Sebagai seorang pria yang pernah ditemani hidup dengan tiga orang wanita sekaligus, Pram sudah sangat terbiasa dalam hal tunggu-menunggu. Ibu sudah selesai, ia menunggu Nita dan Nissa. Nitta sudah selesai, ia masih harus menunggu Ibu dan adiknya. Nissa sudah selesai...
Ah.. cukup ! Ia tahu betul tipikal adik bungsunya yang perfeksionis nan insecured. Memilih baju saja bisa memakan waktu hingga setengah jam. Sering kali Pram memanggil adiknya setengah teriak dari luar kamar,
"Niss... Udah selesai belum ?", wajahnya yang telah disetrika harus rela kembali kusut.
"Bentar Mas...", jawab Nissa dari dalam.
Pram memang mas-mas sejati, semakin bertambah usia kedewasaannya senantiasa bertumbuh. Anak laki-laki sulung Ibu Lani ini memang terkenal sangat sabar. Tidak banyak bunyi, Pram selalu punya cara tersendiri mendidik kedua adik perempuannya. Nissa selalu bertanya-tanya Mas nya ini makan apa dulu sewaktu kecil, mereka hampir tidak pernah bertengkar. Bukan karena Mas Pram yang selalu mengalah, melainkan kakak laki-laki satu-satunya itu yang selalu bisa mengendalikan dan menempatkan emosinya agar tak teraduk dengan suasana. Dalam hal ini, Pram bisa mengerti perasaan orang lain tanpa harus bicara. Sensitifitas hatinya terbiasa peka, namun ia menolak terhanyut sendiri.
Berulang lagi tunggu-tungguan itu, Pram masih membayangkan wajah Nissa terburu-buru keluar dari kamar menemuinya di teras rumah saat akan menghadiri resepsi pernikahan sepupunya. Marahnya kembali batal, wajah adiknya itu terlalu manis untuk dikesali. Ditambah cengiran maut, ia hanya bisa tertawa kecil melihat adik bungsunya itu.
Salah-salah lamunannya bisa merusak mentalnya sendiri. Pram mendapati dirinya yang sedang senyum-senyum sedikit terpingkal. Sambil melihat kanan kiri, ia membangun kesadarannya, ada yang sedang memperhatikan tingkahnya atau tidak. Mungkin Pram sudah terlalu rindu.
"Lama ya Mas ?", tanya seorang wanita berparas ayu menghampirinya.
"Nggak... Nggak kok...", jawab Pram santai.
Seraya beranjak dari kursi di teras rumahnya,
"Nggak salah lagi...", lanjutnya sambil tertawa kecil.
"Maaf deh Mas...", rayu istrinya sengit memegangi tangannya.
"Aduhhh... untung sayang...", kini keduanya terbahak, sembari menuju kendaraan roda empat mereka.
Perjalanan menuju rumah ibu memang tidak akan menjadi pulang kampung bagi Pram. Beruntung setelah menikah ia mendapatkan hunian di Kecamatan Beji, tidak terlalu jauh dari Ibu yang menetap di Pancoran Mas. Masih sama-sama di Depok, pikirnya saat membeli rumah kala itu. Bukan hanya Nita dan Nissa, Pram adalah harta paling berharga pertama Ibu Lani. "Anak laki-laki paling gagah", Ibu selalu menyanjungnya yang memang mewarisi wajah tampan sang Ayah.
Sejak umur 15 tahun, Pram sudah harus berbesar hati melepas kepergian Ayah menghadap sang Khaliq. Adalah tempaan kualitas diri yang ia terima di masa-masa sulit itu. Pram menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan kasih Ibu benar-benar tak terhingga sepanjang masa. Keadaan memaksanya menjadi imam bagi Ibu dan adik-adiknya. Sedari kecil Pram bercita-cita menjadi pilot, namun asanya seketika terhenti saat Ayah dikabarkan meninggal dunia pada kecelakaan pesawat. Batu pondasi yang ia bangun, rubuh sudah. Pram sempat bermimpi menerbangkan pesawat dengan Ayah sebagai co-pilot-nya. Benar saja, mimpi hanyalah mimpi, tanpa daya ia menjadi misteri. Atas kekalutan yang sedemikian rupa itu, Pram membuka lembaran baru.
Berbulan-bulan ia mendapati Ibu pergi dengan amplop coklat dari satu kantor ke kantor lain. Setelah belasan tahun membina rumah tangga, untuk pertama kalinya Ibu menggunakan ijazah ahli madya-nya demi mengejar mata pencaharian baru. Meskipun keluarga besar Ayah maupun Ibu tidak pernah lepas tangan, wanita itu juga tidak mau membiarkan dirinya sendiri terus duduk manis memangku tangan. Ibu mengandalkan jaringannya, pucuk dicinta ulam tiba sinyal itu cukup kuat mengantarkan Ibu pada pekerjaan baru di suatu perusahaan swasta.
KAMU SEDANG MEMBACA
You
Romance"Lambat laun, dia akan berlabuh jua. Mendekat pada tepiannya. Merapat pada dermaganya. Jika aku berhak memilih, maka kau akan jadi labuhan terakhir bagi perahu ini. Aku temukan kau dermaga benderang di antara temaram. Semoga bukan sekedar mimpi di s...
