Bandung, 23 Desember 2016
Rindang pepohonan di pelataran hijau sedikit mengelabui teriknya matahari pagi ini. Sesekali angin sepoi datang menyapu daun-daun yang berguguran. Bak es krim coklat yang dipadukan dengan vanilla dalam satu cidukan scoop, rasa manis pemandangan disekililingnya tergambar jelas di mata lelaki bertinggi badan 175 cm itu. Ia mereka-reka apakah musim gugur ataukah musim semi yang cocok menggambarkan udara pagi ini. Meski Indonesia tak terkecuali Bandung hanya memiliki dua musim yang keduanya pun tidak berada pada pilihan hatinya itu. Suasana pagi ini tak terlalu ramai maupun sepi. Beberapa mahasiswa lain tampak berseliweran nan sibuk mengurusi pekerjaannya masing-masing. Keluar-masuk ruang dosen di jurusan desain interior, jelas sekali para pejuang skripsi masih gigih berpacu dengan waktu menyelesaikan bimbingannya di hari-hari menjelang libur. Tak ada, tak ada libur bagi mereka yang ingin menutup semester ini dengan kelegaan atas tuntasnya tugas akhir.
Baju kebesaran angkatannnya yang memang benar-benar nyata besarnya cukup sanggup menenggelamkan lengannya. Hingga ia terpaksa menyingsingkan lengan baju ke arah siku, agaknya sedikit terlihat aneh, karena tipikal kemeja yang tebal dan seharusnya dipakai panjang sesuai fungsi desainnya. Celana jeans biru dongker berjodoh sekali dengan kemeja biru mudanya. Lengkap dengan sepatu kets putih yang sudah terlihat lusuh namun tak kumuh, ia mondar-mandir di depan ruangan bertuliskan 'Ruang Sidang'. Sesekali langkahnya sengaja terhenti untuk menenangkan gusar. Ia tujukan bola matanya menghadap ke pepohonan hijau itu, kemudian kembali merasa-rasa pahitnya hari ini bisa ditimpal dengan suasana pagi yang ia cicip manis.
Masih sibuk mengaduk-ngaduk rasa di pikirannya, tiga orang laki-laki bergerombol menangkap pundaknya dari belakang,
"WOI !", suara mereka serentak mengagetkan.
"Hadehh. Kaget gue", sambil mengelus-elus dadanya, si korban geleng-geleng kepala.
"Udah ga usah dipikirin, Man. Kan jadwal sidangnya diundur karena dosen pengujinya yang berhalangan hadir, bukan elu yang nggak siap", kata laki-laki berbadan besar di sebelah kanannya.
"Diundur minggu depan ya jadinya ?", sambut seseorang lagi disebelah kirinya.
"Iya.., apa boleh baut", jawab Hilman dengan mata yang mulai terlihat cerah. Kebiasaan Hilman mengubah kosakata tampaknya mampu jadi pemantik keceriaan lainnya.
"Ini baru sohib kita, harus hamasah ! Nggak rugi pokoknya kamu berteman sama aku, Man. Selama ada Hamas, kamu pasti selalu hamasah !", katanya bangga seraya mengambil posisi tegak lurus berhadapan Hilman.
Hilman hanya bisa senyum-senyum melihat tingkat percaya diri sahabatnya yang memang selalu tinggi itu.
"Hellehh.. Yu, elu semangat nggak kalo lagi dekat-dekat si Hamas ?", tanya laki-laki di sebelah kanan ke mengarah ke kiri Hilman.
"Behhh... bukan lagi, Dan...", jawab Wahyu dengan muka seakan-akan iya.
"Bukan lagi lesunya... jadi males-malesan gue", sambung Wahyu ngasal.
"Wih semprul.. itu mah dasar kamunya aja yang slow..", jawab Hamas tak mau kalah.
Keempatnya tertawa geli melihat kelakuan mereka sendiri. Masih dalam rangkulan Wildan dan Wahyu di kanan-kirinya, sejenak Hilman lupa atas kekelabuan hatinya hari ini. Betapa ia menyukai hari Jum'at, berharap setiap proses yang ia alami akan lengkap di hari raya kaum adam ini. Mulai dari seminar proposal ditambah seminar hasil yang ia laksanakan di hari Jum'at, harus rela dikurangi dengan sidang komprehensif skripsinya yang jatuh pada hari berbeda.
"Jadi pastinya tanggal 27 ya, Man ?", Wildan memecah suasana.
"Iya, hari selasa. Doain aku sukses ya. Padahal deg-degannya kemarin udah mulai hilang. Sekarang jadi deg-degan lagi", kata Hilman masih senyum-senyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
You
Romance"Lambat laun, dia akan berlabuh jua. Mendekat pada tepiannya. Merapat pada dermaganya. Jika aku berhak memilih, maka kau akan jadi labuhan terakhir bagi perahu ini. Aku temukan kau dermaga benderang di antara temaram. Semoga bukan sekedar mimpi di s...
