TMtB : 2

19 4 0
                                    

'tok tok tok'

Suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu kamarnya membuat Senjani yang sedang membaca buku segera menoleh ke asal suara.

Saat ia hendak membukanya, namun sudah terlebih dahulu dibuka oleh sang empu pengetuk pintu. Dan terlihatlah wanita paruh baya yang sangat dikenalnya. Dia tersenyum lembut ke arah Senjani.

"Jani." panggil ibunya.
"Apakah ibu boleh masuk?" Ibunya kembali mengucapkan sepatah kata untuk meminta izin kepada sang pemilik kamar.

Senjani tersenyum menahan tawa.
"Apa ada larangan untuk ibu jika tidak boleh masuk ke kamar Jani? Tidak ada bu, mari masuk." Jawab Senjani setengah bergurau.

Sekejap, Senjani melihat raut cemas yang terpatri dalam paras cantik ibunya. Namun, dengan sekejap pula ibunya mengembalikan raut wajahnya dengan senyuman secerah mentari.

Entah apa yang ibunya pikirkan dan entah apa yang akan ibunya bicarakan, tapi sepertinya ibunya datang untuk mengutarakan kegundahannya itu.

"Em, Jani? Ad-ada yang akan ibu bicarakan. Ibu sudah mengatakannya tadi bukan?" Ungkap ibunya dengan kegelisahan yang jelas.

"Baiklah bu, Senjani sudah siap mendengarnya" Balas Senjani dengan senyuman.

Ayma terlihat ragu, namun sepertinya ini benar benar hal yang penting.

"Sebelumnya ibu mohon kamu jangan terkejut dengan pembicaraan ini. Mungkin ini adalah hal yang tidak pernah kamu ketahui. Dan kamu juga tidak akan pernah menduga hal ini. Jadi ibu harap kamu bisa menerimanya dengan baik. " Ucap ibunya sembari mengusap puncak kepala Senjani yang tertutupi kain hijab.

"Jani tahu, ada hal yang ibu cemaskan. Dan mungkin arah pembicaraan ini lah yang membuat ibu seperti ini. Bagaimana? Tebakan Jani benarkan?" Ucap Senjani dengan tenang. Namun dalam hatinya ia merasa takut. Sungguh, entahlah perasaannya mengatakan hal ini sangatlah amat penting bagi hidupnya.

Sebelum ibunya kembali mengucapkan sepatah kata, ada air mata yang menetes keluar dari kelopak matanya.

"Bapak sudah pergi 2 tahun yang lalu, dan ibu belum mempunyai banyak keberanian untuk membicarakannya denganmu Jani, hati ibu rasanya berat sekali. Bahkan jika ibu bisa memilih, bu lebih memilih untuk tidak mengatakannya kepadamu. Tapi, ibu sudah diberi amanat oleh Bapak untuk mengungkapkan semua kebenarannya kepada kamu."

Ayma semakin terisak, rasanya tak mampu lagi ia berkata-kata.
Namun akan sampai kapan ia menyimpan kebenaran ini?

"Ibu, insaallah Jani siap kok menerimanya, jadi ibu tak perlu khawatir." Perkataan Senjani seolah menyemangati hati ibunya yang meragu.

"Jani, orang tua yang kamu sebut sebagai ibu dan bapak, sebenarnya... Sebenarnya"ucapan ibunya terhenti.

"Sebenarnya apa ibu? Katakan." Ucap Senjani tidak sabar.

"Sebenarnya...  Bu-bukanlah orang tua kandung kamu. Ka-kami hanyalah pengasuh kamu. Yang diberi amanat untuk nenjaga kamu sampai dewasa. " Pernyataan telak yang membuat Senjani terdiam terkejut bukan main.

'aku... Aku? Maksudnya mereka bu-bukan orang tuaku? Jadi? Jadi orang tuaku siapa? Dimana mereka?'

"Jadi ibu, siapa orang tuaku?"

"Orang tua mu bernama Harvan Domsir dan Melina Domsir. Me-mereka adalah majikan ibu dan bapak saat kami masih di Yogyakarta." Jelas ibunya dengan senyum terpaksa, masih terlihat jelas air mata yang mengalir di matanya.

"Lalu bagaimana bisa aku bisa ada diantara ibu dan bapak? "

Suara tarikan nafas terdengar jelas, yang berasal dari ibunya.
"Pada 25 tahun lalu, orang tuamu menikah atas dasar perjodohan, mereka tidak saling mengenal apalagi saling mencintai. Mereka menikah atas dasar keterpaksaan. Satu dua tahun berlalu dengan pertengkaran mereka. Hingga ibumu mengandung kamu. Hubungan mereka sempat membaik, tetapi saat kamu lahir semua berubah kembali seperti sebelumnya. Ayahmu menduga bahwa kamu bukan darah dagingnya, dan menganggap kamu adalah anak hasil perselingkuhan ibumu dengan bapak. Ibumu dengan ibu sungguh tersiksa. Ibumu tersiksa karena ayahmu tidak mengakuimu. Dan ibu tersiksa karena bingung, apakah benar kamu anak dari hasil perselingkuhan itu? Hingga akhirnya ibumu menyerah, beliau menyerahkan kamu kepada ibu dan bapak untuk kami rawat. Beliau juga telah menjelaskan bahwa tak ada hubungan apapun dengan bapak. Dan pada saat kami hendak pulang kampung, ibumu ditemukan tewas terbunuh. Dan ayahmu lah pelakunya."

Setelah menceritakannya ada rasa lega dan khawatir yang menyelimuti ibunya. Lega karena semua sudah terungkap. Khawatir karena takut Senjani tidak bisa menerimanya.

Ibunya menoleh ke arah Senjani untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja. Namun dugaannya salah Senjani sudah terlebih dahulu mengeluarkan air matanya. Bahunya pun terguncang, seakan-akan ini memang sangat mengejutkan untuknya.

"Ja-Janj, kamu harus bersabar ya nak, maafkan ibu sudah memberitahukan ini kepada kamu. Sungguh jika ibu mempunyai pilihan. Ibu tidak mau mengatakannya." Ucap ibunya ikut tersedu dengan Senjani dalam pelukan eratnya.

Setelah merasa dirinya tenang, Jani melonggarkan pelukannya.
"Ibu, apakah ada foto kedua orang tua kandung Jani? Jani ingin melihatnya. "

Tanpa sepatah kata ibunya melenggang pergi keluar kamarnya. Meninggalkan dirinya seorang diri dengan termenung. Tak lama ibunya kembali dengan menenteng sebuah lembar foto. Dan menyerahkannya dengan ragu ke arah Senjani.

Senja melihat foto itu dengan seksama. Memperhatikan paras ibunya yang begitu manis dalam balutan gaun malam. Dan ia juga memperhatikan wajah ayahnya yang mirip seperti dirinya, kini ia mengerti dari mana ia mempunyai mata setajam elang ini. Ternyata dari ayahnya.

"Dan ini surat dari Bapak untuk kamu Jani" ibunya menyerahkan selembar kertas usang yang Senjani yakini sudah tersimpan begitu lama. Ia pun menerimanya dan langsung membukanya.

'Untuk Putri satu-satunya yang bapak sangat cintai dan sayangi
-Senjani

Nak, bapak yakini ketika kamu membuka surat ini berarti kamu sudah  tau kebenaran tentang hidupmu. Maafkan bapak, selama bapak hidup, bapak tidak pernah berani menceritakannya kepadamu.

Bukan bapak takut kamu membenci bapak, tapi bapak lebih takut kamu merasa sedih. Bapak terus menyembunyikan hal ini rapat-rapat untuk menjaga hati kamu nak. Sungguh. Itu lah alasan bapak.

Nak, sudah saatnya kamu menemui ayahmu yang masih hidup. Temuilah dia. Dan katakan kata Fatih saat pertama kamu berjumpa dengannya. Dan pasti dia langsung menerimamu.

Ada hal yang tidak pernah seorang pun tahu. Kecuali ayahmu, bapak dan Allah. Tanya lah kebenaran yang sebenarnya.

Jangan benci kami ataupun dia nak, berlapang dadalah, dan bapak yakin Allah akan selalu meridhoi langkahmu.

Ah ya satu lagi, keluarga kandungmu sebenarnya berdeda agama denganmu. Dan bapak harap kamu bisa menerimanya dan tetap menjaga dengan baik keimananmu kepada Allah.
Sekian pepatah dari bapakmu ini.
Alamat rumah ayahmu ada tertera dibalik surat ini.

Dari bapak tercinta Senjani -Fatir.'

Setelah membacanya, Senjani membalikan surat itu dan melihat alamat yang tertera disana. 

'haruskah aku? Apakah aku sanggup melihat ayah kandungku? '

"Temui ayah kandungmu Jani, turuti wasiat bapakmu." Ucap ibunya ketika melihat anaknya terdiam sambil melihat alamat itu.

"Ibu, haruskah Jani melakukannya? Ja-Jani... Jani tidak sanggup bu. " balas Senjani ragu.

"Kata bapakmu, ada hal yang tidak ibu tau dan orang lain tau, jadi cari tau lah semua itu. "

Senjani terlihat terdiam seperti mencerna apa yang barusan ibunya katakan.

"Baiklah bu, Jani akan pergi besok. Dan Jani mohon doanya bu. Sebenarnya hati Jani takut bu. " Putus Senjani dengan ragu.

"Senjani. Dengarkan ibu, kamu adalah anak ibu yang paling kuat dan pemberani. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Dan insallah doa ibu akan selalu menyertaimu. " Seulas senyum kecil terukir di bibir Senjani. Menandakan bahwa ia sudah bertekad dengan yakin.

*****


Jan lupa vomentnya ya.. 

Maaf kalo banyak typoo, Ynna udah berusaha semampu Ynna untuk ga ada typo. Tapi ya dasar Ynna nya aja yang ga teliti. Jadi. Mohon d maklum ya...

Tuntunan Malaikat tak Bersayap [Revisi!!]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang