The pilot is my world, and I can't just leave it
--Untukmu, Pelengkap Imanku---------------------
Hari masih terlalu pagi ketika Vania kembali mengungkit masalah yang selama ini aku tak ingin memperdebatkannya, hampir setiap hari Vania memintaku untuk melepas ini semua, tapi aku tidak bisa. Ini semua sudah menjadi bagian dari kehidupanku. Aku tak bisa melepaskannya begitu saja.
"Mas nggak bisa, Van. Pilot sama Mas udah gak bisa dipisahin lagi, Mas mohon, kamu mau ngertiin Mas," pintaku lembut pada Vania.
"Ngertiin Mas? Aku udah sering ngertiin Mas, tapi sekali aja, mas gak pernah ngertiin aku! Aku takut Mas kenapa-napa. Udah itu aja, apa aku salah khawatir sama suami sendiri?" Ucap Vania sambil melenggang pergi ke arah dapur, mengerjakan apapun untuk melampiaskan amarahnya.
Selalu, selalu seperti ini setiap pagi, Vania yang selalu mendesakku untuk keluar dari dunia penerbangan membuatku semakin tak berdaya. Aku tahu apa yang Vania rasakan, dia takut hal yang terjadi sama Bara menimpa juga padaku, aku paham betul perasaanya. Menjadi seorang Pilot memang memiliki tanggung jawab yang besar, aku tahu itu, bahkan resiko terberatnya, kami seorang Pilot bahkan siap kehilangan nyawa sendiri saat bertugas. Karena memang itu resiko yang kami ambil.
"Van, dengerin Mas dulu," aku meraih tangannya, tapi dia melepas kasar tangangku dari tangannya.
"Mulai sekarang, terserah Mas aja! Aku gak peduli!" Katanya hendak melenggang pergi, aku mencekal tangannya lagi, dan langsung memeluknya erat. Jeda tiga detik, Isakan kecil keluar dari bibir mungil Vania.
"Aku itu cuma takut Mas kenapa-napa, aku gak mau kehilangan orang yang aku sayang untuk yang kedua kalinya, Mas... aku mohon, Mas ngerti..." lirihnya. Aku hanya bisa diam, mulutku seolah terkunci rapat ketika mendegar isakan itu, isakan yang bahkan aku tak ingin mendengarnya.
Oh Allah, maafkan hamba yang tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Vania, bahkan sekarang, hamba membuatnya meneteskan air mata.
Hatiku bagai teriris sesuatu yang tajam, aku benar-benar tidak bisa memilih salah satu diantara keduanya. Pilot dan Vania, dua hal itu adalah kehidupanku, aku tak bisa meninggalkan salah satunya.
"Mas kenapa diem aja?" Dia menatapku.
"Mas gak mau turutin permintaan aku?"
Aku masih diam.
"Mas, Jadi Pilot itu berbahaya, kenapa Mas gak milih profesi yang aman-aman aja, jadi pengusaha misalnya, kan Papa nya Mas punya perusahaan, Mas bisa ngelola itu. Aku mohon, tinggalin dunia penerbangan, aku mohon sama Mas... demi aku..." lirihnya lagi.
Oh Allah, apa yang harus hamba lakukan?
Aku menggenggam tangan Vania erat, matanya aku tatap lekat-lekat. Meskipun berat, tapi aku harus mengatakan ini pada Vania.
"Mas tau, kamu khawatir sama Mas, mas tau kamu gak mau terjadi apa-apa sama Mas. Kamu percaya kan sama Mas? Mas akan jaga diri baik-baik. Pasti. Karena Mas masih punya tujuan hidup yang belum Mas capai, yaitu bahagiain kamu sama anak-anak."
Jeda 5 detik.
"Jadi?" Todong Vania kembali.
Aku menghirup oksigen banyak-banyak, menjelaskan pada Vania harus dengan kepala dingin.
"Jadi gini,..." tanganku terulur mengelus lembut puncak kepala Vania.
"Mas minta maaf sama Vania, Mas bener-bener gak bisa keluar dari dunia penerbangan. Kamu tau kan kalo penerbangan adalah dunia kedua Mas setelah kalian? Jadi Mas mohon, jangan paksa Mas buat keluar dari dunia itu, Mas bener-bener gak bisa," mimik wajah Vania kembali berubah masam. Dia melepaskan diri dari cengkramanku.
"Terserah Mas aja! Aku gak peduli!" Katanya sambil melenggang pergi menuju kamar.
Aku hanya mampu mengusap wajah dengan tangan kosong, harus extra sabar menghadapi sikap Vania yang keras kepala bahkan hampir setiap hari. Yang aku takutkan adalah hubungan kami retak gara-gara hal ini, naudzubillah, aku tak ingin itu terjadi. Allah sangat membeci perpisahan. Dan aku tak ingin Allah sampai membenci kami.
Setiap kali Vania marah, aku berusaha menjadi penenang. Setiap Vania menjadi api, aku berusaha menjadi air untuk mendinginkannya. Semata-mata agar tak terjadi masalah yang lebih besar. Bahkan, sekuat tenaga aku akan mempertahankan hubungan ini.
Karena aku mencintainya, satu-satunya wanita yang selalu aku inginkan menjadi makmum atas shalatku. Bahkan sampai diakhirat kelak.---------------------
Tbc
Respon bagus, up cepet:")
And, ikuti aja dulu alur yang aku suguhan ya:")

KAMU SEDANG MEMBACA
Untukmu, Pelengkap Imanku
Romance"Selalu ada perjuangan disetiap keberhasilan, selalu ada lelah disetiap pencapaian. Seperti halnya profesi Mas yang amat menguras tenaga, hampir setiap hari keringat Mas bercucuran, tapi Allah memberi Mas obat atas semua lelah itu, Allah menurunkan...