sekujur tubuhnya basah akibat keringatnya, ditambah gumpalan air mata di pelupuk mata yang siap meluncur kapan saja.
"ayah, maaf, dio gak akan begitu lagi.. dio gak akan nakal lagi," lirihnya.
seperti sebuah kilat, sesuatu mengenai punggungnya-membuat kyungsoo berteriak kesakitan. tak peduli seberapa keras kyungsoo berteriak dan seberapa banyak kyungsoo memohon, benda itu terus mencambuki punggungnya.
dalam kegelapan itu, kyungsoo membuka kelopak matanya yang sejak tadi terpejam kuat. pengelihatannya buram karena butiran air mata terus keluar dari matanya, namun sebisa mungkin ia berusaha untuk melihat apa yang ada di belakangnya. tak ada apapun di sana, kyungsoo tidak bisa melihat apapun selain wajah ayahnya yang sedang tersenyum padanya sambil melucuti tali itu ke punggung kyungsoo dengan sangat kencang.
"AAARGHH!"
kyungsoo terbangun dari mimpi buruknya. badannya gemetar ketakutan. ia meraba bagian depan dan belakang tubuhnya lalu meringis. ia melepaskan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan kamarnya yang gelap dan ia masih sendirian di sana, tak ada siapapun, dan setidaknya tak ada sosok laki-laki itu. pendingin ruangan bekerja sia-sia karena peluh pada pelipis kyungsoo terus keluar sejak ia terbangun dari mimpinya.
laki-laki itu terisak. merasakan sesak di dada ketika mimpi itu kembali datang menghantui untuk kesekian kalinya di tiap malamnya. ia terlalu takut untuk menghadapi kenyataan, ia hanya berharap ayahnya cepat mati atau sebaliknya, ia yang mati.
•°•°•
masih di hari yang sama namun di tempat berbeda...
9:57 pm
sunny membuka pintu, melangkah mendekati ranjang queen size tanpa kepala ranjang.
"JONGIN BANGOOOON!" serunya sambil menendang tubuh jongin yang masih melekat pada ranjang kesayangannya.
jongin menarik selimutnya hingga menutupi kepala. hal itu membuat sunny semakin niat untuk mengganggu jongin. dengan kelemotan dan kebodohan yang sunny miliki, perempuan itu berlari mengambil gayung dan mengisinya penuh dengan air, lalu kembali ke kamar jongin, naik ke atas tempat tidur. ia menghitung dalam hati sampai tiga dan yang terjadi selanjutnya adalah chaos.
sunny lompat ke sana-ke mari asal, tidak peduli apa ia menginjak kaki jongin atau tangan laki-laki itu, asalkan ia bahagia. seluruh air di dalam gayung keluar membasahi selimut jongin dan semua hal menyebalkan yang sunny lakukan membuat jongin menyerah dan akhirnya berteriak kesal. kaki jongin bergerak menendang angin-seperti seseorang yang ditempeli ulat bulu di kakinya.
"bangun jing," ujar sunny puas mengganggu jongin.
"AAAKKK!!" teriak jongin geram, "AWAS LO YA GUE BALES NANTI!"
sunny memeletkan lidahnya untuk menanggapi jongin yang tengah memandangnya kesal dengan rambut sekusut wajahnya sekarang.
pagi yang menyenangkan, pikir sunny.
"sini lo jing!"
jongin turun dari kasur dengan satu bantal di tangannya yang ia angkat tinggi melebihi atas kepalanya. refleks, sunny berlari keluar dari kamar jongin. ia menuruni anak tangga rumahnya. bukan karena sunny takut kesakitan dipukul dengan bantal laki-laki itu, melainkan, ia takut dengan bau tidak sedap yang berasal dari benda itu.
"ibuuu!! jongin rese!"
"sini lo kampret! mampus kekejar, kaki pendek!" jongin berhasil menangkap lengan sunny dan menahannya, tapi belum sampai satu tangan yang memegangi bantalnya ia daratkan di wajah saudaranya itu, sunny meneguk sisa air yang ada di gelas di dekatnya dan langsung menyemburnya.
"wanjeng!! fuhh fuhh," jongin kelagapan karena terkejut.
"JIJIK JIJIK NAJIS!!" teriak jongin sambil berlari masuk ke kamar mandi. tak sedikit air yang masuk ke dalam lubang hidungnya. sunny tertawa senang melihat penderitaan yang jongin rasakan pagi itu.
sialan tu tabung elpiji, liat aja nanti gue bales lo! batin jongin menggebu-gebu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Love at 12 || dks √
Fiksi Penggemartanpa satupun yang tahu, mereka kesepian. kyungsoo hanya ingin melindungi dirinya dari segala omong kosong dunia setelah sebagian orang yang pernah singgah di dalam hidupnya, mereka yang ia percaya, pada akhirnya pergi tanpa peduli dengan menorehkan...