بســـم الله الرحمن الرحيم
Jangan lupa ambil hikmah nya🌼***
Athalla yang baru saja pulang dari supermarket bersama mamanya kembali bergegas menuju rumah sakit. Baru saja Raisa mendapat telepon dari pihak rumah sakit bahwa putri semata wayangnya kecelakaan, mendengar kabar itu Raisa panik. Daud--papa Zahra, yang sedang di luar kota bergegas pulang untuk melihat keadaan putrinya. Juga, ada sesuatu hal yang penting yang akan dibicarakan malam ini.
"Bang, ruangnya dimana ini??" Raisa menggenggam tangan Athalla sambil terus menangis memikirkan putrinya.
Athalla menghapus air mata Raisa, "mama tenang dulu.."
Athalla kemudian menangkap sosok Ahqaf yang sepertinya juga sedang khawatir dengan keadaan sepupunya Akilla. Athalla pun membawa Raisa untuk bergabung bersama Ahqaf, Dina dan Ilyas--abi dan umi Akilla.
Dina yang melihat kedatangan Raisa pun berpelukan, mama Zahra dan umi Akilla ini memang sudah bersahabat dari masa putih abu-abu, begitu juga dengan papa Zahra dan abi Akilla yang merupakan kakak kelas dari Raisa dan Dina dulu.
"Dok, bagaimana keadaan adik saya?" Athalla bertanya pada dokter yang baru saja ditangani oleh dokter.
Ahqaf yang mendengar hal itu pun bertanya hal yang sama, sedangkan Raisa, dan Dina sudah di bawa Ilyas ke kantin agar mereka sedikit tenang, disana juga sudah ada Daud yang baru saja tiba.
Dokter tersebut membuka kacamatanya, "kondisi Akilla tidak terlalu parah, hanya ada beberapa luka di tangannya. Zahra terkena sedikit benturan di kepalanya karena dia duduk di belakang motor saat itu, jadi mungkin dia lebih terluka. Kepala Zahra sudah di perban, kalian bisa tebus obatnya di apotik dan bisa segera ke administrasi.."
Athalla mengangguk kan kepalanya, "apa sudah bisa di bawa pulang hari ini dokter?"
"Sudah, kalau begitu saya permisi.."
Athalla dan Ahqaf pun masuk ke dalam ruangan, Athalla menghampiri Zahra yang sedang memainkan handphone nya.
"Dek, kepala nya masih sakit?" Athalla memegang kepala Zahra yang diperban.
"Ya sakit lah bang, kalau gak sakit mana mungkin di perban.." cibir Zahra.
"Iya iya.." Athalla mengelus kepala Zahra.
"Eh Atha.." Ahqaf menepuk pundak Athalla.
Zahra yang melihat Ahqaf di depannya langsung menundukkan kepalanya, pipinya pun langsung mengeluarkan rona merah. Malu dan gugup, itu yang membuat jantungnya berdegub kencang.
"Ada apa Qaf?" Athalla berbalik menatap sahabatnya.
"Aku balik duluan ya, itu Akilla juga udah di luar sama abi umi. Untuk Zahra, syafakillah.. Assalamualaikum,"
Athalla mengangguk, "Fii amanillah, semoga Akilla cepat sembuh juga.. Waalaikumussalam,"
"Waalaikumussalam," gumam Zahra pelan.
Setelah Ahqaf menghilang dari penglihatan Zahra, Zahra pun merengek untuk segera pulang pada Athalla, Zahra tidak ingin terlalu lama mencium bau obat-obatan seperti ini yang membuatnya pusing.
Athalla pun menuntun adiknya ke dalam mobil, sudah ada Raisa dan Daud yang menunggu. Awalnya, Athalla ingin menggendong Zahra karena kondisi Zahra masih lemah. Namun Zahra sangat keras kepala tidak ingin digendong, malu katanya.
Daud pun menjalankan mobilnya, "Dek? Kok bisa kecelakaan?"
Raisa yang mendengar itu memukul pelan lengan suaminya, "ih pa, adek masih lemah kok ditanyain.."
Daud menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "bukan gitu ma, papa kan pengen tau.."
Zahra terkekeh melihat kedua orang tuanya, Zahra pun menceritakan seluruh kejadian yang terjadi, Athalla pun ikut menyimak.
Raisa berbalik ke belakang menatap putrinya, "lain kali hati-hati ya sayang.."
Zahra tersenyum, "siap mama.."
Handphone Zahra berdering memperlihatkan satu pesan dari aplikasi berwarna hijau, line.
Azkaalfatih
Ra, aku dengar kamu kecelakaan?Read.
Dari mana dia tau kalau aku kecelakaan? Batin Zahra, Zahra hanya berniat membaca pesan Azka. Tidak lama kemudian handphone nya kembali berbunyi.
Azkaalfatih
Zahra
Zahraa jangan di read doangg
Oii raaa
Raaaa
Heloo
HaiiZahratunnisa
Assalamualaikum, salamnya mana?Azkaalfatih
Waalaikumussalam,hehe. Jadi bener kamu kecelakaan?Zahratunnisa
HmAzkaalfatih
Kamu gak apa-apa kan? Akilla kecelakaan juga kan? Kalian gak apa-apa?Zahratunnisa
Gak, ya, gak. Kamu tau dari mana?Azkaalfatih
Dari Akilla. Terus aku tanya sama kamu hehe.Zahratunnisa
Oh.Azkaalfatih
Cuek amat neng_-
Btw, minta nomor WA kamu dong ra, masa aku cuma dikasih id line sama kamu.Zahratunnisa
GkAzkaalfatih
Jangan cuek gitu lah neng, ntar gaada yang mau loh..Zahratunnisa
Hmazkaalfatih
Hehe, canda.Read.
Zahra langsung menonaktifkan handphone nya. Zahra tidak memberi nomor handphone nya ke lelaki manapun, di kontak whatsapp nya hanya ada beberapa kontak lelaki, yaitu papanya , abangnya dan sepupunya. Sepupunya pun dia simpan karena paksaan mamanya, "adek kok gak simpan kontak WA sepupu sih. Ayo simpan?! Masa gitu sama saudara sendiri.." perkataan mamanya masih terngiang.
Khusus untuk lelaki di sekolahnya, terutama teman sekelas, Zahra sengaja membuat akun line. Grup kelas mereka juga dibuat di akun line, jadi Zahra merasa lega dia tidak harus membagi-bagi nomor whatsapp nya.
Membuat akun line pun sebenarnya Zahra malas, cuma karena mengingat takut ada hal yang penting di grup dan dia tidak tau, kan bisa gawat.
Zahra merebahkan kepalanya di pundak Athalla yang sedang muroja'ah hafalan nya, Zahra menutup matanya menahan nyeri yang sedikit sakit di kepalanya.
🌼Bersambung🌼
Alhamdulillah wasyukurillah..
Jangan lupa vote dan comment :))Jangan lupa baca Al-Qur'an🌼

KAMU SEDANG MEMBACA
Takes You To Jannah [HIATUS]
SpiritualJUDUL AWAL: "KUTIKUNG NAMAMU DI SEPERTIGA MALAMKU" بســــم الله الرحمن الرحيم Ujian hidup adalah hal yang harus dilalui oleh setiap makhlukNya. Allah swt memberi ujian hidup, karena Dia ingin mengetahui seberapa sabar dan kuat makhlukNya dalam mengh...