“Ah … kakak itu sudah sadar!”
.
.
.
“Yang benar?”
.
.
.
“Lihat, matanya terbuka!”
.
.
.
Ugh … apa … yang terjadi padaku?
Aku mengerjap kembali, sejenak silau menusuk mataku yang awalnya terselimuti oleh kegelapan. Perlahan realita semakin menjadi jelas, dan akhirnya kudapati mataku menangkap pigmen yang mendominasi objek awalku.
Putih.
.
.
.
"Kamu baik-baik saja? "
Indra pendengaranku mulai bekerja, aku menoleh ke samping menuju sumber suara.
"Kakak cantik ... kakak nggak apa-apa? "
Objek terdekat dari mataku adalah seorang anak kecil yang memandangiku dengan iris coklatnya. Tangan kecilnya mencengkram suatu besi panjang di dekat tempatku berada. Menyadari hal itu, indra perabaku kembali bekerja dan bergerak dari posisi awal.
"A-ah .... "
"Kakak jangan bergerak dulu! " Tangan kecil anak itu menyentuh tanganku dan menggenggamnya hingga terasa hangat di kulitku. "Tiduran saja dulu! Papa, kakak ini sudah sadar betul! "
Ada apa denganku? Siapa dia?
Ketika nyeri di kepala tersisa, aku kembali meringis dan meraba kepalaku. Terasa tekstur yang agak kasar di tempar jariku mendarat, sesuatu menempel di dahiku.
"Ada yang sakit? "
Seorang lelaki muncul kemudian, tepat di belakang anak kecil yang ada di dekatku. Wajahnya cerah dengan iris coklat sedikit biru terlindung oleh kacamata berbingkai minimalis. Dengan jas putih panjang yang dipakainya, pigmen putih yang kulihat semakin mendominasi di ruangan ini.
Aku menggeleng pelan, mencoba untuk duduk lebih nyaman namun kenyataannya otot-ototku menolak keinginanku. Rasanya masih pegal dan kepalaku sejenak berputar-putar. Nyeri kembali terasa di sana.
Pria itu membantuku duduk dengan bantal, sementara aku masih memutar otak untuk meresapi kenyataan yang ada.
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Oke, sepertinya kamu sudah baikan. Saya tidak bisa bilang apa-apa selain bersyukur kamu masih hidup. "
Aku mengerjap cepat, kemudian merapa kepalaku lagi. Tunggu, ini membuatku bingung. Kenapa beliau bisa berkata begitu? Aku tidak tahu apapun yang terjadi.
"Me-memangnya saya kenapa Pak? " akhirnya aku melontarkan pertanyaan yang sedari tadi mengangguku.
Pria itu sejenak diam, dia mengambil sesuatu dari meja tak jauh dari tempatku duduk. Setelah itu beliau kembali duduk di sampingku. Menarik napas, apa yang dikatakannya sejenak membuat jantungku serasa berhenti berdetak.
"Kamu tadi ditabrak truk dan terpental agak jauh, pendarahan di kepalamu nyaris mendatangkan kemungkinan terburuk ... tapi sungguh keajaiban kamu bisa sadar sekarang. "
Tertabrak truk?
Aku tertabrak truk dan terluka? Sungguhan?
"Ya-yang benar? "

KAMU SEDANG MEMBACA
Death Curse
ParanormalKetika kutukan ditanamkan, bagaimana cara kabur darinya? Ketika terasa kematian yang menyakitkan, bagaimana cara untuk tetap bertahan? Tersisa waktu sepekan, ketika tanda kutukan berwarna ruby, maka nyawamu harus dikorbankan. "Live ... or ... Die...