2.3 The Right Hand: We Will

546 89 10
                                        

Warning: YAOI, Messy Writing, OOC, Typo.

.

.

.

"Lucas?"

"Nanti," gumam Lucas masih betah memeluk Kun. Tangan kirinya melingkar di pinggang Kun, dan tangan kanannya berada di piano. Kun sendiri gemetar saat membimbing tangan yang bebas itu untuk menekan tuts piano. "Masih ingat nada ini?"

"Blue and White Porcelain," jawabnya. Dagunya ditaruh di pundak sempit Kun, dia sangat suka kegiatan intim begini. "Kau selalu memainkannya dulu, tentunya aku hafal."

"Benar, semua masih sederhana," kata Kun. Dia menaruh tangan Lucas di sampingnya, dan tangannya sendiri mengusap lututnya pelan. "Sekarang semua berubah," gumamnya. Lucas menyadari nada sedih itu, lalu menggenggam tangan Kun. Dia ikut mengusap lutut Kun yang takkan bisa bergerak semaunya, lumpuh.

Kediaman keduanya berlangsung lama, bahkan Lucas takkan percaya bahwa dia bisa sediam ini sekarang. Dia bawel, suka bertingkah dan bukan tipe orang tenang. Sejak dirinya mulai mengambil alih bagian kotor perusahaan Qian, dia benar-benar berubah 180 derajat.

"Aku ingin keyboard," kata Kun tiba-tiba, seperti tidak nyaman dengan keheningan dan keintiman dengan Lucas. Tentu saja Lucas sudah memprediksi ini, tapi dia tetap bertanya. "Kenapa? Memang tuan muda sudah bosan pada piano ini?"

Kun menghela nafas halus, sangat halus sampai-sampai Lucas nyaris tak mendengarnya. "Jangan memanggilku tuan muda lagi, aku aneh mendengarnya. Dan aku tak bosan dengan piano, justru dengan keadaan begini aku susah memainkannya. Lagipula kau pasti capek memangku-ku terus," katanya panjang lebar. Kelihatannya Kun sudah berhasil menekan ketakutannya dengan sempurna, benar-benar suatu kemajuan.

"Aku tak capek, lagipula ini satu-satunya kegiatan yang hanya kita berdua yang bisa melakukannya. Jangan sungkan kalau ingin meminta bantuanku," bujuk Lucas. Karena hanya dia yang bisa menggendong dan memangku Kun dalam waktu lama, Lucas suka perannya yang seperti itu. "Kau masih sedih karena kakimu?"

Kun tertunduk, dan Lucas yakin pandangan menyedihkan Kun terarah ke kakinya. "Kau tahu kan, kami semua melakukan ini untuk melindungimu?"

Perkataan itu tidak membuat Kun bergerak, dia masih tertunduk. "Aku tahu," jawabnya pelan.

"Aku mencintaimu," bisik Lucas sambil mengecup leher Kun. Kun tampak berjengit sebelum menjawab. "Aku juga..."

.

.

.

TBC

Benar, Kun di sini lumpuh :') kasihan kakak Panda yang satu ini.

Fratres ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang