Gerbang Sma Wijaya sudah hampir ditutup, Bahkan sang satpam sudah berteriak menyuruh para siswa siswi yang masih berjalan untuk segera berlari sebelum gerbang itu ditutup oleh nya dengan sempurna, hingga tidak ada satu pun siswa atau siswi yang boleh masuk sebelum guru piket datang menjemput dengan tatapan tajam bak pisau dapur milik emak.
Namun, walau gerbang sudah hampir ditutup dan semua siswa berlarian dengan panik. Berbeda dengan lima siswi yang kini sedang berjalan dengan santai nya menuju sekolah, bahkan kelimanya tidak bisa dianggap sebagai pelajar, lihat saja rok pendek 10 centi diatas lutut, seragam ketat yang dikeluarkan, rambut berwarna warni seperti anak ayam, sepatu tidak hitam sesuai aturan sekolah dan tas yang terlihat tidak berisi, namun meski begitu mereka tidak memakai make up berlebih, wajah mereka cantik natural, tetapi rasanya tetap aneh bukan bagi kalian, jika kelima gadis itu bisa diterima dengan mudah, dan bahkan bisa bertahan dan tak dikeluarkan dari sekolah? Tapi itu bukan hal aneh lagi bagi siswa siswi disana, karena orang tua kelima gadis itu adalah donatur terbesar di Sma Wijaya.
Tapi tunggu, sepertinya tujuan mereka bukan ke gerbang utama, melainkan ke lorong sempit di belakang sekolah yang akan langsung membawa mereka kedalam sekolah dengan mudah, tepatnya area belakang kantin. Sebenarnya itu sudah menjadi kebiasaan dari kelas 10, pulang pergi mereka akan lewat jalan pintas yang menghubungkan pintu belakang sekolan dengan jalan sempit yang berjung di depan komplek perumahan mereka.
Juga jangan lupakan salah satu kebiasaan mereka yang tidak akan langsung masuk kedalam sekolah dan belajar, melainkan harus nongkrong dulu menghabiskan sarapan di warung Teh Dewi, yang berada tepat dibelakang gedung sekolah dan tak akan terjangkau oleh guru, bukannya tidak diberi sarapan atau bagaimana, namun kelimanya memilih untuk sarapan bersama saja dan menolak ajakan untuk sarapan di rumah.
"Teh Dewiii!" Panggil gadis dengan rambut di ombre ungu, tas biru muda tanpa isi, dan sepatu converse biru tua, yang dikenal dengan nama Keyla Gladisa.
"Teh! Aku mau roti bakar nya!" Timpal gadis dengan rambut di ombre pink, tas abu abu tanpa isi, sepatu converse putih, yang dikenal dengan nama Febina Claretta.
"Roti nya empat ya teh." Ujar gadis dengan rambut di ombre biru laut, tas merah yang berisi satu buku campuran, dan sepatu Sneakers pink, yang dikenal dengan nama Agatha Nesya.
"Susu putih nya teh." Ujar gadis dengan rambut di ombre hijau, tas pink tak berisi, dan sepatu sneakers merah, yang dikenal dengan nama Stephany Frastasya.
"Teh Dewi jual bubur ayam ya?" Tanya gadis dengan rambut di ombre merah, tas ungu tanpa isi, dan sepatu sneakers hijau tua, yang dikenal dengan nama Rebecca Salsaliza.
"Otak lemot lo pindah ke dia?" Tanya Keyla pada Febina sembari dagu nya menunjuk ke arah Rebecca. Sontak saja Agatha, Stephany dan Rebecca menoleh mendengar pertanyaan konyol itu.
Febina mengangguk. "Semalem dia pinjem." ucap Febina acuh tak acuh, pandangannya lurus pada ponsel di genggamannya. Entah sudah berapa cowok yang mengirimnya pesan 'guten morgen' pada gadis playgirl itu.
"Jangan lupa balikin." Sambung Febina mengingatkan Rebecca, membuat Keyla, Agatha dan Stephany menatapnya dengan muka cengo.
"Entar deh, kalo inget." Ujar Rebecca disertai kekehan nya.
"Eh, hari ini udah mulai pelajaran belum sih?" Tanya Agatha bingung sembari dirinya sibuk membuka satu satu nya buku yang ada di tas nya.
"Semoga aja belum...amin." Celetuk Stephany mengamini diikuti anggukan dari Keyla dan Rebecca. Karena pasalnya hari ini adalah hari keempat setelah dibukanya tahun ajaran baru, dan itu menandakan bahwa kelima cewek itu kini sudah berada di kelas 11.
"Jadwal nya belum dibikin juga kan?" Tanya Keyla.
"Sans aja...jangan dipikirin otak lo meledak entar." Celetuk Febina tiba tiba tanpa mengalihkan pandang dari ponsel ber case kartun minions.
"Kalem, Tenang, Kuasai" Ujar Keyla dengan gaya enjoy nya yang khas. Yaitu mata setengah merem, tangan digerakkan seperti mengusir ayam namun dengan gerakan lambat, juga senyum sinis yang tercetak dibibirnya.
"Yoi." Seru Rebecca.
"Udah udah...nih pesanan kalian dateng." Ujar teh Dewi memotong obrolan mereka dengan ditangannya sebuah nampan berisi satu piring berisi lima roti bakar dan juga lima gelas susu putih hangat favorit kelimanya untuk menu sarapan pagi.
"Yeay! Makasih teh." Seru Stephany.
"Sama sama, udah cepetan dihabisin, terus sana masuk kelas." Ujar teh Dewi mengingatkan.
"Iya teh." Balas Febina memutar bola mata nya malas.
"Beneran ya? Habis makan, langsung sekolah." Ujar teh Dewi sekali lagi memperingatkan.
"Iya teteh." balas Keyla dengan senyum yang dipaksakan.
"Yaudah, Teteh kedalem dulu." pamit Teh Dewi lalu kembali masuk kedalam warung nya.
"Lama lama si teteh kayak emak nya kita ya?" Ujar Agatha dengan senyum geli.
"Emak lo aja kali, gue punya emak sendiri kok dirumah." Ujar Febina sewot.
"Mulut lo minta di cabe nih lama lama." Ujar Keyla mulai gemas dengan mulut pedas milik Febina.
"Terong di cabein" Senandung Rebecca tanpa dosa. Membuat Keyla, Agatha dan Stephany menatap nya jengah, kecuali Febina yang malah tertawa terbahak bahak, padahal hal itu sama sekali tidak lucu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Bad Girls
Teen FictionKeyla, Agatha, Febina, Stephany, dan Rebecca. Kelima cewek yang terkenal dengan nama geng mereka, CMP. Salah satu geng tersohor di daerah Jakarta. Persahabatan mereka yang dimulai dari status tetangga, kini menjelma menjadi persahabatan yang sebenar...