Chapter 4

515 51 3
                                        

Yoongi duduk dengan tenang di atas ranjangnya , ada secebis perasaan lega tatkala mereka tiba di Korea . Setidaknya dia tidak perlu lagi menitipkan ibunya kepada tetangga sebelah dan merisaukan jika ibunya melakukan sesuatu perkara membahayakan. 

Sekarang mereka sudah tiba di kediaman baru mereka , dengan jaminan keselamatan yang ketat. Setidaknya Yoongi sudah dapat bernafas dengan benar tanpa merisaukan keadaan ibunya.

"Ahh.." Yoongi menghempas tubuhnya ke ranjang  . Mendesah panjang dengan hati yang terasa bebas dari ancaman . Apartement ini besar bertaraf tinggi , sudah tentu memiliki banyak bilik bukan ? Itu bermakna dia dan Jimin tidak akan sebilik.

Baru saja Yoongi cuba memejamkan matanya menuju alam mimpi , suara pintu yang di buka kembali mencuri perhatiannya.

"Apa yang kau buat di situ ? Di sini .. dalam bilikku ?!" Yoongi berasa panik seketika , melihat kehadiran Jimin yang berdiri di hadapan pintu kamar mandi bersama jubah mandi seperti kembali menariknya ke dalam zon berbahaya.

Jimin mengernyit , menatap isteriya dengan alis yang di angkat tinggi-tinggi.

"Aku tanya .. apa yang kau lakukan di sini?!"
Bentak Yoongi merasa di abaikan .

"Sudah tentu untuk mengistirahatkan diri. Kau fikir ?"

Yoongi melotot .

"Apa maksudmu ? Aku tak mahu sekamar dengan kau !"

Jimin terkekeh sumbang sambil mengeratkan lagi ikatan tali jubah mandinya. Lalu berjalan ke tempat tidur dengan langkah santai , membuat Yoongi langsung bangkit dari sana dengan tatapan mengancam.

"Apa pilihanmu ? Di sini cuma ada 2 kamar."
Jimin menyeringai sambil menatap Yoongi.

"Kenapa ada dua bilik saja ?!" Yoongi mengeraskan intonasi suaranya , membuat Jimin mendesis malas .

Sudah jelas Yoongi tidak akan sudi sekamar dengan Park Jimin , yang dia lakukan sekarang ialah mempersoalkan bilangan bilik tidur dalam apartement baru mereka.

"Cukup, Yoongi.. kau akan membuat para tetangga mengetuk pintu rumah kita kerana suara berisikmu yang mengganggu ketenteraman mereka..." Ucap Jimin sekadar bualan . Sudah tentu kamar mereka sudah di lengkapi dengan dinding kedap suara.

Jimin memandang Yoongi penuh makna, membuat Yoongi berlipat dada sambil mengerling malas.

" ...lagipun , apa yang kau persoalkan ? Ada yang kurang dengan kamar ini... atau kau mahu ibumu sekamar dengan kita ?"

Yoongi tertawa kering sambil menatap Jimin remeh.
"Kita ? lucu sekali kata  yang kau gunakan ..."

Intonasi mengejek dalam suara Yoongi tidak lepas dari telinga Jimin . Seharusnya Jimin ingat , betapa Yoongi sering menjelma sebagai gadis pembangkang yang tidak akan pernah menuruti setiap perkataannya.

"..kau fikir aku sudi sekamar dengan kau?!" sambung Yoongi sengit. Berwaspada tatkala Jimin bangkit dan hendak berjalan mendekatinya .

"Kau fikir kita berada dalam drama kekanakan , yang menikah kerana terpaksa dan tak tidur sekamar..hm Yoongi ?"

Suaranya merendah, matanya berkilat aneh . Tercetak seringai tajam di bibir tebalnya , mengirim tanda awas bagi Yoongi.

"Terpulang pada kau. Malam ini aku tidur dengan ibu aku !"

Yoongi menghentak kakinya dengan geram kemudian beranjak pergi dari tempatnya berdiri menuju pintu keluar kamar.

Jimin menghentikan langkah , mengangkat bahunya acuh. "Silakan..kupastikan kamu akan ketuk pintu kamar ini."

Bastard ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang