the failed diet

852 90 11
                                    

Akhirnya Mark kembali menginjakkan kakinya di tanah Korea setelah satu minggu lamanya meninggalkan kota yang ia tinggali pada lima tahun terakhir. Sejak seminggu yang lalu, ia pulang ke Kanada untuk mengunjungi saudara-saudara dan teman-temannya yang sudah lama tidak ia temui semenjak ia sibuk dengan studinya di salah satu perguruan tinggi ternama yang Korea miliki. 

Setelah selesai mengambil koper bagasinya, lelaki berumur dua puluh tahun itu pun keluar dari pintu kedatangan internasional. 

"Makeuli!" 

Suara gadis yang ia rindukan pun akhirnya terdengar. Saat netranya menangkap sosok mungil yang ia rindukan, ia pun segera menghampiri gadis itu dan menariknya ke dalam sebuah pelukan yang hangat. 

Yah, meskipun setiap malam mereka berbicara melalui video call selama Mark di Kanada, tetapi Mark tetap rindu pada kekasihnya yang menggemaskan ini. Apalah arti sebuah video call  kalau Mark tidak bisa mencubit kedua pipi berisi Mina dan memeluk tubuh kecil yang selalu nyaman di dalam pelukannya. 

Sebuah usapan hangat Mark terima di bagian punggungnya. Si pemilik tangan hanya tersenyum simpul sambil memandangi wajah Mark. "Capek ya? Ayo kita pulang, aku udah pesenin taksi.." 

Mark hanya mengangguk dan membiarkan Mina membantunya untuk membawa tas ransel yang tadinya ia kenakan. Ia sendiri membawa koper bagasi dan menariknya ke arah taksi yang sudah menunggu dirinya dan sang kekasih. 

"Makeu kalo mau bobo, bobo dulu aja.. Nanti aku bangunin kalo udah sampe." Ucap Mina saat keduanya memasuki taksi. Mark menggelengkan kepalanya sambil melingkarkan kedua lengannya di pinggang Mina dan menarik tubuh sang gadis mendekat. 

"Gamau, masih kangen Mina." Jawab Mark sambil menggelengkan kepalanya lagi. Kalau begini, Mina bisa apa? 

Namun tubuh Mark mengkhianati dirinya. Ia pun tertidur tak lama setelah taksi mereka berangkat ke Seoul. Mina hanya terkekeh dan menyandarkan kepala Mark yang terantuk-antuk ke sandaran jok mobil agar Mark tidur dengan lebih nyaman. 


ℳℳ


Mark pun terbangun saat tubuhnya terguncang. Hatinya pun tenang saat ia melihat Mina-lah yang mengguncangkan tubuhnya dengan sengaja. "Udah sampe di apartemen kamu, ayooo!" Mina menarik-narik ujung lengan baju Mark. Sedangkan supir taksi? Menolak menjadi nyamuk, ia pun memutuskan untuk mengeluarkan barang Mark dari bagasi. 

"Kok gak gendong aku aja? Kamu kan kalo ketiduran selalu aku gendong." Tanya Mark sambil membuka pintu taksi dan bergerak keluar. "Mark, please deh! Aku kan gak seberat kamu!" Protes Mina sambil mendorong punggung Mark sedikit agar lelaki itu bergerak lebih cepat. Mark hanya tertawa dan mengucapkan terima kasih kepada supir taksi yang sudah membantunya. 

Keduanya pun segera berjalan masuk ke gedung apartemen yang Mark tinggali sambil membawa tas milik Mark. Mina terlihat sibuk dengan satu tangannya yang memegangi baju Mark, takut-takut lelaki itu masih mengantuk dan menabrak sesuatu sambil berjalan. Mark sendiri hanya tertawa kecil melihat kelakuan sang kekasih yang sangat perhatian juga menggemaskan. 

Sesampainya di ruangan milik Mark, Mina pun segera menaruh ransel yang semakin lama semakin terasa berat di atas sofa ruang televisi. Gadis itu pun segera berjalan ke dapur untuk mengambil air dingin dari kulkas dan dua gelas untuk dirinya dan Mark. 

"Mending kamu istirahat dulu deh." Usul Mina saat ia melihat Mark bersandar di sofa dengan wajah mengantuk. Mark menggelengkan kepalanya dengan cepat dan mengulurkan kedua tangannya ke arah Mina. 

"Masih kangen gembulku, sini." 

Kedua pipi Mina pun lantas memerah melihat isyarat Mark. Ia pun menaruh gelas dan botol yang berada di tangannya di meja yang berada di depan sofa dan duduk di samping Mark. Tanpa membuang waktu, Mark pun langsung memeluk tubuh mungil sang kekasih dengan erat. 

"Sayang, kok kamu ngecilin ya?" Tanya Mark sambil memandang wajah Mina. Ah, pipi gadis ini juga terlihat sedikit mengecil. Masa iya seminggu tidak bertemu akan merubah Mina sedrastis ini? 

Mina terkekeh. "Hehehe, diet aku kelihatan hasilnya!" 

Mendengar jawaban Mina, Mark melebarkan kedua matanya. "Kamu diet!? Siapa yang nyuruh??" 

"Gak ada.... Aku sendiri yang pengen, Mark..." Jawab Mina sambil menggembungkan pipinya sedikit. Ia keceplosan, harusnya tidak ia beberkan hal ini ke Mark. Mark sangat menghalangi Mina untuk diet karena ia sangat tak ingin kekasihnya itu justru sakit. Sudah sering Mina diet dan ujung-ujungnya selalu gagal. 

Mendengar jawaban Mina, Mark hanya menghela napas pasrah. "Kan udah aku bilang, kamu udah lucu, cantik, gemesin, dan manis meski gembil gini juga.." 

Mina pun menundukkan kepalanya. Mark mengucapkan hal itu terus-terusan untuk menghilangkan rasa tidak percaya diri yang sering muncul di diri Mina. "Aku gamau dibilang, pacar Mark yang gendut itu loh.." Jawab Mina lagi. 

Mark menangkup pipi sang kekasih, mengangkat wajahnya untuk melihat kedua mata yang mengingatkannya kepada seekor anak kucing. Gadisnya ini memang selalu menarik, cantik, dan menggemaskan dalam bentuk apapun. Hanya beberapa orang tidak mampu melihat hal-hal menarik dari Kang Mina dan berujung menghina gadis kesayangannya ini. 

"Jangan didengerin ya," Mark pun mendekatkan wajahnya untuk mengecup ujung hidung Mina dengan lembut. Wajah Mina semakin kemerahan karena perilaku Mark yang tiba-tiba dan sangat amat jarang lelaki itu lakukan kepadanya. 

"Nanti cokelat yang aku bawa, siapa yang makan..." Lanjut Mark lagi sambil menunjuk koper bagasinya. Mina menaikkan satu alisnya. 

"Kamu bawa cokelat dari sana!?" Tanya gadis itu dengan antusias. Mark mengangguk, tak kalah antusiasnya sambil melepaskan pelukan di tubuh Mina untuk menarik kopernya mendekat. 

"Dietnya nanti lagi aja ya, sayang? Kasian cokelatnya udah jauh-jauh jalan dari sana nggak dimakan." Mark membuka gembok yang mengikat ujung resleting kopernya dan segera membuka kopernya dengan mudah. 

Mina mengedipkan matanya dengan cepat. Mark memang selalu memiliki cara untuk menghentikan dietnya. Untuk mempertahankan panggilan gembul yang selalu membuat hati Mina bergetar saat mendengarnya- ah. Kekasihnya ini memang terbaik. 

Benar saja, di dalam koper Mark terdapat cukup banyak cokelat yang berbungkus plastik warna-warni. Kedua mata Mina langsung berbinar saat melihat isi koper Mark. Gadis itu memang penyuka cokelat dan mereka berdua sering melakukan kencan dengan pergi ke toko cokelat. 

"Coba yang ini." Mark mengeluarkan satu plastik besar dan mengambil satu cokelat yang terbungkus plastik berwarna biru. Mina pun mengambil cokelat itu dari tangan Mark dan segera memakannya saat sudah membuka bungkus plastiknya. 

Ah, cokelat dengan wafer. 

Mina mengangguk lalu mengacungkan satu jempolnya. "Enak!" Respon Mina. Mark pun mengambil plastik lain dan mengambil satu buah cokelat, kali ini berbungkus plastik berwarna merah. 

Hari itu pun akhirnya menjadi kencan cokelat Mark dan Mina lagi dan Mina sekali lagi menggagalkan dietnya karena cokelat dari sang kekasih. 


ℳ THE END ℳ


Short chapter lagi, maafkan. : (

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 03, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

the love around us | mark lee x kang minaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang